Moldova Resmi Cabut Keanggotaan CIS: Langkah Berani Menjauh dari Pengaruh Rusia

Back to Bali – 12 April 2026 | Presiden Moldova, Maia Sandu, pada Kamis 9 April 2026 menandatangani Rancangan Undang‑Undang (RUU) yang secara resmi mencabut keanggotaan negara itu..

3 minutes

Read Time

Moldova Resmi Cabut Keanggotaan CIS: Langkah Berani Menjauh dari Pengaruh Rusia

Back to Bali – 12 April 2026 | Presiden Moldova, Maia Sandu, pada Kamis 9 April 2026 menandatangani Rancangan Undang‑Undang (RUU) yang secara resmi mencabut keanggotaan negara itu dalam Commonwealth of Independent States (CIS). Penandatanganan itu menandai titik balik politik yang jelas: Moldova secara resmi memutuskan hubungan institusional dengan blok yang dipimpin Rusia dan menegaskan niatnya untuk memperdalam integrasi dengan Uni Eropa.

Latar Belakang Penarikan

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, pemerintah Chisinau mulai menangguhkan partisipasinya dalam kegiatan CIS. Menurut analisis internal, keanggotaan dalam organisasi tersebut tidak memberikan manfaat ekonomi signifikan, mengingat mayoritas perdagangan Moldova kini dilakukan secara bilateral dengan negara‑negara Uni Eropa. Selain pertimbangan ekonomi, keamanan regional dan tekanan politik domestik membuat Chisinau memandang CIS sebagai arena yang semakin tidak relevan.

Proses Legislatif

Langkah formal penarikan dimulai pada Januari 2026 ketika pemerintah mengajukan RUU penarikan kepada parlemen. Pada 2 April 2026, Dewan Nasional Moldova menyetujui pembatalan semua perjanjian yang mengikat negara itu dalam kerangka CIS. RUU yang telah ditandatangani oleh Presiden pada 9 April kini menjadi landasan hukum bagi proses keluarnya Moldova yang diperkirakan selesai pada akhir tahun 2026.

Jejak Serupa di Wilayah

Keputusan Moldova mengikuti jejak dua negara tetangga: Ukraina yang mengumumkan penarikan pada 2014 setelah aneksasi Krimea dan resmi keluar pada 2018, serta Georgia yang mengakhiri keanggotaannya setelah konflik bersenjata dengan Rusia pada 2008. Kedua contoh tersebut menunjukkan pola di mana negara‑negara di kawasan Kaukasus dan Eropa Timur menolak struktur yang dianggap tidak mampu melindungi kepentingan nasional mereka.

Reaksi dan Kritik Domestik

Keluar dari CIS tidak lepas dari kritik, terutama dari tokoh‑tokoh pro‑Rusia. Mantan presiden Moldova, Vladimir Voronin, memperingatkan bahwa keputusan ini dapat menimbulkan risiko ekonomi, terutama bagi warga Moldova yang bekerja di Rusia. Ia menilai bahwa pemutusan hubungan institusional dapat mempersempit akses pasar kerja dan mengganggu aliran remitansi yang selama ini menjadi sumber pendapatan penting bagi banyak keluarga.

Langkah Hukum terhadap Rusia

Menteri Luar Negeri Moldova, Mihai Popsoi, menegaskan bahwa negara itu akan mengajukan gugatan internasional terhadap Rusia atas kerusakan infrastruktur energi dan polusi Sungai Dniester yang, menurutnya, merupakan konsekuensi langsung dari agresi militer Moskow. Popsoi mengakui peluang kemenangan yang kecil, namun menekankan pentingnya tindakan hukum sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kepatuhan pada hukum internasional.

Langkah Budaya dan Keamanan

Pada Februari 2026, Pemerintah Moldova menutup Pusat Kebudayaan Rusia di Chisinau setelah insiden pelanggaran wilayah udara yang dilakukan oleh drone Rusia. Penutupan itu dipandang sebagai sinyal kuat bahwa Chisinau tidak akan mentolerir intervensi militer maupun propaganda budaya yang dianggap mengancam kedaulatan nasional.

Secara keseluruhan, penarikan resmi dari CIS memperkuat arah kebijakan luar negeri Moldova yang semakin berorientasi pada Uni Eropa. Dengan mengalihkan fokus perdagangan, investasi, dan keamanan ke Barat, Chisinau berharap dapat mempercepat proses akreditasi keanggotaan UE yang saat ini tengah berada pada tahap negosiasi. Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen Moldova untuk menolak pengaruh politik Rusia dan memperkuat kemandirian nasionalnya.

Keputusan ini menandai babak baru dalam sejarah politik Moldova, menegaskan bahwa negara kecil di persimpangan antara Barat dan Rusia kini memilih jalur integrasi ke Eropa sebagai fondasi utama pembangunan masa depan.

About the Author

Zillah Willabella Avatar