Terungkap! Bagaimana Perang Anglo‑Zanzibar Hanya 38 Menit Mengubah Peta Kekuasaan Dunia

Back to Bali – 13 April 2026 | Perang Anglo‑Zanzibar yang terjadi pada 27 Agustus 1896 menjadi catatan paling singkat dalam sejarah militer: hanya 38..

Terungkap! Bagaimana Perang Anglo‑Zanzibar Hanya 38 Menit Mengubah Peta Kekuasaan Dunia

Back to Bali – 13 April 2026 | Perang Anglo‑Zanzibar yang terjadi pada 27 Agustus 1896 menjadi catatan paling singkat dalam sejarah militer: hanya 38 menit, namun dampaknya terasa hingga ke panggung politik dunia. Konflik ini muncul dari persaingan kepentingan kolonial Inggris dan Jerman, serta perebutan takhta di kepulauan Zanzibar yang strategis di lepas pantai Tanzania.

Latar Belakang Sejarah Zanzibar

Zanzibar, sebuah kepulauan di Samudra Hindia, pertama kali dijamah oleh Portugis pada akhir abad ke‑15 lewat penjelajahan Vasco da Gama. Selama beberapa abad berikutnya, kepulauan ini berkembang menjadi pusat perdagangan rempah‑rempah, terutama cengkeh, dan menjadi salah satu pasar budak terbesar pada masanya. Pada abad ke‑19, Zanzibar menikmati masa keemasan ekonomi berkat iklim tropis yang mendukung pertanian rempah serta jaringan perdagangan yang meluas ke Eropa, Timur Tengah, dan Asia.

Pengaruh Eropa semakin kuat setelah Perjanjian Heligoland‑Zanzibar (1884) dan Perjanjian Inggris‑Jerman (1886) yang membagi zona pengaruh di Afrika Timur. Inggris memperoleh hak veto atas penunjukan sultan, menjadikan Zanzibar secara de‑facto protektorat Inggris, sementara Jerman mengakui kedaulatan Inggris atas kepulauan tersebut.

Penyebab Perebutan Takhta

Kematian Sultan Hamad bin Thuwaini pada 25 Agustus 1896 memicu krisis suksesi. Sultan Hamad dikenal bersahabat dengan Inggris, sehingga otoritas kolonial menuntut agar takhta diisi oleh Hamad bin Muhammed, kandidat yang disetujui London. Namun, Khalid bin Barghash, saudara dekat Hamad, segera mengumumkan diri sebagai sultan tanpa persetujuan Inggris, menolak intervensi Barat dan mendapatkan dukungan sebagian elit lokal serta simpati Jerman.

Inggris menanggapi dengan mengeluarkan ultimatum pada pukul 09.00, menuntut Khalid menyerahkan kekuasaan dalam tiga belas menit. Khalid menolak, mempersiapkan pertahanan di Istana Sultan yang terletak di Dar‑es‑Salaam.

Persiapan Militer dan Strategi

Pasukan Inggris dipimpin oleh Laksamana Muda Harry Rawson dan terdiri dari lima kapal perang: HMS Philomel, HMS St George, HMS Racoon, HMS Thrush, dan HMS Sparrow, serta sekitar 150 marinir dan 900 prajurit askari. Senjata utama meliputi meriam laut berkaliber besar dan senapan mesin modern.

Di sisi Zanzibar, Khalid mengerahkan sekitar 2.800 tentara, termasuk pasukan bersenjata tradisional dan 700 askari yang dilengkapi senapan, empat meriam artileri, satu baterai pantai, beberapa senapan mesin Maxim, satu senapan Gatling, serta kapal HHS Glasgow yang berfungsi sebagai kapal induk kecil.

  • Angkatan Laut Inggris: 5 kapal perang, 150 marinir, 900 askari.
  • Pasukan Sultan Khalid: ~2.800 prajurit, 4 meriam, 1 baterai pantai, senapan mesin Maxim, senapan Gatling, 1 kapal induk HHS Glasgow.

Serangan 38 Menit yang Menggemparkan

Setelah ultimatum berakhir pada pukul 09.02, HMS St George membuka tembakan artileri berat, diikuti tembakan meriam dari kapal lain. Dalam dua menit pertama, lebih dari 500 peluru artileri dan 4.100 tembakan senapan mesin diarahkan ke Istana Sultan. Artileri Zanzibar mengalami kerusakan parah; kapal HHS Glasgow hancur dan menimbulkan kebakaran di istana.

Kerusuhan berlanjut hingga sekitar pukul 09.40. Pasukan Sultan mengalami kerugian sekitar 500 jiwa, termasuk banyak prajurit yang terjebak dalam bangunan runtuh. Di pihak Inggris, hanya satu pelaut yang terluka secara tidak sengaja. Pada pukul 09.45, Khalid bin Barghash menyerah, dan Inggris mengangkat Hamad bin Muhammed sebagai sultan baru.

Perang singkat ini mempertegas dominasi militer Inggris di wilayah Afrika Timur dan menegaskan efektivitas kebijakan “gunboat diplomacy” yang mengandalkan kekuatan laut untuk menegakkan kepentingan kolonial.

Meski durasinya singkat, perang ini menjadi contoh klasik tentang bagaimana keputusan politik cepat, didukung oleh teknologi militer modern, dapat mengubah nasib sebuah negara dalam hitungan menit. Konflik tersebut juga menandai berakhirnya era perlawanan internal Zanzibar terhadap pengaruh Barat, membuka jalan bagi pemerintahan kolonial yang lebih terstruktur hingga kemerdekaan pada pertengahan abad ke‑20.

About the Author

Marshauwn Marshauwn Agatho Avatar