Back to Bali – 08 April 2026 | Irlandia pada Sabtu (28/2/2026) menjadi saksi ledakan besar di perairan setelah Iran meluncurkan misil ke arah Israel sebagai bentuk balasan atas serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat. Serangan balasan tersebut menandai eskalasi baru dalam ketegangan militer di Timur Tengah, sekaligus memicu perdebatan strategis di kalangan pengamat politik dan militer internasional.
Di tengah situasi yang memanas, mantan wakil ketua umum MUI sekaligus Ketua PP Muhammadiyah, KH Anwar Abbas, mengaitkan taktik militer Iran dengan prinsip‑prinsip serangan balik (counter‑attack) dalam sepakbola, khususnya yang dipopulerkan oleh pelatih legendaris Jose Mourinho. Menurutnya, pendekatan agresif yang diusung oleh mantan Presiden AS Donald Trump—yang mengancam akan menghancurkan infrastruktur kritis Iran—dapat dibalas dengan strategi serangan terukur yang menargetkan pusat‑pusat strategis di wilayah lawan.
Strategi Counter‑Attack dalam Perspektif Militer dan Sepakbola
Kh. Anwar Abbas mencontohkan bagaimana taktik “total football” yang dipopulerkan oleh Johan Cruyff menekankan pentingnya menyerang terus-menerus untuk menutup ruang gerak lawan. Ia menyebut bahwa filosofi serupa juga diadopsi oleh Sir Alex Ferguson, Pep Guardiola, dan terutama Jose Mourinho, yang terkenal dengan formasi pertahanan kuat yang kemudian berubah menjadi serangan cepat ketika peluang muncul. Dalam konteks geopolitik, Abbas menyarankan Iran untuk mengadopsi model “counter‑attack” Herbert Chapman, pendiri taktik serangan balik modern, yang menyeimbangkan pertahanan ketat dengan serangan mendadak yang memanfaatkan kelemahan lawan.
- Identifikasi target strategis: Menentukan sasaran utama seperti instalasi militer, jaringan energi, dan infrastruktur transportasi di wilayah lawan.
- Penggunaan misil jarak jauh: Memanfaatkan persenjataan balistik dan hipersonik yang dapat menembus pertahanan udara musuh.
- Serangan terkoordinasi: Menyelaraskan serangan darat, udara, dan siber untuk menciptakan kebingungan dan menurunkan respon musuh.
Abbas menegaskan bahwa serangan balik yang terukur akan menimbulkan tekanan psikologis pada publik Amerika Serikat, memaksa mereka menuntut perubahan kebijakan atau bahkan menggeser kepemimpinan politik di dalam negeri. Ia menambahkan, “Jika rakyat Amerika lelah dan merasa terancam, mereka akan menuntut pengganti yang lebih moderat, yang pada gilirannya dapat meredakan ketegangan global.”
Meskipun analogi antara taktik sepakbola dan operasi militer terdengar metaforis, para analis militer mengakui adanya kesamaan prinsip: kecepatan, unsur kejutan, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi lapangan. Sejumlah pakar menilai bahwa Iran, yang telah mengembangkan kemampuan misil balistik dan drone, kini berpotensi mengintegrasikan strategi ini ke dalam doktrin pertahanan nasionalnya.
Namun, langkah Iran tidak lepas dari risiko. Serangan balik yang melibatkan wilayah metropolitan Amerika seperti Washington DC, New York, Chicago, atau Los Angeles dapat memicu respons militer balasan yang lebih luas, termasuk serangan siber atau penggunaan senjata konvensional yang dapat meningkatkan korban sipil. Selain itu, komunitas internasional, khususnya PBB, kemungkinan akan mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional.
Di sisi lain, kebijakan agresif Trump yang menargetkan infrastruktur Iran dianggap oleh sebagian pihak sebagai provokasi yang memicu siklus balas dendam. Pendekatan yang lebih diplomatis—seperti dialog multilateral dan penetapan zona de‑eskalasi—dikatakan lebih efektif dalam menurunkan risiko konflik berskala penuh. Meski demikian, dalam retorika politik domestik Amerika, ancaman serangan balik Iran dapat menjadi bahan bakar bagi partai‑partai yang menuntut kebijakan luar negeri yang lebih keras.
Kesimpulannya, Iran tampaknya sedang mempertimbangkan adopsi taktik serangan balik yang terinspirasi dari dunia sepakbola, dengan tujuan mengubah dinamika konflik menjadi keunggulan strategis. Namun, keberhasilan taktik ini sangat bergantung pada kemampuan teknis, koordinasi intelijen, serta respons internasional yang akan datang. Jika Iran berhasil mengeksekusi serangan yang terukur tanpa menimbulkan eskalasi tak terkendali, kemungkinan besar ia dapat memperoleh posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi politik global. Sebaliknya, kegagalan atau kesalahan perhitungan dapat memperparah isolasi diplomatik dan menambah beban ekonomi pada negara yang sudah berada di tengah tekanan sanksi internasional.













