Back to Bali – 20 April 2026 | Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Gerardus Budisatrio Djiwandono, atau yang lebih dikenal sebagai Budi Djiwandono, melakukan kunjungan kerja ke Pangkalan TNI Angkatan Udara Roesmin Nurjadin di Pekanbaru, Riau, pada Senin (20/4/2026). Kunjungan ini tidak hanya bersifat inspeksi rutin, melainkan juga menjadi momen bersejarah ketika Budi berkesempatan menjajal kokpit pesawat tempur Dassault Rafale, salah satu platform udara tercanggih yang baru saja dioperasikan oleh TNI Angkatan Udara.
Rafale, Simbol Modernisasi Pertahanan Udara Indonesia
Dassault Rafale merupakan pesawat multi‑role yang diproduksi oleh perusahaan Prancis, dengan kemampuan superior dalam pertempuran udara, serangan darat, serta misi pengintaian. Pemerintah Indonesia menandatangani kontrak pembelian Rafale pada tahun 2023, dan unit pertama mulai masuk ke dalam armada TNI AU pada akhir 2025. Keberadaan Rafale di Lanud Roesmin Nurjadin menandakan langkah strategis dalam memperkuat kedaulatan wilayah udara, khususnya di wilayah Sumatera yang memiliki tantangan geografis dan keamanan yang unik.
Dalam kesempatan tersebut, Budi Djiwandono mengungkapkan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam mengoperasikan teknologi militer yang semakin kompleks. “Kesiapan pertahanan udara tidak hanya bergantung pada perangkat keras, tetapi juga pada kompetensi pilot, teknisi, dan staf pendukung yang mampu mengoptimalkan sistem persenjataan modern,” tegasnya.
Detail Kunjungan Kerja dan Demonstrasi Kokpit
Setelah disambut hangat oleh Komandan Lanud, Marsekal Pertama TNI Abdul Haris, serta jajaran staf, Budi diarahkan ke hanggar tempat Rafale ditempatkan. Di sana, ia diberikan penjelasan singkat mengenai spesifikasi teknis pesawat, termasuk sistem avionik, kemampuan stealth, serta armada senjata yang terintegrasi. Demonstrasi singkat memperlihatkan tampilan instrumen, panel kontrol, dan simulasi prosedur lepas landas serta misi tempur.
Melalui Instagram pribadinya, Budi membagikan foto diri berada di dalam kokpit, lengkap dengan caption yang menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga legislatif dan militer dalam mengawasi kebijakan pertahanan. “Terima kasih kepada seluruh tim Lanud Roesmin Nurjadin atas sambutan yang hangat dan kesempatan melihat langsung Rafale, pesawat tempur terbaru yang akan memperkuat pertahanan negara,” tulisnya.
Implikasi Politik dan Pertahanan
Kunjungan ini mencerminkan sinergi antara DPR RI dan TNI dalam rangka memastikan kebijakan pertahanan yang transparan dan akuntabel. Sebagai anggota Komisi I yang membidangi pertahanan, keamanan, dan urusan luar negeri, Budi Djiwandono memiliki peran krusial dalam melakukan oversight terhadap pengadaan alutsista serta implementasi program modernisasi militer.
Penguatan peran strategis TNI AU di wilayah Riau juga menjadi sorotan, mengingat letak geografis provinsi yang berbatasan dengan Selat Malaka, jalur perdagangan internasional, dan potensi ancaman maritim. Penempatan Rafale di Lanud Roesmin Nurjadin diharapkan dapat mempercepat respon cepat terhadap situasi darurat, sekaligus meningkatkan interoperabilitas dengan angkatan bersenjata sekutu.
Harapan Kedepan
Budi menegaskan bahwa kunjungan kerja semacam ini harus berlanjut secara rutin, tidak hanya untuk inspeksi fisik, tetapi juga untuk menilai efektivitas pelatihan pilot, pemeliharaan pesawat, dan kesiapan operasional secara menyeluruh. “Kami akan terus memantau progres modernisasi, memastikan anggaran yang dialokasikan tepat sasaran, serta mendukung program pelatihan berkelanjutan bagi personel TNI AU,” ujar Budi dalam pernyataannya.
Dengan adanya Rafale, Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga kedaulatan wilayah udara secara mandiri, sekaligus menyiapkan diri menghadapi dinamika keamanan regional yang semakin kompleks. Kunjungan Budi Djiwandono menjadi bukti bahwa lembaga legislatif siap berperan aktif dalam proses tersebut, memastikan transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas kebijakan pertahanan negara.
Secara keseluruhan, pengalaman menjajal kokpit Rafale bukan sekadar atraksi, melainkan simbol integrasi antara kebijakan publik dan kemampuan militer. Hal ini mengukuhkan tekad Indonesia untuk terus memperkuat pertahanan nasional melalui sinergi lintas institusi, inovasi teknologi, dan investasi pada sumber daya manusia yang kompeten.













