Back to Bali – 19 April 2026 | Sejumlah negara, termasuk Republik Indonesia, Arab Saudi, dan 14 negara Muslim lainnya, secara bersamaan mengeluarkan pernyataan kecaman keras atas keputusan Israel mengirim duta besar ke Somaliland. Langkah Israel ini dianggap melanggar kedaulatan dan integritas wilayah Republik Federal Somalia serta menimbulkan potensi ketegangan di kawasan Tanduk Afrika.
Rangkaian Pernyataan Bersama Menteri Luar Negeri
Pada Minggu (19 April 2026), kementerian luar negeri dari Arab Saudi, Mesir, Sudan, Libya, Bangladesh, Aljazair, Palestina, Turki, Indonesia, Pakistan, Kuwait, serta perwakilan resmi Somalia menegaskan penolakan mutlak atas tindakan Israel. Mereka menegaskan bahwa penunjukan perwakilan diplomatik Israel untuk wilayah yang disebut “Somaliland” merupakan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan, kesatuan, dan integritas wilayah Somalia yang diakui secara internasional.
Para menteri menekankan bahwa mereka menolak segala bentuk tindakan sepihak yang dapat merusak kesatuan negara atau melanggar kedaulatan. Pernyataan tersebut juga menyoroti bahwa Somaliland masih dianggap sebagai bagian integral dari Republik Federal Somalia, dan tidak ada negara lain yang secara sah mengakui kemerdekaannya selain Israel.
15 Negara Muslim Bergabung dalam Kecaman
Selain negara-negara yang disebutkan di atas, 15 negara Muslim dunia—di antaranya Oman, Kuwait, Arab Saudi, Mesir, Somalia, Sudan, Libya, Bangladesh, Aljazair, Turki, Indonesia, Pakistan, Mauritania, Yordania, dan Palestina—menyampaikan kecaman serupa melalui pernyataan bersama yang dirilis pada Sabtu (18 April 2026). Mereka menilai keputusan Israel sebagai pelanggaran tegas terhadap kedaulatan Somalia dan menegaskan kembali dukungan mereka terhadap penyelesaian damai serta integritas wilayah di kawasan tersebut.
Reaksi Somaliland: Tuduhan Munafik
Menanggapi kecaman tersebut, pemerintah Somaliland melontarkan kritik tajam, menyebut negara-negara Muslim yang mengutuk langkah Israel sebagai “munafik”. Dalam sebuah unggahan di platform X, pejabat Somaliland menanyakan mengapa negara-negara tersebut tidak mengutuk kelompok teroris seperti Al‑Shabaab, ISIS, Taliban, al‑Qaeda, atau Hizbullah, melainkan fokus pada keputusan diplomatik Israel.
Republik Somaliland menegaskan bahwa mereka adalah satu-satunya negara Muslim di Tanduk Afrika yang berhasil menciptakan stabilitas, demokrasi, dan kebebasan dari ancaman teror. Pemerintah Somaliland juga mencatat bahwa pengakuan Israel atas kedaulatan mereka pada Desember 2025, serta pengiriman duta besar Michael Lotem pada 15 April 2026, merupakan bukti nyata bahwa hubungan bilateral mereka sedang berkembang.
Implikasi Geopolitik di Kawasan
Para menteri menilai tindakan Israel tidak hanya melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Akta Pendirian Uni Afrika, tetapi juga menciptakan preseden berbahaya yang dapat mengganggu stabilitas regional. Mereka khawatir langkah tersebut dapat memicu ketegangan lebih lanjut di wilayah Tanduk Afrika, yang sudah rawan konflik dan persaingan pengaruh antara kekuatan luar.
Indonesia, sebagai salah satu anggota pernyataan bersama, menegaskan komitmennya terhadap prinsip non‑intervensi dan penghormatan terhadap kedaulatan negara lain. Menteri Luar Negeri Indonesia menyatakan, “Indonesia selalu mendukung penyelesaian sengketa melalui dialog dan menghormati integritas wilayah negara sah. Kami menolak segala upaya yang dapat memecah belah atau mengganggu stabilitas kawasan.”
Respons Internasional dan Langkah Selanjutnya
Sejauh ini, tidak ada negara lain yang secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara berdaulat, kecuali Israel. Pengakuan tersebut menimbulkan pertanyaan tentang motivasi geopolitik Israel, mengingat hubungan historisnya dengan negara-negara Arab dan Muslim. Sementara itu, komunitas internasional, termasuk Uni Afrika dan PBB, belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai status Somaliland pasca keputusan Israel.
Pengamat politik menilai bahwa kecaman kolektif dari negara-negara Muslim dan Indonesia dapat menambah tekanan diplomatik pada Israel, sekaligus memperkuat posisi Somalia dalam menegaskan kedaulatannya atas wilayah Somaliland. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa konflik diplomatik ini dapat bereskalasi menjadi ketegangan militer jika tidak dikelola dengan hati‑hati.
Dengan latar belakang konflik yang sudah lama berlangsung antara Somalia dan Somaliland, serta dinamika hubungan Israel‑Arab yang sedang berubah, situasi ini diprediksi akan menjadi sorotan utama dalam agenda politik internasional selama beberapa bulan ke depan.
Secara keseluruhan, pernyataan bersama yang melibatkan lebih dari dua puluh negara menegaskan komitmen kuat terhadap prinsip kedaulatan dan integritas wilayah, sekaligus menyoroti tantangan diplomatik yang dihadapi Israel dalam upaya memperluas pengaruhnya di Afrika Timur dan Utara.













