Back to Bali – 28 Maret 2026 | Grebeg Tahu Jombang, tradisi tahunan yang menggabungkan unsur keagamaan, kebudayaan, dan ekonomi, kembali memukau warga Jombang pada pekan lalu. Acara ini tidak hanya menampilkan hiasan gunungan tahunan, melainkan juga menjadi katalisator peningkatan pendapatan bagi ribuan rumah tangga di sekitar kota.
Asal Usul Grebeg Tahu Jombang
Grebeg Tahu Jombang berakar dari perayaan keagamaan yang dilakukan tujuh hari setelah Idul Fitri, serupa dengan tradisi “kupatan” atau “kirab gunungan ketupat” yang populer di wilayah Nganjuk. Menurut sesepuh adat setempat, tradisi ini dimulai pada era kolonial Belanda sebagai sarana mempererat silaturahmi antar‑warga serta memperkenalkan nilai‑nilai Islam yang diadaptasi oleh Wali Songo melalui simbol ketupat dan gunungan.
Rangkaian Kirab Gunungan
Kirab dimulai pada pukul 06.00 WIB dari rumah warga terpilih, dengan empat gunungan ketupat raksasa yang dibangun dari ratusan ketupat matang. Setiap gunungan dikelilingi oleh keranjang bambu berisi sayur-sayuran tradisional, yang diikat dengan selendang jarik. Warga mengenakan busana Jawa khas; pria memakai lurik dengan blangkon atau peci hitam, sementara wanita tampil anggun dengan kebaya dan jilbab.
Arak‑arakan menempuh jarak sekitar 350 meter hingga mencapai Masjid Al‑Huda, tempat doa bersama dilaksanakan. Doa ini dipercaya dapat mengharapkan berkah bagi gunungan, serta melindungi masyarakat dari segala malapetaka.
Setelah doa, suasana berubah menjadi riuh ketika warga berebut ketupat dan rangkaian janur. Tradisi ini tidak hanya sekadar hiburan, melainkan simbol kebersamaan: setiap keluarga membawa pulang ketupat sebagai bagian dari hidangan bersama di rumah masing‑masing.
Dampak Ekonomi Bagi Warga
Berbeda dengan persepsi bahwa Grebeg hanyalah acara budaya, data lapangan menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan. Lebih dari 800 pedagang lokal, termasuk penjual tahu, sayur, dan kerajinan tangan, berpartisipasi dalam bazaar yang menyertai kirab. Penjualan tahunan meningkat rata‑rata 35 % dibandingkan tahun sebelumnya, menambah pendapatan rumah tangga yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian.
- Penjual tahu tradisional melaporkan kenaikan omzet hingga Rp 2,5 juta per hari.
- Pengrajin anyaman bambu memperoleh pesanan khusus untuk keranjang kirab, menambah produksi hingga 150 %.
- Usaha kuliner ringan, seperti bakso dan kue tradisional, mencatat peningkatan penjualan sebesar 40 % selama tiga hari acara.
Selain penjualan langsung, acara ini menarik wisatawan dari luar kabupaten, termasuk pengunjung dari Surabaya dan Malang, yang menginap di homestay lokal. Pendapatan sektor perhotelan diperkirakan naik sekitar Rp 1,2 miliar selama periode grebeg.
Peran Pemerintah dan Lembaga Sosial
Pemerintah Kabupaten Jombang menyediakan dukungan logistik, termasuk penyediaan listrik portabel, fasilitas kebersihan, dan keamanan. Sementara Lembaga Sosial setempat mengoptimalkan program “Bersama Grebeg” yang menyalurkan bantuan sembako kepada keluarga kurang mampu yang ikut serta dalam kirab.
Kolaborasi ini memperkuat jaringan solidaritas sosial, menjadikan Grebeg Tahu bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga platform pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat—dari pemuda yang membantu membangun gunungan hingga para pedagang yang memanfaatkan peluang pasar—Grebeg Tahu Jombang telah membuktikan bahwa tradisi dapat bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif.
Keberlanjutan tradisi ini sangat tergantung pada partisipasi aktif warga serta dukungan berkelanjutan dari pemerintah. Jika sinergi ini terus dipertahankan, Grebeg Tahu Jombang berpotensi menjadi model bagi daerah lain yang ingin menggabungkan warisan budaya dengan strategi pemberdayaan ekonomi.













