Back to Bali – 21 April 2026 | Pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) menegaskan kembali komitmen keamanan setelah prajurit Prancis, Florian Montorio, tewas dalam serangan bersenjata ringan di wilayah selatan Lebanon pada 20 April 2026. Upacara penghormatan terakhir digelar di Beirut, diikuti proses pemulangan jenazah ke tanah air Prancis. Kepala Misi UNIFIL, Mayor Jenderal Diodato Abagnara, menyampaikan rasa duka yang mendalam serta menegaskan bahwa pengorbanan Montorio akan selalu menjadi inspirasi bagi seluruh penjaga perdamaian.
Penegakan Operasi dan Penempatan Pasukan Tambahan
Setelah insiden tersebut, UNUNIFIL memutuskan untuk memperkuat kehadiran militernya di zona selatan Lebanon, wilayah yang selama ini menjadi titik rawan konflik antara milisi Hizbullah dan militer Israel. Penempatan tambahan mencakup unit infanteri ringan, kendaraan patroli berlapis baja, serta tim intelijen yang ditugaskan untuk meningkatkan pengawasan dan respon cepat terhadap ancaman potensial. Operasi baru ini juga menekankan kerja sama erat dengan pasukan keamanan Lebanon serta pemantauan ketat terhadap pergerakan senjata ringan yang sering digunakan oleh kelompok non‑negara.
Reaksi Internasional dan Tuduhan Terhadap Hizbullah
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa ada indikasi kuat bahwa kelompok Hizbullah berada di balik penembakan yang menewaskan Montorio, meski pihak militan tersebut membantah dan menuntut penyelidikan independen oleh otoritas Lebanon. Sementara itu, pernyataan resmi dari Kedutaan Besar Prancis menegaskan pentingnya perlindungan terhadap personel PBB dan meminta pihak berwenang Lebanon untuk menindaklanjuti penyelidikan secara transparan.
Indonesia Dorong Sidang Darurat Dewan Keamanan PBB
Menanggapi kematian Montorio serta tiga prajurit TNI yang gugur pada akhir Maret 2026, pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Muhammad Syaroni Rofii, mengusulkan agar Indonesia mengajukan sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Menurut Rofii, kolaborasi dengan Prancis, sebagai anggota tetap DK PBB, dapat memperkuat posisi diplomatik Indonesia dalam menuntut penegakan mandat UNUNIFIL serta menambahkan klausul sanksi bagi negara atau aktor yang melanggar resolusi keamanan internasional.
Rofii menyoroti bahwa mandat UNUNIFIL yang seharusnya berakhir pada tahun 2025 telah diperpanjang karena eskalasi konflik di Timur Tengah. Ia menekankan perlunya peninjauan kembali mandat tersebut, termasuk penambahan wewenang untuk penggunaan kekuatan preventif dan mekanisme penegakan sanksi yang lebih tegas.
Kondisi Keamanan di Lebanon Selatan
Wilayah selatan Lebanon, khususnya daerah Nabatieh dan sekitarnya, terus mengalami ketegangan akibat persaingan antara kelompok bersenjata dan operasi militer Israel. Serangan drone, serangan udara, serta bentrokan sporadis sering menambah ketidakstabilan. Pada 29–30 Maret 2026, tiga anggota TNI yang bertugas dalam misi UNUNIFIL—Mayor Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Koperasi Muhammad Nur Ikhwan, dan Kopda Farizal Rhomadhon—menewas di lokasi yang sama, menambah beban emosional bagi negara kontributor pasukan perdamaian.
Langkah-Langkah Lanjutan dan Harapan
UNUNIFIL berjanji akan meningkatkan koordinasi dengan otoritas Lebanon, memanfaatkan teknologi pengawasan modern, dan memperkuat protokol keamanan bagi personelnya. Sementara itu, pemerintah Prancis dan Indonesia diharapkan akan memperkuat dialog bilateral untuk memastikan perlindungan maksimal bagi pasukan perdamaian yang beroperasi di zona konflik.
Dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks, penegakan mandat UNUNIFIL tidak hanya menjadi urusan satu negara, melainkan tantangan kolektif komunitas internasional. Penguatan operasi di selatan Lebanon diharapkan dapat menurunkan risiko serangan serupa di masa depan serta menegakkan prinsip keamanan bagi semua penjaga perdamaian yang mengabdikan diri demi stabilitas regional.













