Back to Bali – 12 April 2026 | Jordy Tutuarima, bek keturunan Maluku yang pernah menjadi tulang punggung Persis Solo, mengungkap kondisi yang disebutnya “aneh” di klub tersebut pada musim 2025‑2026. Pernyataan berani sang mantan pemain ini menyoroti dua masalah utama: pemecatan mendadak seluruh pemain asing dan keterlambatan pembayaran gaji yang menimpa pemain lokal selama berbulan‑bulan.
Perombakan Besar Setelah Pergantian Pelatih
Pada Januari 2026, Persis Solo menunjuk pelatih baru yang datang dari Belanda. Keputusan tersebut memicu aksi drastis oleh manajemen klub, yakni menuntut semua pemain asing untuk segera meninggalkan tim. Sebanyak sembilan pemain asing dilaporkan menghilang tanpa pemberitahuan resmi, meninggalkan lubang besar di lini serang dan tengah tim.
Menurut Tutuarima, tindakan tersebut diambil setelah tim hanya mencatat satu kemenangan pada putaran pertama Liga Super 2025‑2026. Kekalahan beruntun memaksa manajemen memecat pelatih Peter de Roo dan melakukan evaluasi besar‑besaran, termasuk penggantian total skuad asing.
Gaji yang Tertunda Membuat Moral Terpuruk
Selain pergantian pemain, Tutuarima menyoroti masalah keuangan internal klub. “Kami tak dibayar berbulan‑bulan, jadi Anda bisa memperkirakan hasilnya akan menurun,” ujarnya dalam sebuah wawancara yang dikutip oleh media Belanda Gelderlander. Ketidakpastian pembayaran gaji dirasakan lebih berat oleh pemain lokal yang memiliki tanggungan keluarga, sehingga motivasi mereka di lapangan menurun drastis.
Keterlambatan gaji tidak hanya memengaruhi performa di lapangan, tetapi juga menimbulkan ketegangan internal. Beberapa pemain dilaporkan mengajukan permohonan pemutusan kontrak secara sepihak, namun prosesnya terhambat oleh regulasi transfer yang membatasi pergerakan pemain setelah awal Februari.
Keputusan Tutuarima untuk Kembali ke Belanda
Setelah mengalami situasi yang tidak menentu, Jordj Tutuarima memilih meninggalkan Persis Solo dan menandatangani kontrak dengan klub kasta ketiga Belanda, GVVV Veenendaal. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut menandai berakhirnya kariernya sebagai pemain profesional di Indonesia. “Ya, saya rasa karier profesional saya berakhir. Saya berdiskusi dengan keluarga dan memutuskan memasuki fase baru, dari profesional menuju sepak bola amatir,” ujarnya.
Keputusan tersebut diambil setelah klub tidak dapat menempatkan Tutuarima di tim lain karena batas waktu transfer yang telah lewat. Ia juga mengungkapkan kekecewaannya atas ketidakpastian regulasi yang menghalangi pemain asing untuk berpindah klub di tengah musim.
Dampak Jangka Panjang bagi Persis Solo
Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai tata kelola klub di tingkat menengah Liga Indonesia. Pengusiran pemain asing secara massal tanpa penggantian yang memadai memperlemah daya saing tim, sementara ketidakmampuan membayar gaji secara tepat waktu mengikis kepercayaan pemain terhadap manajemen.
Para pengamat sepakbola menilai bahwa Persis Solo perlu melakukan restrukturisasi keuangan dan meninjau kebijakan rekrutmen pemain asing agar tidak mengulangi kesalahan serupa. Tanpa langkah korektif, klub berisiko semakin terpuruk di klasemen dan kehilangan dukungan suporter.
Kasus Jordy Tutuarima menjadi contoh nyata bahwa masalah internal klub dapat memengaruhi hasil di lapangan secara signifikan. Ke depan, harapan tetap ada bagi Persis Solo untuk bangkit kembali, namun dibutuhkan komitmen nyata dari manajemen dalam menyelesaikan masalah gaji dan merancang kebijakan perekrutan yang lebih berkelanjutan.













