Hotman Paris Bungkam Klaim ‘Downgrade’ Pinkan Mambo: Ngamen Bukan Pekerjaan Hina

Back to Bali – 16 April 2026 | Jakarta, 29 Mei 2024 – Pengacara selebritas Hotman Paris mengeluarkan pernyataan tegas setelah aksi Pinkan Mambo mengamen..

Hotman Paris Bungkam Klaim 'Downgrade' Pinkan Mambo: Ngamen Bukan Pekerjaan Hina

Back to Bali – 16 April 2026 | Jakarta, 29 Mei 2024 – Pengacara selebritas Hotman Paris mengeluarkan pernyataan tegas setelah aksi Pinkan Mambo mengamen di jalanan sekaligus melakukan siaran langsung (live) di media sosial menuai komentar pedas dari beberapa netizen. Hotman menegaskan bahwa bernyanyi di jalan bukanlah bentuk pekerjaan hina atau penurunan karier, melainkan aktivitas sah yang sudah lazim dilakukan oleh seniman di berbagai belahan dunia.

Hotman Paris Membantah Istilah “Downgrade”

Pernyataan kritis pertama datang dari aktris Michelle Ashley yang menuding aksi Pinkan Mambo sebagai “downgrade” karena penyanyi itu memilih bernyanyi di trotoar alih-alih di panggung atau klub malam. Menanggapi hal tersebut, Hotman Paris berargumen bahwa pilihan panggung atau tempat tampil bukanlah satu-satunya ukuran prestise seorang seniman.

“Kalau dia bisa nyanyi di panggung atau klub malam, dia pasti ke sana. Itu bukan downgrade. Ya itulah levelnya dia di situ. Mau diapain?” ujar Hotman dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (29/5/2024). Ia menambahkan bahwa keputusan Pinkan Mambo untuk mengamen lebih didasari pada kebebasan berkreasi dan mencari cara baru untuk terhubung dengan audiens.

Ngamen di Jalan: Praktik Global yang Diakui

Hotman menekankan bahwa mengamen di ruang publik telah menjadi fenomena global, termasuk di negara‑negara Barat. Ia mencontohkan banyak musisi jalanan yang mengisi ruang publik dengan melodi mereka, dan menyatakan bahwa selama tidak melanggar peraturan setempat, kegiatan tersebut sah secara hukum.

“Kalau mengamen itu, di negara‑negara Barat pun, di mana‑mana ada orang mengamen. Itu bukan pekerjaan hina. Itu lebih terhormat daripada pekerjaan terima tas Hermes dari laki‑laki yang menyimpan dia,” tegasnya, menyinggung stereotip tentang pekerjaan yang dianggap ‘tidak mulia’.

Aspek Legal dan Moralitas

Menurut Hotman, selama aksi mengamen tidak melanggar ketentuan hukum—seperti menghalangi lalu lintas atau mengganggu ketertiban umum—maka kegiatan tersebut berada dalam ranah kebebasan berpendapat dan berekspresi. Ia menegaskan pentingnya menghargai pilihan seniman yang ingin menyajikan karya mereka secara langsung kepada publik, tanpa harus melalui mekanisme industri hiburan yang terkadang eksklusif.

“Saya lihat komen seolah‑olah itu pekerjaan hina, seolah‑olah itu tidak pantas ya. Padahal itu bukan pekerjaan hina. Kalau dia merasa bahwa itu cocok sama dia dan itu pekerjaan halal ya kenapa nggak,” ujar Hotman lagi, menyoroti bahwa penilaian moral harus didasarkan pada niat dan kepatuhan terhadap peraturan, bukan pada persepsi sempit masyarakat.

Reaksi Publik dan Media Sosial

Setelah aksi Pinkan Mambo viral, komentar publik terbagi antara yang memuji keberanian seniman itu dan yang mengkritik dianggap merendahkan citra artis. Beberapa pengguna media sosial menyebut aksi tersebut sebagai upaya mencari perhatian, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk solidaritas dengan seniman jalanan.

Hotman menyoroti bahwa fokus utama seharusnya pada apakah Pinkan Mambo merasa nyaman dengan pilihan tersebut. “Apakah Pinkan merasa nyaman atau tidak dengan aksinya bernyanyi di jalan sambil melakukan live di media sosial. Kalau dia merasa cocok, kenapa tidak?” kata Hotman.

Apakah Hotman Akan Mengundang Pinkan Mambo?

Saat ditanya apakah ia berniat mengundang Pinkan Mambo untuk tampil di klub malam miliknya, Hotman menjawab bahwa belum ada rencana. “Belum kepikirkan ke arah sana karena kita sudah ada semua penyanyinya,” ungkapnya, menegaskan bahwa keputusan tersebut masih dalam pertimbangan.

Namun, ia menutup dengan harapan bahwa aksi-aksi kreatif seperti ini dapat membuka ruang diskusi lebih luas tentang definisi pekerjaan seni yang layak dan penghargaan terhadap seniman jalanan.

Dengan menegaskan bahwa mengamen bukanlah pekerjaan hina, Hotman Paris menantang stereotip lama yang mengaitkan nilai sebuah karya dengan tempat penampilannya. Pernyataan tersebut menambah dimensi baru dalam perdebatan publik mengenai seni, ekonomi kreatif, dan hak seniman di era digital.

About the Author

Marshauwn Marshauwn Agatho Avatar