Back to Bali – 08 Mei 2026 | Investor legendaris pasar modal Indonesia, Lo Kheng Hong, kembali mencuri sorotan dengan aksi akumulasi saham Intiland (DILD) yang berlangsung pada 6 Mei 2026. Dalam transaksi yang dilakukan secara senyap, Lo berhasil menambah kepemilikannya sebanyak 15.179.600 lembar saham, menandakan komitmen kuatnya terhadap emiten properti yang tengah bergulat dengan tekanan pasar.
Detail Transaksi dan Peran Sekuritas
Transaksi akumulasi ini diproses melalui alamat kantor Lo di Jalan Pademangan IV No.23, RT 002/RW 001, Pademangan Timur, Jakarta Utara, dengan dukungan beragam sekuritas ternama. Di antara broker yang terlibat terdapat Sinarmas Sekuritas, MNC Sekuritas, Ekokapital Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas, Korea Investment, Sekuritas Indonesia, Pluang Maju Sekuritas, Sucor Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Panin Sekuritas, dan BCA Sekuritas.
Penambahan Saham dan Dampaknya pada Portofolio
Sebelum akumulasi terbaru, Lo Kheng Hong memegang sekitar 718,5 juta lembar saham DILD, setara dengan 6,93 % dari total saham yang beredar. Dengan penambahan 15,18 juta lembar, total kepemilikannya naik menjadi 733,68 juta lembar atau 7,08 % saham Intiland. Kenaikan tersebut menandai peningkatan 0,15 % poin kepemilikan, mengukuhkan posisi Lo sebagai salah satu kolektor saham DILD terbesar.
Meskipun data rinci mengenai harga beli, total nilai transaksi, dan tujuan strategi tidak diungkapkan secara publik, estimasi sederhana dapat dibuat. Pada hari penutupan 6 Mei 2026, harga penutupan saham DILD tercatat Rp125 per lembar. Dengan jumlah 15,18 juta lembar, nilai perkiraan transaksi mencapai sekitar Rp1,89 miliar.
Strategi di Tengah Pasar yang Berfluktuasi
Lo Kheng Hong dikenal tidak gentar menghadapi volatilitas pasar. Sebaliknya, ia memandang fase kontraksi sebagai peluang emas untuk menambah kepemilikan saham dengan harga diskon. Pendekatan ini selaras dengan filosofi investor jangka panjang yang lebih menitikberatkan pada fundamental perusahaan daripada pergerakan harga jangka pendek.
Intiland saat ini tengah mengalami penurunan tren keuangan, namun masih memenuhi persyaratan regulasi free float yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp1,27 triliun, saham DILD tercatat dimiliki oleh setidaknya 17.115 pemegang saham. Free float perusahaan berada pada level 38,9 %, jauh di atas ambang batas minimum 15 % yang diwajibkan bagi emiten terdaftar.
Implikasi Bagi Pasar dan Investor Lain
Langkah Lo menambah saham Intiland memberi sinyal positif bagi investor lain yang masih ragu. Meskipun performa keuangan DILD menunjukkan tekanan, tingkat kepemilikan institusional yang tinggi dan kepatuhan terhadap regulasi free float menambah kepercayaan bahwa perusahaan masih memiliki ruang perbaikan.
Selain itu, fakta bahwa lebih dari 300 emiten masih belum memenuhi standar free float menyoroti pentingnya likuiditas dalam penilaian kualitas saham di BEI. Dalam konteks ini, DILD berada pada posisi yang relatif aman, memberikan landasan bagi investor institusi dan ritel untuk menilai risiko dan peluang secara lebih objektif.
Prospek Ke Depan
Keputusan Lo Kheng Hong untuk terus menambah koleksi saham DILD di tahun 2026 dapat dilihat sebagai taruhan jangka panjang pada pemulihan sektor properti Indonesia. Dengan pemerintah yang terus mendorong proyek infrastruktur dan kebijakan fiskal yang mendukung, prospek permintaan ruang komersial dan residensial diperkirakan akan kembali menguat dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, investor harus tetap memperhatikan faktor eksternal seperti suku bunga global, dinamika nilai tukar, dan kebijakan moneter dalam menilai kemampuan Intiland untuk bangkit kembali. Jika perusahaan mampu mengoptimalkan portofolio asetnya serta meningkatkan profitabilitas, kepemilikan Lo yang kini mencapai lebih dari 7 % dapat menghasilkan nilai tambah signifikan bagi portofolio jangka panjangnya.
Secara keseluruhan, aksi akumulasi Lo Kheng Hong menegaskan strategi kolektor saham yang berani mengambil posisi di pasar yang sedang bergejolak. Dengan fondasi keuangan yang kuat dan kepatuhan regulasi free float, Intiland tetap menjadi pilihan yang menarik bagi investor yang siap menunggu pemulihan sektor properti Indonesia.













