Back to Bali – 24 April 2026 | Pemerintah Kota Jakarta Selatan (Jaksel) kembali menorehkan langkah inovatif dalam bidang ketahanan pangan dengan mengkaji potensi ikan sapu‑sapu (Pangasius sp.) sebagai bahan baku pakan ternak. Inisiatif ini muncul sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan protein ternak serta upaya mengoptimalkan sumber daya perairan yang selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal.
Latar Belakang
Sejak beberapa tahun terakhir, produksi ikan sapu‑sapu di perairan laut dan muara sungai Jakarta mengalami peningkatan signifikan. Namun, sebagian besar hasil tangkapan masih dipasarkan sebagai bahan konsumsi manusia, sementara limbah dan sisa proses pengolahan sering kali menjadi masalah lingkungan. Pemerintah kota melihat peluang untuk mengalihkan sebagian biomassa ikan tersebut menjadi pakan ternak, yang dapat mengurangi ketergantungan impor pakan berbasis kedelai dan jagung.
Tahapan Kajian
Tim riset yang dibentuk oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian Kota Jakarta Selatan terdiri dari ahli nutrisi ikan, pakar peternakan, serta perwakilan akademisi dari beberapa universitas lokal. Kajian awal difokuskan pada analisis komposisi gizi ikan sapu‑sapu, termasuk kadar protein, lemak, asam amino esensial, serta mineral penting seperti kalsium dan fosfor.
Hasil laboratorium menunjukkan bahwa daging dan bagian samping ikan (seperti kepala, tulang, dan kulit) mengandung protein sebesar 18‑20% dan lemak yang cukup tinggi, sehingga cocok untuk diproses menjadi tepung ikan berkualitas tinggi. Selanjutnya, tim melakukan uji coba pembuatan pakan ternak pada skala pilot dengan mencampurkan tepung ikan sapu‑sapu bersama bahan baku lain seperti jagung giling dan dedak.
Peran Berbagai Pihak
Untuk mewujudkan program ini secara berkelanjutan, Pemerintah Kota Jakarta Selatan berencana melibatkan tiga kelompok utama:
- Pemilik usaha perikanan: Sebagai penyedia bahan baku utama, mereka akan diarahkan untuk mengadopsi praktik penangkapan yang ramah lingkungan serta menyediakan limbah ikan yang dapat diolah.
- Industri pengolahan pakan: Perusahaan lokal yang memiliki fasilitas penggilingan dan pengeringan akan diberi insentif untuk memproduksi tepung ikan sapu‑sapu dengan standar mutu yang sesuai regulasi.
- Peternak: Kelompok peternak, terutama yang mengelola ayam broiler dan bebek, akan menjadi pengguna akhir pakan. Pemerintah berencana memberikan pelatihan tentang formulasi pakan yang mengoptimalkan manfaat nutrisi dari tepung ikan.
Selain itu, akademisi dan lembaga riset akan terus memantau dampak penggunaan pakan berbasis ikan sapu‑sapu terhadap produktivitas ternak serta keamanan hayati.
Harapan dan Tantangan
Dengan mengintegrasikan sumber daya perairan ke dalam rantai pasokan pakan ternak, diharapkan terjadi pengurangan impor pakan hingga 15% dalam lima tahun ke depan. Hal ini tidak hanya menurunkan beban devisa negara, tetapi juga memperkuat kemandirian pangan lokal. Selain itu, pemanfaatan limbah ikan dapat mengurangi pencemaran laut dan muara sungai, sejalan dengan agenda hijau kota.
Namun, tantangan tetap ada. Ketersediaan ikan sapu‑sapu yang konsisten, standar kualitas tepung ikan, serta penerimaan pasar peternak menjadi faktor krusial. Pemerintah berkomitmen menyediakan regulasi yang memudahkan proses perizinan serta skema pembiayaan bagi pelaku usaha kecil yang ingin berpartisipasi.
Selanjutnya, program ini akan diuji dalam fase implementasi pertama di tiga kecamatan pilihan, dengan target produksi pakan sebanyak 200 ton per tahun. Evaluasi berkala akan dilakukan untuk menilai efektivitas biaya, dampak lingkungan, dan peningkatan produktivitas ternak.
Jika berhasil, model ini berpotensi direplikasi di wilayah lain di Indonesia yang memiliki potensi perikanan serupa, menjadikan Jakarta Selatan sebagai pionir dalam menghubungkan sektor perikanan dan peternakan secara berkelanjutan.













