Back to Bali – 09 Mei 2026 | Jakarta, 9 Mei 2026 – Pada penutupan pasar pada Jumat (9/5/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent menguat sekitar 1 persen, menembus level US$101,29 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik tipis ke US$95,42 per barel. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah Arab Saudi dan Kuwait mencabut pembatasan penggunaan pangkalan militer serta wilayah udara mereka oleh Angkatan Laut dan Angkatan Udara Amerika Serikat.
Faktor-faktor Penggerak Harga
Beberapa faktor utama yang mendorong pergerakan harga minyak dunia pada minggu ini meliputi:
- Pembukaan Akses Militer AS: Pemerintah Arab Saudi dan Kuwait mengumumkan bahwa mereka tidak lagi melarang penggunaan fasilitas militer dan ruang udara mereka oleh pasukan Amerika. Keputusan ini menurunkan ketidakpastian logistik bagi kapal pengangkut minyak yang melintasi Selat Hormuz, meskipun ketegangan politik tetap tinggi.
- Ketegangan di Selat Hormuz: Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memuncak sejak akhir Februari 2026 masih berlanjut. Penutupan sementara Selat Hormuz pada awal bulan April menghambat aliran minyak mentah, memicu spekulasi pasar tentang gangguan pasokan jangka panjang.
- Harapan Gencatan Senjata: Meskipun pasar masih mencatat penurunan mingguan lebih dari 6 persen, harapan akan tercapainya kesepakatan damai antara pihak-pihak yang berkonflik memberikan dukungan psikologis bagi investor.
Reaksi Pasar dan Kebijakan Amerika Serikat
Pemerintahan Presiden Donald Trump menyiapkan kembali operasi pengawalan angkatan laut untuk melindungi kapal komersial di Selat Hormuz. Operasi tersebut, yang sebelumnya sempat dihentikan pada awal pekan, kini diperkirakan akan melibatkan dukungan penuh dari angkatan laut dan angkatan udara AS. Sementara itu, pada Selasa (5/5/2026), Trump mengumumkan penangguhan sementara “Project Freedom”, program yang bertujuan memulihkan kebebasan navigasi di selat strategis tersebut. Meski proyek ditunda, blokade maritim terhadap Iran tetap diberlakukan dengan kekuatan penuh.
Dampak terhadap Ekonomi Global
Kenaikan harga Brent di atas US$100 per barel menandai kembali era harga tinggi yang terakhir kali terjadi pada awal 2022. Peningkatan biaya energi ini berpotensi menekan inflasi di negara-negara importir minyak, khususnya di Asia Tenggara dan Eropa. Sektor transportasi, manufaktur, serta industri petrokimia diproyeksikan akan merasakan tekanan biaya operasional yang signifikan.
Di sisi lain, produsen minyak utama seperti Arab Saudi dan Rusia dapat menikmati margin keuntungan yang lebih lebar, meskipun mereka tetap harus menyeimbangkan antara meningkatkan produksi dan menjaga stabilitas harga di pasar global.
Prospek Ke Depan
Para analis memperkirakan bahwa harga minyak dunia akan tetap berfluktuasi dalam minggu-minggu mendatang, tergantung pada dua variabel utama: perkembangan diplomatik di Timur Tengah dan kebijakan militer Amerika Serikat di wilayah tersebut. Jika negosiasi mediasi Pakistan berhasil menghasilkan gencatan senjata yang lebih permanen, tekanan pada pasokan minyak dapat berkurang, berpotensi menurunkan harga. Sebaliknya, eskalasi militer lebih lanjut atau penutupan kembali Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga yang lebih tajam.
Investor disarankan untuk memperhatikan indikator geopolitik serta laporan inventaris minyak mentah dari Badan Energi Internasional (IEA) dan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) sebagai acuan utama dalam mengambil keputusan.
Dengan kondisi pasar yang masih dipengaruhi oleh dinamika politik dan militer, ketidakpastian akan tetap menjadi faktor dominan dalam pergerakan harga minyak dunia selama beberapa bulan ke depan.













