Back to Bali – 06 April 2026 | JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan dana sebesar Rp 678 miliar untuk program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) khusus jagung pakan ternak. Anggaran ini merupakan bagian dari implementasi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2026 yang menekankan pengadaan dan pengelolaan jagung dalam negeri serta penyaluran cadangan jagung pemerintah (CJP) hingga tahun 2029.
Rincian Alokasi dan Tujuan SPHP Jagung Pakan
Program SPHP jagung pakan ditargetkan menyalurkan total 242 ribu ton jagung kepada peternak unggas dan non‑unggas di seluruh Indonesia. Dana Rp 678 miliar akan membiayai pembelian jagung, logistik distribusi, serta verifikasi data peternak penerima. Fokus utama adalah wilayah yang bukan sentra produksi jagung atau tidak berada dalam masa panen raya, sehingga harga pakan ternak dapat tetap terjaga di daerah‑daerah yang rentan kenaikan.
Menurut Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, proses finalisasi data peternak sudah berjalan cepat. Data tersebut meliputi rincian peternak unggas dan non‑unggas yang akan menerima bantuan, serta koordinasi lintas kementerian dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.
Strategi Pengadaan Jagung Dalam Negeri
Inpres 3/2026 menetapkan target pengadaan jagung dalam negeri sebesar 1 juta ton dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 5.500 per kilogram. Kriteria jagung yang dibeli harus sudah mencapai usia panen dan memiliki kadar air 18‑20 persen. Pada tahun 2025, Badan Pusat Statistik mencatat produksi jagung kering kadar air 14 persen mencapai 16,16 juta ton, melampaui kebutuhan nasional sebesar 15,23 juta ton, menghasilkan surplus 0,93 juta ton.
Pengadaan jagung pada tahun 2025 tercatat 101 ribu ton, sementara pada kuartal pertama 2026 realisasi telah mencapai 125,2 ribu ton atau 123,9 % dari target tahun sebelumnya. Stok CJP di akhir 2025 berjumlah 45 ribu ton, dan pada kuartal pertama 2026 meningkat menjadi 168 ribu ton berkat tambahan pengadaan.
Manfaat Bagi Peternak dan Konsumen
Dengan stabilisasi pasokan jagung pakan, peternak diharapkan dapat memperoleh bahan baku dengan harga lebih terjangkau. Dampaknya akan terasa pada harga akhir produk ternak, seperti telur dan daging ayam, yang menjadi komoditas penting bagi konsumen rumah tangga. Program ini juga mengurangi ketergantungan pada impor jagung pakan, yang secara resmi telah mencapai nol persen sejak 2025.
Penyaluran CJP melalui SPHP tidak hanya mengandalkan pasar umum, tetapi juga pasar khusus yang ditujukan untuk peternak mandiri. Hingga kini, sebanyak 3.578 peternak unggas di 17 provinsi telah menerima total 51,2 ribu ton jagung melalui mekanisme stabilisasi.
Langkah Selanjutnya dan Tantangan
- Finalisasi data peternak harus selesai dalam minggu ini agar distribusi dapat dimulai tepat waktu.
- Pengawasan ketat pada kualitas jagung yang didistribusikan untuk memastikan standar kadar air dan kebersihan.
- Koordinasi antara Bulog, Bapanas, dan dinas pertanian provinsi untuk menghindari tumpang tindih distribusi.
- Monitoring harga pakan di pasar lokal guna menilai efektivitas program.
Jika semua tahapan berjalan lancar, program SPHP jagung pakan 2026 dapat menjadi model bagi kebijakan ketahanan pangan lainnya, memperkuat posisi Indonesia sebagai negara swasembada jagung untuk pakan ternak.
Secara keseluruhan, alokasi Rp 678 miliar menandai komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan, melindungi peternak, dan memastikan ketersediaan pakan ternak berkualitas di seluruh wilayah. Keberhasilan program ini akan menjadi indikator penting dalam upaya mencapai ketahanan pangan berkelanjutan.













