Latihan Ekstrem Persib Bandung Bikin Dion Markx Terasa ‘Dihukum’, Apa Penyebabnya?

Back to Bali – 31 Maret 2026 | Jakarta, 30 Maret 2026 – Pemain muda Persib Bandung, Dion Markx, mengungkapkan rasa kelelahan yang luar biasa..

Latihan Ekstrem Persib Bandung Bikin Dion Markx Terasa 'Dihukum', Apa Penyebabnya?

Back to Bali – 31 Maret 2026 | Jakarta, 30 Maret 2026 – Pemain muda Persib Bandung, Dion Markx, mengungkapkan rasa kelelahan yang luar biasa akibat program latihan tim yang diklaimnya “seperti ingin membunuh kami”. Curhatan tersebut disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan media lokal, menyingkap detail intensitas sesi latihan yang menimbulkan pertanyaan tentang keseimbangan antara kebugaran dan kesejahteraan pemain.

Dion, yang baru bergabung dengan skuad senior pada musim 2025/2026, menyebutkan bahwa rutinitas harian di kamp latihan Persib kini melibatkan empat sesi utama: pemulihan fisik, taktik, kekuatan, serta latihan intensitas tinggi yang dilakukan pada sore hari. “Kami mulai dari pukul 07.00 dengan pemanasan ringan, lalu dilanjutkan dengan sesi teknik selama dua jam. Setelah istirahat singkat, datang sesi kebugaran yang melibatkan lari interval, beban, dan latihan kardio hingga pukul 14.00. Sore hari, pelatih menambah lagi latihan taktik yang menuntut kami bergerak nonstop,” ungkapnya.

Tekanan Fisik yang Menggigit

Menurut Dion, beban latihan tersebut tidak hanya menuntut stamina, tetapi juga menguji batas mental pemain. “Kami seringkali selesai latihan dengan rasa nyeri yang menyebar ke seluruh otot, sampai-sampai sulit untuk beristirahat. Ada kalanya, setelah sesi taktik, kami harus melakukan sprint 20 meter berulang-ulang, yang membuat kaki terasa seperti dibakar,” tambahnya. Dion menambahkan bahwa beberapa rekan setimnya juga melaporkan gejala serupa, mulai dari kelelahan kronis hingga cedera ringan.

Pelatih kepala Persib, yang tidak disebutkan namanya dalam laporan, dikabarkan menegaskan bahwa intensitas tinggi merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan performa tim menjelang fase penting Liga 1. “Kami ingin memastikan pemain memiliki daya tahan dan kecepatan yang diperlukan untuk bersaing di level tertinggi. Oleh karena itu, program latihan harus menantang,” kata pelatih dalam pernyataan singkatnya kepada wartawan.

Respon Manajemen dan Tim Medis

Manajemen klub, melalui juru bicara resmi, menegaskan bahwa semua program latihan telah melalui evaluasi medis dan disetujui oleh tim kesehatan. “Kami selalu memantau kondisi pemain dengan menggunakan teknologi monitoring kebugaran terkini, termasuk GPS dan analisis beban kerja. Jika ada indikasi overtraining, kami siap menyesuaikan jadwal,” ujar juru bicara tersebut.

Namun, Dion menolak menganggap pernyataan tersebut cukup memuaskan. “Kami menghargai perhatian tim medis, tapi realitas di lapangan tetap terasa berbeda. Ada rasa tertekan karena takut menolak instruksi pelatih, padahal tubuh sudah memberi sinyal peringatan,” katanya.

Perbandingan dengan Klub Lain

Beberapa analis sepak bola menilai bahwa program latihan Persib memang berada di atas rata-rata klub Indonesia, namun belum tentu tidak wajar. “Jika dilihat dari standar internasional, klub yang berkompetisi di liga top Eropa mengimplementasikan sesi latihan serupa, namun mereka juga menyediakan rotasi pemain yang lebih fleksibel dan periode pemulihan yang lebih panjang,” ujar seorang pakar kebugaran olahraga.

Di sisi lain, klub-klub domestik lain seperti Arema FC dan Persebaya Surabaya diketahui menyesuaikan beban latihan dengan jadwal kompetisi, memberikan jeda istirahat yang lebih signifikan pada minggu-minggu dengan pertandingan padat.

Harapan Dion dan Rekan Setim

Dion berharap manajemen Persib dapat meninjau kembali kebijakan latihan yang ada. “Saya tidak menolak kerja keras pelatih, tapi saya berharap ada dialog terbuka antara pemain, pelatih, dan tim medis agar program dapat disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing pemain,” katanya.

Rekan setimnya, seorang gelandang berusia 24 tahun, menambahkan bahwa mereka mengusulkan penambahan sesi pemulihan aktif, seperti yoga dan pijat, untuk mengurangi ketegangan otot. “Jika klub mau berinvestasi pada fasilitas pemulihan, kami yakin performa di lapangan akan meningkat secara signifikan,” ujar gelandang tersebut.

Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi dari klub mengenai perubahan kebijakan. Namun, pernyataan Dion telah memicu perbincangan hangat di media sosial, dengan banyak netizen mengungkapkan dukungan mereka kepada pemain serta menuntut transparansi lebih lanjut dari pihak Persib.

Dengan tekanan kompetisi yang semakin ketat, keseimbangan antara intensitas latihan dan kesejahteraan pemain menjadi kunci utama. Bagaimana Persib Bandung akan menanggapi curhatan Dion Markx akan menjadi sorotan tidak hanya bagi pendukung klub, tetapi juga bagi seluruh ekosistem sepak bola Indonesia.

About the Author

Marshauwn Marshauwn Agatho Avatar