Back to Bali – 07 Mei 2026 | Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menghubungi Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) pada Rabu malam setelah serangan yang menargetkan fasilitas minyak di pelabuhan Fujairah. Panggilan tersebut menegaskan solidaritas Israel terhadap UEA sekaligus mengkritik keras serangan yang diduga berasal dari Iran.
Menurut laporan resmi kantor berita WAM, percakapan antara kedua pemimpin berlangsung dalam suasana yang tegang. Netanyahu menyatakan dukungan penuh Israel terhadap keamanan energi UEA, sekaligus menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap stabilitas kawasan. “Kami berdiri bersama Anda,” ujar Netanyahu dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh tim komunikasinya.
Latar Belakang Serangan Terhadap Fasilitas Minyak
Fasilitas penyimpanan minyak di Fujairah, yang menjadi titik penting bagi ekspor energi UEA, diserang pada pagi hari Rabu waktu setempat. Serangan tersebut menimbulkan kebocoran minyak dan mengganggu operasi pelabuhan selama beberapa jam. Pemerintah UEA belum secara resmi mengidentifikasi pelaku, namun sejumlah analis regional menuding Iran sebagai pihak yang paling mungkin, mengingat ketegangan yang meningkat di Selat Hormuz.
Iran, yang sebelumnya menuduh Israel terlibat dalam serangkaian tindakan provokatif, membalas dengan mengirimkan pernyataan yang menolak tuduhan tersebut. Namun, Netanyahu tidak segan menuduh Iran sebagai dalang utama. “Serangan ini jelas merupakan bagian dari strategi Iran untuk mengacaukan pasar energi global dan menekan negara-negara yang bersekutu dengan Israel,” tegasnya.
Hubungan Militer dan Intelijen Antara Israel dan UEA
Panggilan tersebut muncul bersamaan dengan laporan media Barat yang mengungkap kedalaman kerja sama militer antara Israel dan UEA. CNN, mengutip sumber anonim, menyebutkan bahwa sistem pertahanan udara buatan Israel telah dipasang di beberapa lokasi strategis UEA, termasuk di Fujairah, untuk membantu mendeteksi dan menanggulangi ancaman rudal.
Channel 12 Israel menambahkan bahwa Israel telah menyediakan intelijen serta peralatan persenjataan canggih kepada UEA, memperkuat kemampuan pertahanan negara tersebut terhadap ancaman Iran. Financial Times sebelumnya melaporkan bahwa hubungan ini melampaui sekadar normalisasi diplomatik; kini melibatkan operasi lapangan bersama, pertukaran data intelijen, dan kehadiran infrastruktur militer Israel di wilayah Arab.
Keberadaan sistem pertahanan Israel di UEA menandai perubahan signifikan dalam dinamika keamanan Timur Tengah. Sejak penandatanganan perjanjian normalisasi pada 2020, hubungan kedua negara terus menguat, namun kini memasuki fase yang lebih operasional. Menurut pakar keamanan regional, integrasi teknologi pertahanan Israel ke dalam jaringan keamanan UEA meningkatkan kemampuan kedua negara untuk merespons ancaman bersama, terutama dari Iran yang terus mengembangkan kemampuan misil balistik.
Reaksi Internasional dan Dampak Ekonomi
Serangan terhadap fasilitas minyak Fujairah menimbulkan kepanikan di pasar energi internasional. Harga minyak mentah naik sekitar 2,5% pada perdagangan hari itu, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan. Negara-negara produsen lain, termasuk Arab Saudi dan Kuwait, menyatakan kesiapan mereka untuk menjaga stabilitas pasar, sambil menegaskan pentingnya dialog multilateral dalam menyelesaikan konflik.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Uni Eropa menyuarakan keprihatinan atas eskalasi ketegangan. Kedua pihak menyerukan penarikan semua pihak dari tindakan yang dapat memperburuk situasi, dan menekankan perlunya penyelidikan independen terhadap serangan tersebut.
Kesimpulan
Panggilan antara Netanyahu dan MBZ menegaskan bahwa hubungan militer dan intelijen antara Israel dan UEA kini telah mencapai tingkat yang sangat strategis. Serangan terhadap fasilitas minyak Fujairah, yang diduga dilakukan oleh Iran, memperlihatkan bagaimana konflik regional dapat mempengaruhi sektor energi global. Dukungan Israel terhadap UEA serta kecaman keras terhadap Iran mencerminkan upaya kedua negara untuk memperkuat aliansi mereka dalam menghadapi ancaman bersama, sekaligus menimbulkan tekanan diplomatik pada pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.













