Alarm Kesehatan: Kasus Penyakit Jantung Meroket, Prof. Antonia Lukito Ungkap Peran Kalsifikasi Koroner di UPH

Back to Bali – 31 Maret 2026 | Indonesia kini berada di ambang krisis kesehatan jantung. Data terbaru menunjukkan peningkatan tajam kasus penyakit kardiovaskular, yang..

3 minutes

Read Time

Alarm Kesehatan: Kasus Penyakit Jantung Meroket, Prof. Antonia Lukito Ungkap Peran Kalsifikasi Koroner di UPH

Back to Bali – 31 Maret 2026 | Indonesia kini berada di ambang krisis kesehatan jantung. Data terbaru menunjukkan peningkatan tajam kasus penyakit kardiovaskular, yang menempatkan jantung sebagai penyebab utama kematian di negeri ini. Sementara pemerintah berupaya memperkuat program pencegahan, para pakar medis menyoroti temuan ilmiah yang dapat menjadi senjata baru dalam deteksi dini, khususnya melalui pemanfaatan kalsifikasi koroner.

Lonjakan Prevalensi Penyakit Jantung di Tanah Air

Menurut laporan World Health Organization (WHO), pada tahun 2022 penyakit kardiovaskular menyebabkan hampir 20 juta kematian di seluruh dunia, setara dengan 32 persen total kematian global. Di Indonesia, tren serupa terlihat jelas. Pada tahun 2023, prevalensi penyakit jantung mencapai 1,08 persen atau sekitar 2,29 juta jiwa, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan data tahun 2013. Angka ini menandakan perlunya strategi pencegahan yang lebih agresif dan berbasis bukti ilmiah.

Prof. Dr. dr. Antonia Anna Lukito dan Penelitian Kalsifikasi Koroner

Puncak perhatian ilmiah baru-baru ini datang dari Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH). Pada 28 Maret 2026, Prof. Dr. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI, resmi diangkat menjadi Guru Besar Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah. Dalam sambutan pengukuhannya, Prof. Antonia menekankan pentingnya kalsifikasi koroner sebagai indikator dini risiko penyakit jantung.

Kalsifikasi koroner merupakan penumpukan kalsium pada dinding arteri koroner yang menyuplai darah ke jantung. Proses ini biasanya dipicu oleh penuaan serta faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Lebih dari sekadar temuan radiologis, kalsifikasi koroner mencerminkan proses biologis jangka panjang yang terjadi pada dinding arteri, yakni aterosklerosis.

“Kalsifikasi koroner memberikan bukti anatomis nyata dari proses aterosklerosis. Semakin tinggi tingkat kalsifikasi, semakin besar kemungkinan adanya plak aterosklerotik yang luas dan bermakna secara klinis,” ujar Prof. Antonia.

Manfaat Klinis dan Implementasi di Lapangan

Deteksi kalsifikasi koroner kini dapat dilakukan dengan teknologi pencitraan kardiovaskular modern, seperti CT scan kalkulus koroner (Coronary Calcium Scoring). Dengan mengidentifikasi tingkat kalsifikasi, dokter dapat melakukan stratifikasi risiko secara lebih akurat, mengalokasikan intervensi medis, maupun mengedukasi pasien tentang perubahan gaya hidup.

  • Deteksi Dini: Menemukan perubahan arteri sebelum gejala klinis muncul.
  • Stratifikasi Risiko: Membantu memprioritaskan pasien berisiko tinggi untuk terapi intensif.
  • Pencegahan Terfokus: Memungkinkan program edukasi dan intervensi yang disesuaikan dengan profil risiko individu.

Strategi Nasional Menanggapi Ancaman Kardiovaskular

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan beberapa program, termasuk kampanye gaya hidup sehat, pemeriksaan tekanan darah rutin, dan peningkatan akses ke layanan kardiologi di rumah sakit daerah. Namun, integrasi temuan kalsifikasi koroner ke dalam protokol nasional masih dalam tahap awal.

Prof. Antonia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektoral antara institusi akademik, rumah sakit, dan badan kesehatan masyarakat. “Kita harus mengubah data radiologis menjadi alat kebijakan, sehingga pencegahan dapat dimulai dari tingkat komunitas,” kata beliau.

Harapan Kedepan

Dengan dukungan riset di Universitas Pelita Harapan, diharapkan metode deteksi kalsifikasi koroner dapat diadopsi secara luas di seluruh fasilitas kesehatan Indonesia. Langkah ini diharapkan menurunkan angka prevalensi penyakit jantung, memperpanjang harapan hidup, dan mengurangi beban ekonomi akibat perawatan jangka panjang.

Kesadaran masyarakat tentang faktor risiko, bersama dengan teknologi deteksi dini, menjadi kunci utama dalam memerangi gelombang penyakit jantung yang terus meningkat. Pemerintah, tenaga medis, dan akademisi harus bersinergi untuk memastikan setiap individu memiliki akses informasi dan layanan kesehatan yang memadai.

About the Author

Bassey Bron Avatar