Back to Bali – 16 April 2026 | Jakarta, 15 April 2026 – Shell Indonesia memperkenalkan arah baru dalam operasional stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) setelah penunjukan CEO baru, David Hartono, yang menegaskan komitmen perusahaan untuk beralih ke model bisnis berkelanjutan. Langkah strategis ini diharapkan menjadi katalisator perubahan industri energi di Indonesia, sekaligus menyesuaikan diri dengan kebijakan nasional yang semakin menekankan transisi energi bersih.
Visi Baru di Bawah Kepemimpinan David Hartono
David Hartono, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Operasi Regional di Asia Tenggara, menyampaikan visi tiga pilar utama: digitalisasi layanan, integrasi energi terbarukan, dan pengembangan ekosistem mobilitas listrik. “Kami tidak lagi melihat SPBU hanya sebagai tempat mengisi bensin, melainkan sebagai pusat layanan mobilitas modern yang menyediakan listrik, hidrogen, serta layanan digital bagi konsumen,” ujar Hartono dalam konferensi pers yang diadakan di Jakarta.
Strategi Pengalihan Bisnis SPBU
Strategi pengalihan bisnis dirinci dalam tiga fase utama:
- Fase I (2026-2027): Renovasi 30% jaringan SPBU utama untuk menambahkan stasiun pengisian listrik (EVSE) berkapasitas tinggi serta fasilitas pembayaran non-tunai berbasis aplikasi.
- Fase II (2028-2029): Pemasangan panel surya di atap setiap SPBU, memanfaatkan lahan terbatas untuk produksi energi hijau yang akan menyuplai kebutuhan listrik stasiun dan jaringan lokal.
- Fase III (2030 ke atas):> Pengembangan pilot proyek hidrogen hijau di lima lokasi strategis, serta kolaborasi dengan pemerintah untuk menyediakan infrastruktur bahan bakar alternatif.
Seluruh tahapan akan didukung oleh investasi sebesar US$1,2 miliar, dengan sebagian dana dialokasikan untuk pelatihan tenaga kerja dan kampanye edukasi konsumen.
Dampak pada Konsumen dan Pengguna Jalan
Perubahan ini diharapkan memberikan manfaat langsung bagi pemilik kendaraan listrik, yang kini dapat mengakses layanan pengisian cepat di lebih dari 200 lokasi Shell di seluruh Indonesia pada akhir 2027. Selain itu, program loyalitas berbasis poin akan memberikan insentif bagi konsumen yang beralih ke energi bersih, termasuk diskon pengisian listrik dan akses ke layanan perawatan kendaraan.
Untuk pengguna kendaraan konvensional, Shell tetap menyediakan bahan bakar fosil dengan standar kualitas tinggi, namun secara bertahap memperkenalkan bahan bakar berkurang emisi seperti biofuel dan bensin berkurang sulfur.
Reaksi Industri dan Pemerintah
Langkah Shell mendapat sambutan positif dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang menyatakan bahwa inisiatif ini sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 2025-2045. “Kehadiran pemain global yang serius dalam transisi energi akan mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia,” kata Direktur Biro Kebijakan Energi, Rina Wibowo.
Di sisi lain, kompetitor utama seperti Pertamina dan Pertamina Retail juga mempercepat program serupa, menandakan terjadinya kompetisi sehat dalam penyediaan layanan mobilitas berkelanjutan.
Tantangan dan Peluang
Meskipun prospek menjanjikan, Shell Indonesia menghadapi sejumlah tantangan, antara lain ketersediaan listrik yang stabil di daerah terpencil, biaya instalasi infrastruktur EVSE yang masih tinggi, serta kebutuhan edukasi masyarakat tentang manfaat kendaraan listrik. Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan berencana menggandeng pemerintah daerah dan BUMN listrik dalam skema kemitraan publik-swasta.
Di sisi peluang, penetrasi pasar kendaraan listrik diproyeksikan meningkat 25% per tahun hingga 2030, menciptakan potensi pendapatan baru yang signifikan bagi Shell. Selain itu, integrasi layanan digital seperti aplikasi pembayaran, monitoring konsumsi energi, dan layanan darurat dapat membuka aliran pendapatan berulang (recurring revenue) yang stabil.
Secara keseluruhan, arah baru yang dibawa oleh CEO David Hartono menandai transformasi fundamental dalam model bisnis SPBU di Indonesia. Dengan kombinasi investasi besar, kolaborasi lintas sektor, dan fokus pada inovasi, Shell Indonesia menyiapkan dirinya sebagai pemimpin dalam ekosistem mobilitas hijau yang akan menjadi tulang punggung ekonomi berkelanjutan negara kepulauan.













