Back to Bali – 19 April 2026 | Jakarta, 19 April 2026 – Sorotan publik kembali tertuju pada aktor muda Ammar Zoni setelah muncul rumor bahwa ia menolak melakukan video call dengan anak Irish Bella, Irish Bella Putri. Beredar luas bahwa penolakan tersebut disebabkan oleh perseteruan pribadi dengan Haldy Sabri, sahabat lama keluarga Zoni. Namun, fakta yang terungkap melalui pernyataan langsung dari Ammar mengungkap motivasi yang jauh lebih personal dan bukan sekadar drama selebriti.
Motif Keluarga yang Lebih Dalam
Ammar Zoni menjelaskan bahwa ketidakinginannya untuk menghubungi secara visual bukanlah akibat konflik dengan Haldy Sabri, melainkan kekhawatiran akan dampak emosional pada anaknya sendiri. Ia mengungkapkan bahwa sejak perceraian orang tuanya, hubungan dengan anaknya menjadi sensitif. “Saya takut jika saya muncul di layar, anak saya yang masih kecil akan merasa tertekan atau bingung melihat wajah orang yang tidak pernah ia temui secara langsung,” ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan media hiburan terkemuka.
Selain itu, Ammar menambahkan bahwa ia sedang menjalani proses konseling keluarga untuk memperbaiki komunikasi dengan anaknya. Ia menegaskan bahwa setiap langkah yang diambilnya bertujuan melindungi kesejahteraan mental sang anak, bukan sekadar menghindari Haldy Sabri atau menyulut kontroversi publik.
Hubungan dengan Haldy Sabri: Faktanya Bukan Penyebab
Spekulasi mengenai peran Haldy Sabri mulai mengemuka ketika foto-foto kebersamaan antara Haldy dan keluarga Zoni beredar di media sosial. Netizen dengan cepat menyimpulkan adanya perseteruan yang memicu penolakan Ammar. Namun, Ammar secara tegas membantah dugaan tersebut. “Saya dan Haldy sudah lama bersahabat, tidak ada masalah pribadi yang memengaruhi keputusan saya dengan anak Irish Bella,” tegasnya.
Menurut sumber terdekat, hubungan antara Ammar dan Haldy tetap baik, dan keduanya bahkan pernah berdiskusi mengenai proyek bersama yang masih dalam tahap perencanaan. Oleh karena itu, rumor yang mengaitkan penolakan video call dengan Haldy dianggap sebagai contoh cepatnya penyebaran hoaks di dunia maya.
Paralel dengan Keputusan Zeda Salim Melepas Hijab
Sementara itu, selebriti lain, Zeda Salim, juga menjadi sorotan publik setelah memutuskan melepas hijab. Keputusan tersebut awalnya ditafsirkan sebagai isyarat perubahan gaya hidup atau bahkan hubungan asmara baru, namun Zeda menegaskan bahwa motivasinya lebih bersifat praktis. Ia menyatakan bahwa demi menafkahi anak dan orang tua yang sudah lanjut usia, ia harus mengambil pekerjaan di industri hiburan yang menuntut penampilan lebih fleksibel.
Dalam sebuah wawancara televisi, Zeda mengaku sempat melakukan salat istikharah untuk mencari petunjuk Allah sebelum mengambil langkah tersebut. Tak lama setelah doa, ia menerima tawaran program dari sebuah rumah produksi, yang ia pandang sebagai jawaban atas doa-doanya. Keputusan Zeda menunjukkan betapa tekanan ekonomi dan tanggung jawab keluarga dapat memengaruhi pilihan penampilan publik seorang selebriti.
Persamaan Nilai Keluarga di Balik Keputusan Kedua Selebriti
Baik Ammar Zoni maupun Zeda Salim menempatkan kepentingan keluarga di atas ekspektasi publik. Kedua sosok ini menolak untuk menyerah pada spekulasi media, melainkan menekankan bahwa keputusan mereka diambil demi kesejahteraan anak dan orang tua. Pada intinya, mereka menunjukkan bahwa di dunia selebriti, tekanan ekonomi dan emosional sering kali menjadi faktor penentu yang lebih kuat daripada drama gosip.
Para ahli psikologi anak menilai bahwa keputusan Ammar untuk menunda video call dapat menjadi strategi perlindungan yang bijak, asalkan diimbangi dengan dukungan emosional yang konsisten. Sementara itu, keputusan Zeda untuk menyesuaikan penampilan demi pekerjaan mencerminkan realitas banyak keluarga yang harus menyeimbangkan antara identitas pribadi dan kebutuhan finansial.
Kesimpulannya, rumor tentang Haldy Sabri tidak memiliki dasar yang kuat dalam menelusuri mengapa Ammar Zoni menghindari video call dengan anak Irish Bella. Kedua cerita ini menegaskan kembali pentingnya menilai keputusan selebriti melalui lensa tanggung jawab keluarga, bukan sekadar sensasi media.













