Dari Panggung Rock ke Tanah Suci: Perjalanan Inspiratif Didik ‘Seket’ Menembus Usia 50

Back to Bali – 24 April 2026 | Surabaya, 24 April 2026 – Seorang vokalis band rock legendaris Astakula, Didik Subiantoro yang akrab dipanggil Didik..

3 minutes

Read Time

Dari Panggung Rock ke Tanah Suci: Perjalanan Inspiratif Didik ‘Seket’ Menembus Usia 50

Back to Bali – 24 April 2026 | Surabaya, 24 April 2026 – Seorang vokalis band rock legendaris Astakula, Didik Subiantoro yang akrab dipanggil Didik ‘Seket’, mengejutkan publik musik dan umat Islam sekaligus dengan keberangkatannya menunaikan ibadah haji pada musim haji 1447 H/2026. Pada usia lima puluh tahun, Didik tidak hanya menggantikan almarhum ayahnya yang meninggal pada tahun 2013, melainkan juga mendampingi sang ibu yang sudah berusia lanjut untuk menunaikan panggilan suci tersebut.

Awal Karier di Dunia Musik

Didik memulai kariernya pada akhir 1990-an sebagai vokalis utama band Astakula, yang dikenal dengan alunan rock keras dan lirik yang menggugah semangat generasi muda Jawa Timur. Selama lebih dari dua dekade, band ini menorehkan beberapa album hits, menggelar konser besar di Surabaya, Malang, dan bahkan Jakarta. Julukan ‘Seket’ diberikan oleh teman‑teman sesama musisi; dalam bahasa Jawa, seket berarti lima puluh, yang kebetulan kini menjadi angka penting dalam hidupnya.

Panggilan Ilahi yang Tak Terduga

“Tahun ini usia saya 50 tahun, ternyata ada rahasia Ilahi di tahun ini juga, alhamdulillah saya mendapat panggilan berhaji,” ujar Didik dalam sebuah wawancara singkat di Asrama Haji Embarkasi Surabaya pada Kamis (23/4). Ia mengakui bahwa tidak ada persiapan khusus selain mengikuti manasik haji seperti jemaah pada umumnya. “Enggak kebayang sebelumnya bisa naik haji. Persiapan khusus juga enggak ada, ya paling manasik seperti biasa,” tambahnya.

Menjalankan Tugas Keluarga

Keberangkatan Didik tidak semata‑mata atas keinginannya pribadi. Ia menegaskan bahwa tujuan utama adalah menggantikan ayahnya yang tak sempat menunaikan ibadah haji, serta mendampingi ibunya yang kini berusia lebih dari tujuh puluh tahun. “Saya mendampingi ibu saya yang menunaikan ibadah haji tahun ini. Soale aku gak ijen terus iki kan gak dolen,” ucapnya dengan nada penuh rasa tanggung jawab. Sikap ini mendapat pujian luas dari kalangan masyarakat, yang melihatnya sebagai contoh bakti anak terhadap orang tua.

Reaksi Publik dan Dampak Sosial

Kisah Didik “Seket” menyentuh hati banyak orang, terutama para penggemar musik rock yang biasanya mengaitkan dirinya dengan citra pemberontakan. Di media sosial, tagar #DidikSeket dan #RockToHaji menjadi trending dalam beberapa jam setelah pengumuman keberangkatannya. Banyak netizen yang menulis komentar penuh dukungan, menyatakan bahwa perjalanan spiritual ini menambah dimensi baru pada persona publiknya.

Makna Spiritual di Balik Perjalanan

Haji bagi Didik bukan sekadar ritual, melainkan sebuah proses refleksi diri yang menghubungkan masa muda yang penuh kegelisahan dengan kedewasaan yang mengedepankan nilai kebersamaan keluarga. “Saya merasa ini adalah kesempatan untuk menutup satu bab dalam hidup, sekaligus membuka bab baru yang lebih tenang,” ungkapnya di tengah persiapan keberangkatan.

Dengan keberangkatan yang dijadwalkan pada akhir April, Didik diperkirakan akan melaksanakan tawaf, sai, dan rukun haji selama lima hari di Mekah, sebelum kembali ke Indonesia pada bulan Mei. Ia berencana untuk menuliskan pengalaman tersebut dalam bentuk buku atau dokumenter, menggabungkan elemen musik dan spiritualitas, sehingga dapat menginspirasi generasi muda yang masih mencari jati diri.

Keputusan Didik ‘Seket’ menapaki Tanah Suci menegaskan bahwa panggilan hati tidak mengenal batas usia, profesi, atau latar belakang. Dari panggung rock yang berdenyut keras hingga Ka’bah yang suci, perjalanan ini menjadi contoh konkret bahwa dedikasi kepada keluarga dan keimanan dapat menyatukan dua dunia yang tampak berbeda.

Dengan demikian, kisah Didik Subiantoro tidak hanya menjadi berita hiburan, melainkan sebuah narasi inspiratif yang mengajak semua lapisan masyarakat untuk menghargai nilai kebersamaan, rasa hormat kepada orang tua, dan keberanian menjawab panggilan Ilahi kapan pun waktunya datang.

About the Author

Kanya Virtudes Virtudes Avatar