Back to Bali – 31 Maret 2026 | Washington – Sejak serangan gabungan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayah Iran pada awal Maret 2026, biaya operasional perang telah melambung tajam. Menurut data yang disampaikan kepada Kongres, dalam enam hari pertama konflik tersebut menelan biaya sekitar 11,3 miliar dolar AS, dan pada hari ke‑12 angka tersebut meningkat menjadi 16,5 miliar dolar. Presiden Donald Trump dikabarkan mengusulkan agar negara‑negara Arab turut menanggung beban keuangan yang diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan miliar dolar.
Usulan Trump dan Reaksi Gedung Putih
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam sebuah konferensi pers pada Senin, 30 Maret 2026, mengonfirmasi bahwa Presiden Trump telah menyinggung kemungkinan meminta negara‑negara Arab membiayai perang ini. “Saya rasa presiden akan sangat tertarik untuk meminta mereka melakukannya,” kata Leavitt, menambahkan bahwa ide tersebut belum menjadi kebijakan resmi dan masih dalam tahap kajian internal.
Leavitt juga mengingatkan contoh historis ketika sekutu‑sekutu AS membantu membiayai intervensi selama Perang Teluk 1990‑1991. Ia menegaskan bahwa permintaan serupa bukanlah hal yang mustahil, mengingat besarnya kebutuhan anggaran untuk operasi militer di Iran.
Anggaran yang Diperlukan
Menurut laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS), perkiraan kebutuhan anggaran untuk melanjutkan operasi militer melawan Iran dapat mencapai 200 miliar dolar AS atau setara dengan sekitar Rp3.100 triliun. Angka ini mencakup biaya logistik, amunisi, dukungan intelijen, serta kompensasi kerugian materiil di wilayah konflik.
Selain biaya militer langsung, konflik ini telah memicu lonjakan harga minyak dunia, menambah beban ekonomi global. Pemerintah AS menyatakan bahwa intervensi tersebut bersifat jangka pendek dan dimaksudkan untuk menghilangkan ancaman Iran terhadap kepentingan keamanan dan ekonomi Amerika serta sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Respon Negara‑Negara Arab
Beberapa negara Arab, terutama yang memiliki hubungan erat dengan Washington, diperkirakan akan diminta menyiapkan dana tambahan. Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari kementerian luar negeri negara‑negara tersebut. Pengamat politik menilai bahwa tekanan finansial ini dapat menimbulkan ketegangan diplomatik, mengingat banyak negara Arab tengah bergulat dengan tantangan ekonomi domestik pasca‑pandemi.
Di sisi lain, ada pula suara yang menilai bahwa permintaan tersebut dapat memperkuat aliansi strategis AS dengan negara‑negara Teluk, yang sebelumnya sudah berkontribusi pada koalisi internasional selama Perang Teluk pertama.
Dampak Sosial‑Ekonomi di Iran
Serangan udara yang dilancarkan bersama antara pasukan AS dan Israel telah menimbulkan kerusakan signifikan di beberapa kota industri Iran, termasuk Isfahan. Foto-foto asap tebal yang menyelimuti langit menandakan kerusakan infrastruktur penting, yang selanjutnya dapat memperburuk kondisi kehidupan warga sipil. Organisasi kemanusiaan mengkhawatirkan potensi krisis kemanusiaan jika konflik berlanjut tanpa adanya gencatan senjata.
Prospek Kedepan
Para analis militer menilai bahwa konflik ini masih berada pada fase awal, dan dinamika politik serta ekonomi akan sangat menentukan lamanya dan intensitas pertempuran. Jika permintaan pendanaan kepada negara Arab disetujui, hal tersebut dapat memperpanjang durasi operasi militer sekaligus meningkatkan beban fiskal Amerika Serikat.
Sejauh ini, Presiden Trump belum mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan permintaan tersebut, namun indikasi yang diberikan oleh Leavitt memberi sinyal bahwa diskusi internal mengenai pembiayaan bersama sudah berlangsung.
Dengan tekanan biaya yang terus meningkat, keputusan apakah negara‑negara Arab akan menuruti permintaan Washington menjadi faktor kunci yang akan memengaruhi arah dan hasil akhir konflik ini.













