Back to Bali – 06 Mei 2026 | Jakarta, 5 Mei 2026 – Trisha Eungelica, putri bungsu mantan Komandan Polisi (Polri) Ferdy Sambo, mengukir prestasi baru dengan melaksanakan sumpah dokter di sebuah gedung akademik terkemuka. Upacara yang berlangsung sederhana hanya dihadiri oleh neneknya, Ibu Siti, dan adik laki-lakinya, Rafi, menimbulkan kehebohan di media sosial sekaligus menambah deretan momen publik yang melibatkan keluarga Sambo.
Latihan Panjang Menuju Gelar Dokter
Trisha, yang lahir pada 12 Agustus 1999, menempuh pendidikan kedokteran sejak 2018 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Selama empat setengah tahun, ia dikenal sebagai mahasiswi yang tekun, aktif dalam organisasi mahasiswa, dan rutin mengikuti program magang di rumah sakit rujukan. “Saya ingin menjadi dokter yang tidak hanya mengobati, tetapi juga memberi harapan,” ujar Trisha dalam sebuah wawancara singkat sebelum upacara.
Di tengah perjalanan akademisnya, Trisha harus menghadapi sorotan publik terkait kasus hukum ayahnya, Ferdan “Ferdy” Sambo. Pada tahun 2022, Ferdy terjerat kasus korupsi dan pelanggaran hukum lainnya, yang memicu perdebatan sengit di kalangan politik dan masyarakat. Meski demikian, Trisha menegaskan bahwa kariernya tidak terpengaruh oleh situasi keluarga.
Upacara Sederhana, Makna Besar
Sumpah dokter dilangsungkan pada pukul 09.00 WIB, di aula Fakultas Kedokteran FKUI. Upacara dihadiri oleh dekan fakultas, rektor, serta sejumlah dosen dan teman sekelas. Namun, kehadiran keluarga inti terbatas pada nenek Trisha, Ibu Siti, berusia 71 tahun, dan adik laki-lakinya, Rafi, berusia 23 tahun, yang saat itu tengah menempuh studi di jurusan teknik sipil. Ferdy Sambo sendiri tidak muncul dalam daftar hadir.
Ketidakhadiran Ferdy menimbulkan spekulasi. Beberapa pengamat menilai bahwa ayahnya mungkin memilih untuk tidak menambah sorotan publik, mengingat kasus hukum yang masih berjalan. Sementara itu, nenek Trisha terlihat haru, menatap cucunya yang baru saja menempelkan tangan pada buku sumpah dokter. “Anak perempuan kami telah melewati banyak rintangan. Kami bangga dengan apa yang dia capai,” ucapnya dengan suara bergetar.
Reaksi Publik dan Media Sosial
Setelah foto-foto upacara beredar, netizen berbondong‑bondong memberikan komentar. Sebagian menyoroti keberhasilan Trisha sebagai simbol ketekunan, sementara yang lain menanyakan mengapa Ferdy tidak hadir. Tagar #TrishaDokter dan #SamboFamily menjadi trending di Twitter Indonesia selama beberapa jam. Di sisi lain, kelompok aktivis hak asasi manusia menilai bahwa sorotan terhadap Trisha tidak seharusnya mengalihkan perhatian dari proses hukum Ferdy.
Beberapa komentar positif menekankan pentingnya memisahkan prestasi individu dengan latar belakang keluarga. “Trisha pantas mendapat penghargaan atas kerja kerasnya, bukan dipandang hanya sebagai putri Ferdy,” tulis seorang pengguna dengan nama @KitaMaju.
Makna Sumpah Dokter di Tengah Kontroversi
Sumpah dokter tidak sekadar ritual formalitas; ia menandai komitmen etis dokter untuk menegakkan prinsip beneficence, non‑maleficence, autonomy, dan justice. Trisha menyatakan, “Saya bersumpah untuk melayani setiap pasien tanpa memandang latar belakang, karena itulah inti dari profesi kedokteran.” Pernyataan ini mendapat sambutan hangat dari rekan-rekannya yang menilai sikapnya konsisten dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Pengalaman pribadi Trisha, termasuk melihat ayahnya terjerat masalah hukum, diyakini memberi perspektif unik dalam praktik medisnya. “Saya mengerti betapa pentingnya keadilan dan empati, terutama bagi mereka yang berada di posisi rentan,” tambahnya.
Langkah Selanjutnya
- Menjalani program residensi di Departemen Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Nasional.
- Berpartisipasi dalam program layanan kesehatan gratis di daerah‑daerah terpencil.
- Menjadi duta kampanye kesehatan mental bagi remaja, mengingat tekanan yang pernah ia rasakan selama masa kuliah.
Dengan langkah‑langkah tersebut, Trisha bertekad tidak hanya menjadi dokter yang kompeten, tetapi juga agen perubahan sosial. Meski nama ayahnya terus menjadi sorotan, Trisha berusaha menapaki jalannya sendiri, mengukir reputasi yang terpisah dari bayang‑bayang kontroversi.
Keberhasilan Trisha Eungelica dalam menapaki karier dokter sekaligus menahan sorotan publik menegaskan bahwa ketekunan individu tetap dapat bersinar di tengah dinamika keluarga yang kompleks. Cerita ini menjadi contoh nyata bahwa dedikasi pribadi dapat melampaui tantangan eksternal, sekaligus menambah dimensi baru dalam narasi publik mengenai keluarga Sambo.













