Habib Rizieq Sebut Dudung ‘Jenderal Baliho’ Soal Yaman, Dudung Balas dengan Tegas: ‘Ocehan Tak Perlu Didengar’

Back to Bali – 06 Mei 2026 | Jalan-jalan politik di Istana Negara kembali memanas setelah Habib Rizieq Shihab menuding Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan..

3 minutes

Read Time

Habib Rizieq Sebut Dudung 'Jenderal Baliho' Soal Yaman, Dudung Balas dengan Tegas: 'Ocehan Tak Perlu Didengar'

Back to Bali – 06 Mei 2026 | Jalan-jalan politik di Istana Negara kembali memanas setelah Habib Rizieq Shihab menuding Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional sekaligus Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman, sebagai sosok yang memengaruhi Presiden Prabowo Subianto dalam menyinggung Yaman pada pidato kenegaraan baru-baru ini. Tuduhan itu memicu respons tajam Dudung yang menolak keras segala insinuasi, menyebutnya sekadar “ocehan yang tidak perlu didengar”.

Latar Belakang Kontroversi

Dalam sebuah video yang dipublikasikan melalui kanal YouTube OfficialIslamicBrotherhoodTV, Habib Rizieq mengklaim bahwa Presiden Prabowo menyebut negara Yaman dalam rangka menyinggung pihak‑pihak yang berupaya “kabur” dari Indonesia. Rizieq menuduh adanya doktrin khusus yang ditanamkan oleh sosok yang ia juluki “Jenderal Baliho”, yakni Dudang Abdurachman, yang konon “benci Yaman” dan mengarahkan Presiden untuk menambah retorika negatif terhadap negara tersebut.

Rizieq menambahkan, “Pantes saja presiden bilang pergi sono ke Yaman karena Jenderal Baliho ini memang benci Yaman. Jadi begitu ngomong ingat tuh sudah kedoktrin ngobrol istana sama orang yang anti Yaman,” sambil mengaitkan tuduhan itu dengan pengangkatan kembali Dudung ke dalam struktur pemerintahan sebagai penasihat pertahanan.

Respons Dudung Abdurachman

Menanggapi tuduhan tersebut, Dudung Abdurachman memberikan pernyataan kepada wartawan sebelum pelantikan pejabat baru dalam Kabinet Merah Putih di Istana Negara pada Senin (27/4/2026). Dalam wawancara singkat, ia menegaskan bahwa segala klaim tentang pengaruhnya terhadap Presiden Prabowo tidak memiliki dasar faktual.

“Kok masih ada yang mau memviralkan ocehan dia, memangnya dia siapa, ucapannya tidak usah didengar, apalagi kelakuannya,” ujar Dudung kepada media Suara.com pada Senin (4/5/2026). Ia menambahkan bahwa ia tidak pernah mendoktrin Presiden mengenai Yaman atau isu lain, melainkan menjalankan tugasnya sebagai penasihat pertahanan dengan profesionalisme.

Isu KM‑50 dan Kontroversi Lainnya

Tidak hanya soal Yaman, Habib Rizieq juga mengangkat kembali kasus KM‑50, menuduh Dudung terlibat dalam peristiwa hukum masa lalu yang melibatkan kapal KM‑50. Rizieq menyinggung “adu domba anak bangsa” dan “menghina para habaib”, serta mempertanyakan legitimasi pengangkatan Dudung sebagai penasihat pertahanan nasional.

Namun, Dudung menolak semua tuduhan tersebut, menyatakan bahwa tuduhan tersebut hanyalah bagian dari strategi provokasi yang tidak konstruktif. Ia mengingatkan bahwa semua pihak “sudah tua” dan seharusnya tidak lagi terlibat dalam provokasi yang hanya memperkeruh suasana politik.

Reaksi Publik dan Analisis

Berbagai kalangan politik dan masyarakat menanggapi perdebatan ini dengan beragam sikap. Sebagian menganggap tuduhan Rizieq sebagai upaya memperkuat basis dukungan melalui retorika anti‑Yaman, sementara yang lain melihat respons Dudung sebagai upaya menjaga stabilitas kebijakan pertahanan di tengah dinamika geopolitik regional.

Para pengamat menilai bahwa pernyataan Presiden Prabowo tentang Yaman lebih bersifat simbolis, sebagai bagian dari narasi nasionalisme yang menolak intervensi asing dan menegaskan kedaulatan. Tidak ada bukti konkret yang mengaitkan Dudung dengan proses penulisan pidato tersebut, sehingga tuduhan tersebut masih berada di ranah spekulasi.

Kesimpulan

Kontroversi antara Habib Rizieq dan Dudung Abdurachman mencerminkan ketegangan yang terus berlangsung antara tokoh politik tradisional dan elemen‑elemen yang berusaha memengaruhi agenda nasional. Meskipun Rizieq berusaha menyoroti dugaan pengaruh Dudung terhadap retorika Presiden, respons tegas dan lugas Dudung menegaskan bahwa semua tuduhan tersebut hanyalah ocehan tanpa dasar. Di tengah situasi ini, masyarakat diharapkan dapat menilai pernyataan‑pernyataan politik dengan kritis, mengingat pentingnya stabilitas dan konsistensi kebijakan pertahanan dalam menghadapi tantangan regional seperti konflik Yaman.

About the Author

Zillah Willabella Avatar