Lucinta Luna Ungkap Tekanan Mental dan Pilihan Kembali ke Identitas Pria di Luar Negeri

Back to Bali – 07 April 2026 | Lucinta Luna, artis transgender yang dikenal luas di dunia hiburan Indonesia, kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan..

3 minutes

Read Time

Lucinta Luna Ungkap Tekanan Mental dan Pilihan Kembali ke Identitas Pria di Luar Negeri

Back to Bali – 07 April 2026 | Lucinta Luna, artis transgender yang dikenal luas di dunia hiburan Indonesia, kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan kondisi mentalnya yang rapuh serta keinginannya untuk menampilkan sisi maskulin, khususnya saat berada di luar negeri. Pengakuannya disampaikan dalam sebuah episode podcast bersama Ivan Gunawan, yang kemudian menjadi viral di media sosial.

Tekanan Mental yang Berkepanjangan

Dalam percakapan yang berlangsung emosional, Lucinta mengaku tidak pernah merasakan ketenangan dalam hidupnya. “Enggak tenang. Malam gue nangis terus, dipenuhi dengan tuntutan dari orang,” ujarnya di C8 Podcast. Ia menambahkan bahwa ia merasa tidak dihargai dan selalu berada di posisi yang serba salah, terutama karena status transgendernya yang membuatnya sulit untuk tampil di layar kaca Indonesia.

Untuk mengatasi beban psikologis tersebut, Lucinta mengaku telah rutin berkonsultasi dengan psikiater selama empat tahun, bahkan sempat menginap di tiga rumah sakit. “Aku pernah ingin rehab,” katanya, menegaskan betapa beratnya tekanan yang ia alami. Ia menyebutkan bahwa kritik dan hujat dari warganet telah menjadi bagian dari kesehariannya, namun ia tetap berusaha mencari cara agar hidupnya lebih tenang.

Keputusan Kembali Menampilkan Identitas Pria

Selain masalah kesehatan mental, Lucinta juga mengungkapkan keinginannya untuk kembali menampilkan identitas sebagai pria. Ia menyatakan bahwa perubahan penampilan tersebut baru terasa nyaman ketika dilakukan di luar negeri, bukan di Indonesia. “Aku udah 10 tahun nggak pernah salat kayak hari raya, dan kalau ziarah pun aku pakai baju yang nggak sesuai kodrat. Jadi gimana supaya nggak dihujat tapi hidupku tenang? Makanya aku memberanikan diri di luar negeri,” ujarnya.

Langkah pertama yang ia tunjukkan adalah mengenakan busana muslim pria seperti peci dan sarung saat merayakan Idul Fitri di luar negeri. Selain itu, Lucinta juga mengubah gaya rambutnya menjadi potongan pendek ala pria Korea, lengkap dengan wig berbahan manusia yang dipasang secara temporer. Perubahan tersebut menuai beragam reaksi, mulai dari dukungan hingga komentar negatif yang menilai perubahan itu sekadar sensasi.

Lucinta menegaskan bahwa proses perubahan identitas tidak bisa dilakukan secara instan. “Kalo mau instan dalam 1 jam naik gojek aja ya. Pelan-pelan nyaliku ganti look cowok meski pake wig human hair. Awal‑awal banged baru dicukur model laki Korea, tetap dihujat,” katanya dalam Instagram Story.

Strategi Menghadapi Kritik Publik

Sejumlah warganet menuduh Lucinta melakukan perubahan demi sensasi, namun artis tersebut menolak anggapan tersebut. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental dalam menjalani transformasi gender, serta perlunya dukungan sosial yang lebih inklusif. “Proses perubahan membutuhkan waktu dan kesiapan mental. Tekanan publik justru bisa membuat proses tersebut terasa lebih berat,” ujarnya.

Selain itu, Lucinta juga menyebutkan rencananya untuk memperluas karier di luar negeri, mengingat sulitnya mendapatkan kesempatan tampil di televisi Indonesia setelah menjadi transgender. Ia berharap dapat menemukan ruang yang lebih menerima identitasnya, sekaligus memperbaiki kondisi mentalnya melalui lingkungan yang lebih suportif.

Harapan Kedepan

Dalam akhir percakapan, Lucinta menegaskan keinginannya untuk hidup lebih damai dan tenang, tanpa harus terus-menerus menjadi sorotan negatif. Ia berharap perubahan penampilan yang lebih maskulin dapat menjadi bagian dari proses penyembuhan mentalnya, serta membuka peluang baru dalam kariernya di kancah internasional.

Pengakuan terbuka ini menambah daftar panjang selebriti Indonesia yang berjuang melawan stigma gender dan tekanan mental. Masyarakat kini dihadapkan pada pertanyaan penting tentang toleransi, dukungan kesehatan mental, dan kebebasan berekspresi dalam dunia hiburan.

About the Author

Zillah Willabella Avatar