Back to Bali – 05 April 2026 | JAKARTA — Pada Jumat, 3 April 2026, roket Tianlong-3 milik perusahaan rintisan China, Space Pioneer, mengalami kegagalan tak terduga sesaat setelah lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan, Gurun Gobi. Insiden ini menimbulkan kegelisahan di kalangan industri antariksa global karena Tianlong-3 diklaim sebagai roket terkuat buatan swasta China dengan kemampuan reusable dan daya angkut hingga 22 ton ke orbit rendah.
Detail Peluncuran dan Insiden
Pukul 12:17 waktu setempat, roket meluncur dengan harapan menyelesaikan misi penempatan satelit konstelasi Qianfan. Namun, hanya beberapa detik setelah mencapai ketinggian awal, sistem kontrol mengindikasikan ketidakstabilan lintasan. Tim teknis Space Pioneer segera memutuskan prosedur pemutusan daya untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Menurut pernyataan resmi perusahaan, penyebab pasti masih dalam tahap penyelidikan, namun kemungkinan besar melibatkan kegagalan struktur pada bagian ekor atau masalah pada sistem propulsi.
Spesifikasi Tianlong-3
- Tinggi: 72 meter
- Diameter: 3,8 meter
- Daya angkut: 22 ton ke Low Earth Orbit (LEO)
- Muatan maksimum: 36 satelit per peluncuran
- Bahan bakar: oksigen cair + kerosene berbasis batubara
- Desain reusable: sirip grid dan kaki pendaratan yang dirancang untuk minimal 10 kali penggunaan kembali
Keunikan Tianlong-3 terletak pada penggunaan kerosene berbasis batubara, yang dikembangkan oleh beberapa perusahaan milik negara China. Bahan bakar ini diklaim dapat mengurangi penumpukan karbon pada mesin roket, memperpanjang umur pakai, dan menurunkan biaya operasional dibandingkan kerosene konvensional.
Latar Belakang Program Qianfan
Konstelasi Qianfan merupakan upaya ambisius China untuk membangun jaringan broadband global yang melibatkan ribuan satelit. Hingga kini, baru 108 satelit berhasil ditempatkan, sementara target jangka panjang menargetkan 1.300 satelit pada akhir 2027 dan lebih dari 15.000 satelit pada 2030. Selain itu, China telah mengajukan rencana kepada International Telecommunication Union (ITU) untuk meluncurkan lebih dari 200.000 satelit, menandakan strategi luar angkasa yang sangat agresif.
Sejarah Insiden dan Perbaikan
Pengembangan Tianlong-3 tidak lepas dari tantangan sebelumnya. Pada tahun 2024, tahap pertama roket mengalami kegagalan uji statis ketika bagian ekor terlepas karena sambungan struktural yang lemah. Insiden tersebut memicu lebih dari 100 perbaikan teknis, termasuk penguatan sambungan, revisi material, dan penambahan sensor pemantauan suhu. Sebuah uji statis berhasil dilaksanakan pada tahun 2025 di fasilitas lepas pantai Shandong, menunjukkan bahwa perbaikan telah meningkatkan keandalan struktur secara signifikan.
Dampak dan Tindakan Selanjutnya
Kegagalan ini memaksa Space Pioneer mengirimkan permintaan maaf resmi kepada mitra kerja dan menegaskan komitmen untuk menyelesaikan investigasi bersama tim teknis serta ahli luar angkasa. Perusahaan berjanji bahwa peluncuran berikutnya akan dilengkapi dengan prosedur verifikasi tambahan, termasuk simulasi lintasan lebih detail dan inspeksi non‑destruktif pada bagian ekor.
Jika penyelidikan mengidentifikasi masalah pada bahan bakar atau sistem kontrol, hal ini dapat mempengaruhi jadwal peluncuran satelit Qianfan dan menunda ambisi China untuk mendominasi pasar broadband antariksa. Namun, para analis memperkirakan bahwa dengan sumber daya yang melimpah dan dukungan pemerintah, Space Pioneer akan dapat mengatasi hambatan teknis ini dalam jangka menengah.
Secara keseluruhan, insiden Tianlong-3 menegaskan bahwa pengembangan roket berkapasitas tinggi tetap memerlukan proses iteratif yang ketat. Meskipun kegagalan ini menimbulkan kekecewaan, langkah perbaikan yang sudah diambil menunjukkan komitmen perusahaan untuk kembali ke jalur yang benar.
Keberhasilan atau kegagalan selanjutnya akan menjadi barometer kemampuan China dalam bersaing secara langsung dengan SpaceX di arena luar angkasa komersial.













