Back to Bali – 20 April 2026 | PSBS Biak, satu-satunya klub asal Papua yang berkompetisi di Super League musim 2025/2026, kini berada di ambang krisis keuangan yang mengancam keberlangsungan tim.
Latar Belakang Masalah
Selama tiga bulan terakhir, para pemain dan staf PSBS Biak belum menerima gaji mereka. Tunggakan gaji yang awalnya disembunyikan kini terungkap setelah sejumlah pemain secara terbuka menyampaikan keluhan mereka kepada media. Situasi ini menimbulkan keresahan di antara suporter dan menimbulkan pertanyaan serius mengenai kemampuan klub untuk memenuhi kewajiban finansialnya.
Sejarah Pendekar Owen Rahadiyan di PSBS Biak
Owen Rahadiyan pernah menjabat sebagai pemilik PSBS pada musim sebelumnya. Di bawah kepemimpinannya, klub tidak pernah mengalami masalah keuangan yang signifikan. Pada masa itu, PSBS Biak berhasil mempertahankan stabilitas anggaran meski beroperasi di wilayah dengan sumber daya terbatas. Namun, pada pertengahan musim, Owen memutuskan untuk mengundurkan diri setelah terjadi konflik internal yang melibatkan manajemen klub.
Komentar Owen atas Kondisi Terkini
Setelah mendengar kabar tentang keterlambatan gaji, Owen menyatakan keprihatinannya secara terbuka. Ia menekankan bahwa masalah keuangan kini bukanlah akibat kelalaian semata, melainkan hasil dari keputusan manajerial yang kurang tepat setelah kepergiannya. Owen menambahkan bahwa selama masa kepemilikannya, PSBS Biak tidak pernah mengalami kegagalan pembayaran gaji, bahkan pada saat Badai Pasifik melanda wilayah tersebut.
Menurut Owen, “Kami harus meninjau kembali struktur keuangan klub, memperbaiki transparansi, dan mencari sponsor yang dapat memberikan dukungan jangka panjang. Tanpa langkah konkrit, risiko degradasi ke kompetisi tingkat lebih rendah akan semakin mengancam.”
Dampak Potensial Terhadap PSBS Biak
Jika masalah pembayaran tidak segera teratasi, PSBS Biak berisiko mengalami degradasi ke Championship pada musim berikutnya. Degradasi tersebut tidak hanya akan menurunkan eksposur tim di kancah nasional, tetapi juga dapat mengurangi pendapatan dari hak siar, sponsor, serta penjualan tiket. Lebih jauh, pemain kunci yang belum menerima gaji berpotensi meminta pemutusan kontrak, yang pada gilirannya dapat melemahkan kualitas skuad.
Upaya Penyelesaian yang Diharapkan
Berbagai pihak, termasuk DPP PSSI dan perwakilan klub, diharapkan dapat mengadakan rapat darurat untuk mencari solusi. Salah satu opsi yang dibicarakan adalah penjadwalan ulang pembayaran gaji dengan skema cicilan, serta pencarian sponsor lokal yang bersedia berinvestasi pada klub Papua. Owen juga menawarkan bantuan konsultasi manajerial secara sukarela, dengan harapan dapat memberikan perspektif yang dibutuhkan untuk menstabilkan keuangan klub.
Selain itu, suporter PSBS Biak diimbau untuk tetap mendukung tim, baik melalui kehadiran di stadion maupun partisipasi dalam kampanye penggalangan dana yang bersifat transparan. Keterlibatan komunitas dapat menjadi faktor penentu dalam mengembalikan kepercayaan dan menstabilkan kondisi keuangan.
Dengan tekanan yang terus meningkat, keputusan cepat dan terkoordinasi menjadi kunci. PSBS Biak harus dapat menunjukkan komitmen pada pemain dan stafnya, serta memastikan keberlangsungan klub di level tertinggi sepak bola Indonesia.
Secara keseluruhan, krisis finansial PSBS Biak menyoroti pentingnya tata kelola klub yang profesional dan transparan. Komentar Owen Rahadiyan menegaskan bahwa pengalaman masa lalu dapat menjadi pelajaran berharga untuk menghindari kegagalan serupa di masa depan.











