China Hentikan Ekspor Asam Sulfat, Rantai Pasok Global Menghadapi Risiko Lumpuh Besar

Back to Bali – 13 April 2026 | Jakarta, 12 April 2026 – Konflik militer yang memanas di Timur Tengah kini menimbulkan dampak domino pada..

3 minutes

Read Time

China Hentikan Ekspor Asam Sulfat, Rantai Pasok Global Menghadapi Risiko Lumpuh Besar

Back to Bali – 13 April 2026 | Jakarta, 12 April 2026 – Konflik militer yang memanas di Timur Tengah kini menimbulkan dampak domino pada ekonomi global. Penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz memutus pasokan belerang (sulfur) – bahan baku utama produksi asam sulfat – yang sebelumnya menjadi komponen penting bagi berbagai industri di seluruh dunia.

Menanggapi krisis tersebut, China, salah satu produsen asam sulfat terbesar, memutuskan untuk menghentikan ekspor bahan kimia penting ini. Kebijakan tersebut diproyeksikan dapat berlangsung hingga akhir 2026 dan bertujuan melindungi kebutuhan industri dalam negeri dari lonjakan harga serta kelangkaan bahan baku.

Dampak pada Industri Tambang Tembaga

Kebijakan ekspor ini pertama kali dirasakan oleh industri tambang tembaga, khususnya Chili yang merupakan produsen tembaga terbesar dunia. Chili mengimpor lebih dari satu juta ton asam sulfat per tahun dari China untuk proses hidrometalurgi melalui metode heap leaching. Diperkirakan sekitar 20% produksi tembaga Chili bergantung pada asam sulfat tersebut.

Sejak larangan ekspor diberlakukan, harga asam sulfat di pasar spot Chili melonjak hingga 44% dalam satu bulan. Kenaikan biaya ini menekan margin keuntungan penambang dan memaksa beberapa perusahaan menunda atau menghentikan operasi produksi. Penurunan output tembaga dunia berpotensi mengganggu pasokan mineral kritis yang diperlukan untuk teknologi tinggi, kendaraan listrik, dan proyek transisi energi hijau.

Gangguan pada Industri Pupuk Fosfat

Selain sektor logam, industri pupuk fosfat global juga merasakan tekanan berat. Asam sulfat diperlukan untuk mengolah batuan fosfat menjadi pupuk yang siap pakai. Dengan pasokan China terhenti, produsen pupuk di Asia, Afrika, dan Amerika Latin mengalami penurunan kapasitas produksi. Pada saat yang sama, musim tanam di banyak negara sedang berlangsung, meningkatkan permintaan pupuk secara signifikan.

Kekurangan pupuk dapat berujung pada kenaikan harga pangan, terutama di wilayah yang sangat tergantung pada impor pupuk. Analisis para pakar pertanian menunjukkan bahwa harga beras, gandum, dan jagung dapat meningkat 5‑8% dalam jangka pendek jika gangguan pasokan terus berlanjut.

Implikasi Ekonomi Global

Penutupan ekspor asam sulfat oleh China memperburuk ketegangan ekonomi yang telah dipicu oleh konflik Timur Tengah. Dengan sekitar sepertiga produksi sulfur dunia berasal dari kawasan tersebut, gangguan suplai menyebabkan inflasi bahan baku di sektor kimia, logam, dan pertanian.

Beberapa negara berupaya mencari alternatif, termasuk meningkatkan produksi sulfur dari sumber domestik atau mengimpor dari negara lain seperti Rusia dan India. Namun, peningkatan kapasitas produksi memerlukan investasi jangka panjang dan tidak dapat menutup defisit dalam hitungan bulan.

Pemerintah-pemerintah di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia tengah merencanakan kebijakan penjaminan pasokan strategis untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok. Di sisi lain, perusahaan multinasional mempertimbangkan diversifikasi rantai pasok dengan mengalihkan sebagian proses produksi ke wilayah yang lebih stabil.

Respon China dan Prospek ke Depan

Pejabat China menyatakan bahwa keputusan ini bersifat sementara dan akan dievaluasi secara berkala berdasarkan situasi pasar global serta kebutuhan domestik. Pemerintah menekankan bahwa stabilitas industri dalam negeri menjadi prioritas utama untuk menghindari inflasi harga konsumen.

Jika konflik di Timur Tengah mereda dan jalur pelayaran kembali terbuka, kemungkinan besar China akan mempertimbangkan kembali kebijakan ekspornya. Namun, selama ketegangan berlanjut, industri global harus menyiapkan strategi mitigasi risiko, termasuk penyimpanan stok cadangan, kontrak jangka panjang, dan investasi dalam teknologi pengolahan alternatif.

Secara keseluruhan, penghentian ekspor asam sulfat oleh China menandai titik kritis dalam rantai pasok global. Dampaknya meluas dari tambang tembaga hingga produksi pupuk, memicu kenaikan harga bahan baku dan mengancam stabilitas pangan serta energi. Koordinasi internasional dan diversifikasi sumber daya menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko kegagalan sistemik di masa depan.

About the Author

Bassey Bron Avatar