Back to Bali – 08 April 2026 | Jakarta, 8 April 2026 – Otoritas keuangan Sudan mengumumkan bahwa ekspor emas ke Uni Emirat Arab (UEA) mengalami penurunan paling dramatis dalam sejarah, menyusut lebih dari 60 persen pada tahun 2025. Penurunan ini bertepatan dengan keputusan Khartoum memutuskan hubungan diplomatik dengan Abu Dhabi setelah menuding kedutaan UEA mendanai dan mempersenjatai kelompok paramiliter Pasukan Pendukung Cepat (RSF).
Data resmi Bank Sentral Sudan menunjukkan bahwa pengiriman emas ke UEA hanya mencapai 8,2 ton metrik pada tahun 2025, turun drastis dari 22,2 ton metrik pada tahun sebelumnya. Sebelumnya, Dubai menjadi pintu gerbang utama bagi hampir seluruh produksi emas Sudan; pangsa pasar mencapai 99 persen. Kini, pangsa tersebut menyusut menjadi sekitar 56 persen, menandai pergeseran struktural dalam perdagangan mineral negara itu.
Dampak Ekonomi yang Mendalam
Emas telah lama menjadi tulang punggung devisa Sudan, terutama setelah konflik bersenjata yang berkepanjangan mengganggu sektor pertanian dan perdagangan barang konsumen. Menteri Pertambangan, Nour Al‑Daem Taha, menegaskan bahwa sektor pertambangan menyumbang sekitar 1,087 triliun pound Sudan (sekitar Rp30,81 triliun) bagi pendapatan negara. Penurunan ekspor ke UEA mengancam kestabilan cadangan devisa, memperparah tekanan inflasi, dan memicu lonjakan harga kebutuhan pokok seperti gandum dan bahan bakar minyak di wilayah yang dikuasai pemerintah.
Selain kerugian finansial, pemutusan hubungan diplomatik juga berimbas pada infrastruktur logistik. Proyek pelabuhan mega senilai 6 miliar dolar AS yang direncanakan bersama UEA dibatalkan, dan semua penerbangan komersial antara Port Sudan dan Dubai serta jalur pengiriman barang melalui pelabuhan-pelabuhan UEA ditutup. Langkah ini menambah beban pada jaringan perdagangan yang sudah rapuh.
Strategi Diversifikasi Pasar
Untuk mengatasi krisis ekspor, pemerintah Sudan berupaya mengalihkan penjualan emas ke negara‑negara lain di Timur Tengah dan Afrika Utara. Target baru meliputi Qatar, Oman, Mesir, dan Arab Saudi. Namun, proses diversifikasi tidak berjalan mulus karena hambatan sistem transfer uang internasional dan sanksi ekonomi yang masih mengikat Sudan. Banyak bank internasional enggan memproses pembayaran yang melibatkan Sudan, memaksa pejabat Khartoum mencari alternatif informal yang berisiko.
- Qatar – menawarkan kemudahan transaksi melalui platform keuangan regional.
- Oman – memiliki kebijakan netral dalam konflik Sudan‑RSF.
- Mesir – pasar emas domestik yang besar dan akses ke jaringan Mediterania.
- Arab Saudi – potensi investasi besar dalam sektor pertambangan.
Meskipun ada peluang, Sudan masih harus mengatasi masalah kepatuhan terhadap sanksi internasional, serta memastikan bahwa aliran dana tidak terhambat oleh regulator luar negeri. Pemerintah juga berupaya memperkuat kerjasama dengan bank-bank regional yang tidak terikat pada sistem SWIFT, guna memfasilitasi pembayaran secara lebih cepat.
Reaksi Internasional dan Prospek Kedepan
Komunitas internasional menanggapi perselisihan ini dengan hati-hati. Swiss Info mencatat bahwa pernyataan resmi Sudan di Jenewa menuduh UEA sebagai “negara agresor” yang secara terbuka mendukung RSF. Sementara itu, pihak UEA belum memberikan komentar resmi, namun menegaskan komitmennya terhadap stabilitas ekonomi regional.
Para analis ekonomi memperkirakan bahwa jika Sudan tidak berhasil menemukan pasar alternatif yang stabil dalam enam bulan ke depan, defisit neraca perdagangan dapat meluas, memperparah krisis moneter yang sudah melanda negara tersebut. Skenario terburuk dapat memicu hiperinflasi dan meningkatkan ketergantungan pada bantuan kemanusiaan internasional.
Di sisi lain, peluang jangka panjang tetap ada jika Sudan berhasil mengembangkan kapasitas penambangan yang lebih modern dan meningkatkan transparansi dalam perdagangan mineral. Investasi di sektor pertambangan, bila didukung oleh kebijakan fiskal yang stabil, dapat menjadi katalisator pemulihan ekonomi pasca‑konflik.
Secara keseluruhan, putusnya hubungan diplomatik dengan UEA menandai titik kritis dalam sejarah perdagangan emas Sudan. Pemerintah Khartoum kini berada pada persimpangan: mempercepat diversifikasi pasar sambil mengatasi hambatan keuangan, atau menghadapi penurunan devisa yang lebih dalam yang dapat memperburuk kondisi ekonomi dan sosial negara.













