Back to Bali – 09 April 2026 | Lestari Siti Latifa, perempuan berusia 42 tahun asal Kabupaten Banyuwangi, kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan pengalaman luar biasa yang membuatnya dikenal sebagai pengobat alternatif yang berhasil menyembuhkan ratusan pasien. Kisahnya dimulai pada tahun 2018 ketika ia mengalami dua kali mati suri secara bersamaan, sebuah peristiwa yang jarang terjadi dan menimbulkan pertanyaan ilmiah serta spiritual.
Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Awal
Berasal dari keluarga petani tradisional, Lestari tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan kepercayaan terhadap ramuan herbal. Sejak usia enam tahun, ia sudah membantu ibunya menyiapkan jamu untuk tetangga. Pengetahuan turun temurun ini menjadi pondasi kuat ketika ia dihadapkan pada krisis kesehatan pribadi yang tak terduga.
Peristiwa Mati Suri Pertama
Pada bulan September 2018, Lestari mengalami kecelakaan motor yang mengakibatkan luka berat pada dada dan paru-paru. Dokter di rumah sakit setempat menyatakan kondisi napasnya hampir berhenti. Setelah dilakukan resusitasi intensif selama dua jam, jantungnya kembali berdetak, namun denyut nadi tak terdeteksi selama tiga menit—secara medis disebut sebagai mati suri.
Selama periode henti napas tersebut, Lestari melaporkan mengalami visi spiritual yang menggambarkan dirinya berada di sebuah ruangan berwarna hijau, dikelilingi oleh cahaya. Ia mengklaim mendengar bisikan yang menuntunnya untuk “menyembuhkan melalui alam”. Ketika tim medis berhasil mengembalikannya, ia terkejut menemukan luka-luka di tubuhnya telah menyembuhkan secara alami tanpa bekas operasi.
Mati Suri Kedua dan Transformasi Spiritual
Hanya tiga bulan kemudian, pada Desember 2018, Lestari kembali dirawat karena infeksi paru-paru berat. Kondisi semakin memburuk hingga dokter menyatakan bahwa jantungnya tidak lagi berdenyut. Sekali lagi, tim medis melakukan tindakan CPR selama empat menit sebelum denyut nadi kembali muncul. Pada saat itu, Lestari mengaku kembali berada dalam keadaan “hampa” dan melihat sosok perempuan berpakaian putih yang memberinya sebatang daun pandan. “Daun itu menjadi kunci, katanya, untuk membuka gerbang penyembuhan alami,” katanya dalam wawancara.
Setelah pulih, Lestari memutuskan untuk tidak lagi mengandalkan pengobatan konvensional. Ia memulai riset mandiri mengenai khasiat daun pandan dan ramuan lain yang pernah ia lihat dalam penglihatan.
Menjadi Pengobat Alternatif
Pada tahun 2019, Lestari membuka sebuah klinik kecil bernama “Sinar Alam” di desa asalnya. Ia menawarkan perawatan berbasis ramuan herbal, pijat tradisional, dan terapi energi yang diklaimnya berakar pada pengalaman mati suri. Dalam enam bulan pertama, lebih dari 150 pasien melaporkan perbaikan signifikan pada gejala penyakit kronis seperti asma, diabetes tipe 2, dan nyeri sendi.
Berita tentang kesembuhan dramatis ini menyebar lewat media sosial, terutama platform TikTok dan Instagram, di mana video singkat menampilkan testimoni pasien yang berterima kasih kepada Lestari. Popularitasnya meningkat hingga ia diundang menjadi pembicara dalam beberapa seminar kesehatan alternatif di Jakarta dan Surabaya.
Kontroversi dan Tanggapan Medis
Walaupun banyak yang memuji, keberhasilan Lestari tidak lepas dari skeptisisme. Beberapa dokter menilai bahwa efek placebo dan perubahan gaya hidup pasien berperan besar. Namun, Lestari menegaskan bahwa semua ramuan yang ia gunakan telah teruji secara tradisional dan diproses dengan standar higienis modern.
Untuk menambah legitimasi, pada Januari 2024 ia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada untuk melakukan studi klinis kecil mengenai efek antiinflamasi ekstrak daun pandan. Hasil awal menunjukkan penurunan signifikan pada kadar marker peradangan pada kelompok percobaan.
Pengaruh Sosial dan Ekonomi
Keberadaan klinik “Sinar Alam” tidak hanya berdampak pada kesehatan, namun juga meningkatkan perekonomian lokal. Selama dua tahun terakhir, penjualan bahan baku herbal meningkat 35% dan membuka lapangan kerja bagi 12 orang warga desa.
Kesimpulannya, perjalanan Lestari Siti Latifa dari dua kali mati suri hingga menjadi tokoh pengobatan alternatif mencerminkan kombinasi antara pengalaman spiritual, pengetahuan tradisional, dan upaya ilmiah. Meskipun masih dipertanyakan oleh kalangan medis, kisahnya menginspirasi banyak orang untuk mencari alternatif penyembuhan yang bersinergi dengan ilmu pengetahuan modern.













