Back to Bali – 27 Maret 2026 | Singaraja, kota utama Kabupaten Buleleng, kembali menjadi sorotan media dengan rangkaian peristiwa yang mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan prestasi olahraga di wilayah tersebut. Dari sebuah tragedi pribadi yang mengungkap masalah kesehatan mental, hingga langkah strategis pemerintah daerah dalam mengalokasikan anggaran pembangunan, serta munculnya atlet panjat tebing yang menembus panggung Olimpiade Paris 2024, semua mengukir narasi kompleks tentang harapan dan tantangan masyarakat Singaraja.
Tragedi Depresi di Seririt
Pada Rabu, 25 Maret 2026, seorang pria berusia 48 tahun berinisial KS, yang merupakan petani asal Desa Ringdikit, Kecamatan Seririt, ditemukan tewas dengan dugaan bunuh diri. Saksi mata, seorang pemuda berusia 20 tahun, menemukan korban dalam keadaan tergeletak pada pukul 17.30 WITA setelah pulang dari sungai. KS diketahui hidup sendiri sambil merawat ibunya yang sakit, dengan kondisi ekonomi yang terbatas dan anak tunggal yang telah menikah. Pemeriksaan medis dari Puskesmas Seririt III tidak menemukan tanda-tanda kekerasan, memperkuat dugaan bahwa depresi menjadi faktor utama.
Polisi setempat, dipimpin oleh Iptu Yohana Rosalin Diaz, telah melakukan olah TKP dan menawarkan otopsi, namun keluarga korban menolak dengan menyatakan ikhlas. Kasus ini menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental di daerah pedesaan, terutama bagi mereka yang menghadapi beban ekonomi dan tanggung jawab keluarga yang berat.
Anggaran Musrenbang 2027 Buleleng: Pagu Indikatif Rp56 Miliar
Pertemuan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Buleleng yang diselenggarakan di Gedung Kesenian Gde Manik, Singaraja, pada 26 Maret 2026, menghasilkan keputusan strategis: penetapan pagu indikatif wilayah kecamatan sebesar Rp56 miliar untuk tahun anggaran 2027. Kepala Bappeda Buleleng, Komang Audi Berawijaya, menjelaskan bahwa skema Pagu Indikatif Wilayah Kecamatan (PIWK) dihitung berdasarkan luas wilayah, jumlah penduduk, tingkat kemiskinan, serta kebutuhan pendidikan mulai dari PAUD hingga SMP.
Alokasi ini diharapkan dapat menjawab aspirasi desa dan kelurahan yang selama ini mengusulkan program berulang namun belum terealisasi. Dari 261 usulan program yang masuk, mayoritas berfokus pada infrastruktur, namun prioritas juga mencakup peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan, penanggulangan kemiskinan, serta penguatan sektor pertanian, perikanan, dan UMKM. Bupati Nyoman Sutjidra menegaskan bahwa proses perencanaan akan berlanjut dengan verifikasi pada 31 Maret, menyelaraskan usulan dengan RPJMD 2027.
Dengan dana indikatif yang signifikan, harapan masyarakat Singaraja dan seluruh Buleleng adalah percepatan pembangunan fasilitas dasar yang dapat meningkatkan kesejahteraan, sekaligus menurunkan angka kemiskinan yang selama ini menjadi tantangan.
Desak Made: Bintang Panjat Tebing dari Singaraja Menatap Olimpiade Paris 2024
Di dunia olahraga, Singaraja mengirimkan wakilnya, Desak Made Rita Kusuma Dewi, yang berkompetisi di cabang panjat tebing speed putri pada Olimpiade Paris 2024. Pada babak perempat final tanggal 7 Agustus 2024, Desak menghadapi atlet asal China, Deng Li Juan. Meskipun Deng mencatat waktu 6,40 detik pada kualifikasi, Desak berhasil mengungguli lawannya dengan catatan 6,38 detik pada babak eliminasi setelah mengalahkan atlet Amerika Serikat, Piper Kelly.
Prestasi Desak tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga menginspirasi generasi muda Singaraja untuk mengejar olahraga ekstrem. Keberhasilan ini menambah dimensi positif bagi citra Singaraja, melengkapi narasi pembangunan dan kesejahteraan yang sedang digulirkan pemerintah daerah.
Sinergi Antara Kesejahteraan Sosial, Pembangunan Ekonomi, dan Prestasi Olahraga
Kombinasi antara tragedi pribadi yang menyoroti krisis kesehatan mental, upaya pemerintah dalam mengalokasikan dana pembangunan yang signifikan, serta capaian prestasi internasional atlet lokal, mencerminkan kompleksitas realitas Singaraja. Peningkatan ekonomi daerah, yang dilaporkan tumbuh 5,82 % dengan penurunan angka kemiskinan, memberikan landasan bagi program pembangunan yang lebih luas. Namun, data ini harus diimbangi dengan kebijakan yang mendukung kesehatan mental, terutama bagi kelompok rentan.
Penguatan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan yang direncanakan dalam Musrenbang 2027 diharapkan dapat menyediakan ruang bagi warga Singaraja untuk mengatasi beban psikologis dan meningkatkan kualitas hidup. Di sisi lain, keberhasilan Desak Made di panggung dunia memberi contoh konkret bahwa investasi dalam olahraga dan pengembangan bakat dapat menghasilkan kebanggaan nasional serta peluang ekonomi melalui sektor pariwisata olahraga.
Dengan sinergi kebijakan yang terintegrasi, Singaraja berpotensi menjadi contoh daerah yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan mental warganya, sekaligus memupuk talenta yang dapat mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ke depan, keberhasilan implementasi pagu indikatif, peningkatan layanan kesehatan mental, dan dukungan terhadap atlet seperti Desak Made akan menjadi indikator utama keberhasilan pembangunan berkelanjutan di Singaraja.













