Back to Bali – 05 Mei 2026 | Jakarta, 5 Mei 2026 – Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan sekitar 1% pada perdagangan Selasa, dipicu oleh perkembangan terbaru di Selat Hormuz setelah Iran melancarkan serangan terhadap beberapa kapal tanker.
Penurunan Harga dan Data Pasar
West Texas Intermediate (WTI) tercatat pada level USD 104,88 per barel pada pukul 22.36 GMT Senin (4/5), turun sebesar USD 1,54 atau sekitar 1,5 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Penurunan ini menandai berbaliknya tren kenaikan tajam yang sempat melambung lebih dari 6 persen pada perdagangan Senin setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan operasi militer untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Latar Belakang Ketegangan di Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur penyeluruhan utama bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Pada hari Senin (4/5), unit militer AS mendampingi sebuah kapal pengangkut kendaraan berbendera Amerika yang dioperasikan oleh unit Farrell Lines, bagian dari Maersk Alliance Fairfax, berhasil melewati selat tersebut. Keberhasilan ini menurunkan kekhawatiran pasar mengenai gangguan pasokan jangka pendek.
Namun, serangkaian serangan yang dilaporkan pada kapal komersial serta kebakaran di sebuah pelabuhan minyak Uni Emirat Arab menandakan eskalasi konflik. Iran mengklaim tindakan tersebut sebagai balasan atas upaya Amerika Serikat untuk merebut kontrol jalur energi vital tersebut.
Dampak Terhadap Pasar Global
Setelah berita serangan Iran tersebar, para pedagang energi menilai bahwa potensi gangguan aliran minyak dapat menekan pasokan, namun kehadiran armada militer AS di wilayah tersebut memberikan sinyal bahwa jalur pelayaran dapat dipulihkan dengan cepat. Sentimen pasar beralih menjadi “wait and see”, sehingga harga WTI mengalami penurunan moderat.
- WTI turun menjadi USD 104,88/barel, -1,5%.
- Harga Brent tetap berada di kisaran USD 112,30/barel.
- Volume perdagangan minyak mentah pada bursa New York diperkirakan menurun 2,3% dibandingkan hari sebelumnya.
- Kekhawatiran terhadap gangguan suplai jangka pendek menurun setelah kapal pertama berhasil lewat dengan pendamping militer.
- Analisis para pakar memperkirakan volatilitas harga akan tetap tinggi hingga situasi geopolitik stabil.
Analisis Pakar
Menurut seorang analis energi senior di sebuah firma riset internasional, Penurunan harga ini mencerminkan kombinasi antara kekhawatiran geopolitik dan penyesuaian pasar terhadap fakta bahwa Amerika Serikat siap menegakkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Selama konflik tidak meluas, harga cenderung tetap berada dalam rentang yang relatif sempit.
Seorang ekonom dari Bank Indonesia menambahkan bahwa dampak penurunan harga minyak mentah pada inflasi domestik masih akan terasa dalam beberapa bulan ke depan, mengingat mayoritas produk energi di Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah.
Prospek ke Depan
Jika Iran terus melakukan serangan terhadap kapal komersial, kemungkinan tekanan pada harga minyak dapat kembali meningkat. Sebaliknya, jika operasi militer AS berhasil menstabilkan jalur pelayaran, pasar dapat kembali menurunkan ekspektasi risiko, yang pada gilirannya dapat menurunkan harga lebih lanjut.
Investor disarankan untuk memantau perkembangan diplomatik antara Washington dan Tehran, serta laporan resmi dari Komando Pusat AS (Centcom) mengenai status keamanan Selat Hormuz. Keputusan kebijakan energi negara-negara produsen dan konsumen utama akan menjadi faktor penentu dalam pergerakan harga minyak global ke minggu-minggu mendatang.
Secara keseluruhan, penurunan 1% pada harga minyak mentah pada hari Selasa mencerminkan dinamika kompleks antara geopolitik, kebijakan militer, dan ekspektasi pasar. Meskipun situasi masih tegang, kehadiran pasukan AS memberikan sinyal bahwa gangguan pasokan jangka pendek dapat diminimalkan, memberikan ruang bagi harga untuk bergerak secara lebih stabil.













