Back to Bali – 25 April 2026 | Tim SAR Padang Utara resmi menutup operasi pencarian dua anak yang dilaporkan tenggelam pada 22 April 2026 setelah enam hari pencarian intensif tidak membuahkan hasil. Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi ulang lapangan, menimbang keselamatan tim, dan menunggu indikasi baru yang dapat mengarahkan pencarian ke lokasi yang lebih tepat.
Menurut Samsul Akmal, petugas senior SAR Padang, “Kami telah menelusuri seluruh rute aliran sungai, cek titik‑titik rawan, dan melakukan penyisiran menggunakan perahu serta peralatan sonar. Namun hingga saat ini tidak ada jejak yang dapat dikonfirmasi sebagai korban.”
Latar Belakang Kasus
Dua anak, berusia 6 dan 8 tahun, dilaporkan hilang setelah bermain di tepi Sungai Batang Anai pada sore hari 22 April. Mereka terakhir terlihat di daerah RT 20 Silaing Bawah, kawasan yang sebelumnya menjadi titik fokus pencarian korban galodo (bencana banjir bandang) pada akhir 2025. Pada April 2026, petugas menemukan sebuah tengkorak manusia di Korong Lubuk Aur, Nagari Anduring, yang diyakini merupakan salah satu dari sekitar 28 korban hilang galodo.
Penemuan tersebut mengingatkan otoritas akan kompleksitas pencarian di wilayah yang rawan banjir, material lumpur, dan aliran air yang kuat. “Material galodo sangat banyak dan dalam, hampir tidak mungkin digali tanpa titik pasti,” ujar Samsul, mengacu pada pengalaman sebelumnya dalam mengungkapkan korban galodo.
Proses Penutupan Pencarian
Keputusan penutupan pencarian diambil melalui rapat koordinasi antara SAR Padang, BPBD Padang Pariaman, dan pihak kepolisian setempat. Beberapa faktor utama yang dipertimbangkan antara lain:
- Kondisi cuaca yang tetap tidak bersahabat, dengan curah hujan tinggi yang menghambat visibilitas dan mobilitas tim.
- Kurangnya bukti fisik atau sinyal elektronik yang dapat menuntun pada lokasi korban.
- Ketersediaan sumber daya yang terbatas setelah penanganan ribuan korban galodo sebelumnya.
Tim menyatakan bahwa penutupan bersifat sementara. “Jika muncul tanda‑tanda baru, seperti laporan saksi, temuan barang pribadi, atau hasil analisis sonar, kami akan segera mengaktifkan kembali operasi,” tegas Samsul.
Rencana Tindak Lanjut
Petugas akan terus memantau laporan warga melalui jalur hotline SAR dan media sosial. Selain itu, proses identifikasi korban galodo yang masih berlangsung—termasuk otopsi dan uji DNA pada tengkorak yang ditemukan—akan memberi gambaran lebih jelas tentang pola pergerakan korban selama banjir, yang dapat membantu dalam pencarian kembali.
Emri Nurman, Kepala Pelaksana BPBD Padang Pariaman, menambahkan bahwa seluruh korban hilang dari wilayah Padang Pariaman telah ditemukan pada masa tanggap darurat, namun ia tidak menutup kemungkinan adanya korban tambahan yang terbawa arus ke daerah lain.
Secara bersamaan, pemerintah daerah meningkatkan upaya rehabilitasi sungai dan normalisasi lahan pertanian untuk mengurangi risiko terulangnya bencana serupa. Upaya‑upaya tersebut diharapkan dapat mempermudah proses pencarian di masa depan.
Warga diharapkan tetap tenang dan melaporkan setiap temuan atau indikasi yang mencurigakan kepada pihak berwenang. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengungkap nasib korban yang belum ditemukan.
Dengan menutup operasi pencarian sementara, tim SAR menegaskan komitmen mereka untuk kembali bergerak secepatnya bila ada petunjuk baru, sambil terus mendukung proses identifikasi korban galodo yang masih berlangsung.













