Tragedi Benturan Kapal di Sungai Barito: Polisi dan ABK Ditemukan Tak Bernyawa Setelah Pencarian Intensif

Back to Bali – 07 April 2026 | Sabtu malam, tepatnya sekitar pukul 21.00 WIB, sebuah kapal penumpang bernama Mitra Jaya V mengalami benturan saat..

3 minutes

Read Time

Tragedi Benturan Kapal di Sungai Barito: Polisi dan ABK Ditemukan Tak Bernyawa Setelah Pencarian Intensif

Back to Bali – 07 April 2026 | Sabtu malam, tepatnya sekitar pukul 21.00 WIB, sebuah kapal penumpang bernama Mitra Jaya V mengalami benturan saat hendak bersandar di dermaga PT Multipersada Gatra Megah (MPG) di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Insiden tersebut berujung pada jatuhnya seorang anggota kepolisian dan seorang anak buah kapal (ABK) ke dalam aliran Sungai Barito. Kedua korban kemudian ditemukan tewas setelah pencarian gabungan selama dua hari.

Kronologi dan Penanganan Awal

Menurut keterangan Kepala Kantor SAR Palangka Raya, AA Ketut Alit Supartana, kapal Mitra Jaya V mendekati pelabuhan PT MPG pada malam hari. Saat proses sandar, kapal diduga menabrak struktur pelabuhan atau objek lain di sekitar dermaga, menyebabkan dua orang terlempar ke sungai. Salah satunya adalah Bripda Vikma Setiawan, anggota Polri yang sedang bertugas di wilayah tersebut. Sementara korban lainnya adalah Aleksandro Brianonggasa, 25 tahun, seorang ABK asal Desa Rokirole, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Setelah kejadian, tim SAR gabungan yang melibatkan Kantor SAR Palangka Raya, kepolisian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Utara, serta relawan masyarakat setempat, langsung dikerahkan. Pencarian intensif dilakukan dengan menggunakan perahu motor, perahu karet, serta peralatan penyelamatan lainnya.

Penemuan Korban Pertama

Pukul 08.31 WIB pada hari berikutnya, tim SAR menemukan tubuh Bripda Vikma Setiawan mengapung sekitar dua kilometer dari lokasi kecelakaan. Korban pertama ini ditemukan dalam kondisi mengapung, kemudian segera dievakuasi dan dibawa ke pihak keluarga. Penemuan ini memberi harapan bagi tim pencarian bahwa korban kedua masih dapat ditemukan.

Penemuan Korban Kedua

Beberapa jam kemudian, sekitar 500 meter dari titik pertama, tim SAR menemukan tubuh Aleksandro Brianonggasa. Sayangnya, korban kedua juga ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Badan SAR menegaskan bahwa kedua korban tidak menunjukkan tanda-tanda hidup setelah proses evakuasi ke rumah sakit setempat.

Respon dan Tindakan Lanjutan

Setelah seluruh korban ditemukan, operasi pencarian resmi dihentikan. AA Ketut Alit Supartana menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen SAR yang bekerja keras, termasuk polisi, BPBD, serta warga Muara Teweh yang membantu proses evakuasi. “Operasi SAR selesai, dan kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat,” ujar Alit.

Pihak kepolisian setempat membuka penyelidikan lebih lanjut untuk mengidentifikasi penyebab pasti benturan. Sementara itu, keluarga korban diberikan bantuan serta pendampingan psikologis oleh pemerintah daerah.

Implikasi Bagi Keselamatan Pelayaran

Insiden ini menyoroti pentingnya standar keselamatan pelayaran, terutama pada saat proses sandar di pelabuhan yang padat aktivitas. Pemerintah provinsi Kalimantan Tengah dijadwalkan akan melakukan evaluasi prosedur operasional pelabuhan dan meningkatkan koordinasi antara otoritas pelabuhan, kapal, serta aparat keamanan.

Selain itu, kejadian ini menimbulkan keprihatinan luas di kalangan masyarakat, terutama karena melibatkan anggota kepolisian yang bertugas melindungi keamanan publik. Kematian Bripda Vikma Setiawan menjadi duka mendalam bagi kepolisian daerah, yang menegaskan kembali risiko tinggi yang dihadapi oleh aparat di lapangan.

Dengan berakhirnya operasi SAR, harapan kini beralih pada proses hukum yang transparan serta upaya preventif untuk mencegah tragedi serupa di masa depan. Masyarakat dan pihak terkait diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, memperketat prosedur keselamatan, serta memastikan sarana penunjang penyelamatan siap sedia setiap saat.

About the Author

Marshauwn Marshauwn Agatho Avatar