Back to Bali – 31 Maret 2026 | PT Freeport Indonesia (PTFI) mengumumkan penurunan produksi mineral utama hingga 50 persen pada tahun 2025, sebuah penurunan yang paling signifikan dalam dekade terakhir. Meskipun volume produksi berkurang drastis, perusahaan tetap berhasil mencatat laba bersih sebesar US$2,53 miliar, meski turun 38 persen secara tahunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan Produksi dan Penyebabnya
Penurunan produksi dipicu oleh penutupan sementara sebagian besar tambang bawah tanah untuk perbaikan infrastruktur dan penyesuaian operasional. Kegiatan penambangan di lapangan Grasberg mengalami penurunan output tembaga dan emas, yang sebelumnya menyumbang lebih dari 70 persen pendapatan perusahaan. Menurut laporan keuangan audited 2025, produksi tembaga turun dari 1,2 juta ton pada 2024 menjadi sekitar 600 ribu ton, sementara produksi emas berkurang dari 500 ribu ons menjadi 250 ribu ons.
Kinerja Keuangan di Tengah Penurunan Produksi
Walaupun produksi menurun, PTFI berhasil menjaga margin operasional berkat diversifikasi usaha dan optimalisasi fasilitas hilirisasi yang baru beroperasi sejak awal 2025. Laba operasional tercatat US$3,78 miliar dan laba sebelum pajak US$3,77 miliar. Pendapatan bersih perusahaan menurun menjadi US$8,62 miliar dari US$10,31 miliar pada tahun 2024, mencerminkan dampak langsung penurunan volume penjualan.
Kontribusi pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tetap signifikan. Freeport menyumbang 4 persen dari laba untuk PNBP, setara US$112,4 juta, serta 6 persen untuk pemerintah daerah Papua, sekitar US$168,6 juta. Total kontribusi langsung berbasis laba mencapai US$281 juta.
Investasi Sosial dan Pengembangan Hilirisasi
Seiring dengan penurunan produksi, perusahaan meningkatkan alokasi dana sosial menjadi US$86,2 juta. Program tersebut mencakup pendidikan, layanan kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi lokal, menargetkan lebih dari 34 ribu tenaga kerja, baik karyawan tetap maupun kontraktor.
Fasilitas smelter dan Precious Metals Refinery (PMR) yang resmi beroperasi pada 2025 menjadi pilar strategis bagi kebijakan hilirisasi mineral nasional. Dengan kemampuan mengolah bijih secara langsung, perusahaan dapat meningkatkan nilai tambah domestik dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Perbandingan dengan Sektor Lain
Penurunan laba Freeport tidak terisolasi dalam sektor tambang. Pada periode yang sama, beberapa perusahaan besar Indonesia melaporkan dinamika serupa. Misalnya, grup Indofood mencatat kenaikan laba dua digit, sementara penjualan CLEO meningkat 4,83 persen menjadi Rp2,82 triliun namun laba turun 17,91 persen. Kondisi tersebut mencerminkan pola umum: pendapatan dapat tumbuh meski profitabilitas tertekan oleh biaya operasional atau perubahan regulasi.
Prospek ke Depan
Freeport menargetkan pemulihan bertahap produksi tambang bawah tanah melalui investasi infrastruktur, termasuk peningkatan sistem ventilasi dan perbaikan jalan akses. Optimasi fasilitas hilirisasi diharapkan menambah pendapatan dari penjualan produk akhir, seperti tembaga konsentrat dan logam mulia yang telah diproses.
Jika produksi dapat kembali ke tingkat sebelum penurunan, diperkirakan laba bersih akan kembali mendekati US$4 miliar dalam beberapa tahun ke depan. Namun, tantangan regulasi lingkungan, hak masyarakat adat, dan fluktuasi harga komoditas global tetap menjadi faktor yang harus dikelola secara hati-hati.
Secara keseluruhan, meski produksi turun drastis, Freeport berhasil menjaga profitabilitas melalui strategi diversifikasi, investasi sosial, dan pengembangan hilirisasi. Dampak ekonomi bagi Papua tetap signifikan, namun pemerintah dan perusahaan perlu bekerja sama memastikan keberlanjutan operasional serta manfaat jangka panjang bagi masyarakat lokal.













