Back to Bali – 05 April 2026 | Transparency International merilis Corruption Perceptions Index (CPI) edisi 2025 pada awal 2026, memperlihatkan peta korupsi global yang semakin mengkhawatirkan. Sepuluh negara menempati posisi terbawah dengan skor mendekati nol, menandakan persepsi publik dan pelaku internasional bahwa sektor publik di sana hampir seluruhnya dikuasai oleh praktik suap, nepotisme, dan penyalahgunaan dana negara.
Daftar 10 Negara Terkorup 2026
- Sudan Selatan – Skor CPI 1. Instabilitas politik pasca‑merdeka, perang saudara berkepanjangan, dan pengelolaan minyak yang tidak transparan menjadikan negara muda ini paling rentan terhadap korupsi. Laporan PBB 2025 mengungkap hilangnya dana infrastruktur senilai 1,7 miliar dolar AS.
- Somalia – Skor CPI 2. Institusi lemah, pembubaran Komisi Antikorupsi pada 2022, serta praktik mafia tanah di Mogadishu memperparah kondisi transparansi.
- Venezuela – Skor CPI 3. Krisis ekonomi dan politik yang kronis, kontrol penuh pemerintah atas minyak, serta jaringan suap yang merembes hingga ke level distribusi bahan bakar.
- Yaman – Skor CPI 4. Konflik bersenjata fragmentasi otoritas, aliran dana publik ke pasar gelap, dan penyalahgunaan bantuan kemanusiaan menurunkan skor integritas.
- Afghanistan – Skor CPI 5. Pemerintahan yang didominasi oleh kelompok bersenjata, kurangnya pengawasan keuangan, serta korupsi dalam proyek pembangunan infrastruktur.
- Haiti – Skor CPI 6. Bencana alam yang berulang memperparah kelemahan institusi, sementara dana bantuan internasional sering diselewengkan oleh elit politik.
- Libya – Skor CPI 7. Perpecahan faksi militer dan politik menyebabkan pengelolaan sumber daya minyak yang tidak akuntabel.
- Zimbabwe – Skor CPI 8. Inflasi tinggi, kebijakan ekonomi yang tidak konsisten, serta praktik suap dalam sektor pertanian dan pertambangan.
- North Korea – Skor CPI 9. Sistem tertutup dengan kontrol total pemerintah, sedikit data publik, namun persepsi internasional menilai tingkat korupsi sangat tinggi.
- Myanmar – Skor CPI 10. Kudeta militer 2021 menurunkan standar pemerintahan, memperburuk penyelewengan dana dan pengabaian hak asasi.
Berbagai faktor konstan muncul di antara negara‑negara tersebut: konflik bersenjata atau politik yang berkepanjangan, kelemahan institusi pengawasan, serta dominasi elit yang menguasai sumber daya alam tanpa akuntabilitas. Tanpa lembaga independen yang kuat, dana publik mudah dialihkan ke rekening pribadi atau jaringan kriminal.
Implikasi ekonomi dari skor korupsi yang hampir nol sangat signifikan. Investor asing enggan menanamkan modal, akses kredit menjadi mahal, dan pertumbuhan GDP terhambat. Selain itu, kualitas layanan publik menurun drastis, memperparah kemiskinan dan memperlebar kesenjangan sosial.
Upaya perbaikan menuntut reformasi struktural: pembentukan komisi antikorupsi yang independen, peningkatan transparansi anggaran melalui sistem e‑procurement, serta penguatan supremasi hukum yang mampu menuntut pelaku korupsi tanpa pandang bulu. Dukungan internasional dalam bentuk bantuan teknis dan pengawasan dapat mempercepat proses ini, namun kunci keberhasilan tetap berada pada komitmen politik dalam negeri.
Dengan skor yang nyaris nol, sepuluh negara ini menjadi peringatan keras bagi dunia bahwa korupsi tidak hanya merusak kepercayaan publik, tetapi juga menghambat pembangunan berkelanjutan. Menjaga integritas lembaga publik dan menegakkan akuntabilitas menjadi agenda utama bagi setiap bangsa yang ingin menembus batas kemiskinan dan mencapai kesejahteraan.













