Back to Bali – 26 April 2026 | Real Madrid kembali berada dalam tekanan tajam menjelang penutupan musim LaLiga 2025/2026. Tim asuhan mantan bek Spanyol, Alvaro Arbeloa, tampak kehilangan kemampuan untuk menutup pertandingan, terutama setelah menit ke-90. Kegagalan mengamankan poin pada laga-laga krusial menurunkan peluang Los Blancos merebut gelar juara, sementara rival abadi Barcelona memperlebar jarak menjadi delapan poin.
Performa Tim di LaLiga
Sejak penunjukan Arbeloa pada 12 Januari 2026 menggantikan Xabi Alonso, posisi Real Madrid di klasemen mengalami penurunan. Pada awal kepemimpinan Arbeloa, tim berada di posisi kedua dengan selisih empat poin dari Barcelona. Namun, setelah serangkaian hasil yang tidak konsisten, jarak itu meluas menjadi delapan poin pada pekan ke-32. Jika Barcelona berhasil menang melawan Getafe pada pekan ke-33, selisih tersebut dapat mencapai sebelas poin.
Kebobolan di Menit Akhir
Masalah utama yang menonjol adalah kebiasaan kebobolan di menit-menit tambahan. Pada pekan ke-32, Real Madrid sempat unggul 1-0 berkat gol Vinicius Junior pada menit ke-17, namun harus menerima gol balasan Hector Bellerin pada menit 90+4 yang mengubah hasil menjadi imbang 1-1. Kekalahan 1-2 melawan Osasuna juga terjadi setelah gol penentu pada menit ke-90, sementara pertandingan melawan Mallorca berakhir 2-2 berkat gol pada menit 90+1.
Di kompetisi lain, Real Madrid tersingkir dari Copa del Rey setelah kebobolan pada menit 90+4 melawan Albacete, dan di Liga Champions mereka kehilangan kendali pada fase gugur saat melawan Bayern München, di mana gol penentu datang di menit-menit akhir pertandingan pertama.
Reaksi Arbeloa
Arbeloa mengakui bahwa kebobolan pada menit-menit terakhir menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. “Gol‑gol yang kami derita di menit‑menit terakhir? Kalau ada alasan yang jelas, kami akan membetulkannya,” ujar pelatih dalam konferensi pers pasca laga melawan Barcelona. “Ketika Anda bermain dengan skor yang sangat ketat, situasi seperti ini dapat terjadi, tetapi kami juga tidak beruntung,” tambahnya.
Pelatih asal San Sebastián tersebut menambahkan bahwa faktor kebugaran, konsentrasi mental, dan manajemen rotasi pemain menjadi kunci untuk memperbaiki performa di sisa pekan musim. Ia menegaskan bahwa latihan khusus untuk mengatasi tekanan di akhir pertandingan sudah dimasukkan ke dalam jadwal latihan harian.
Implikasi Bagi Juara
Kegagalan mengamankan tiga poin pada laga-laga penting menurunkan peluang Real Madrid meraih gelar juara. Jika tren kebobolan di menit akhir terus berlanjut, peluang Barcelona untuk mengamankan gelar menjadi semakin besar. Selain itu, kegagalan di kompetisi piala Eropa dan domestik menambah beban psikologis pada skuad yang dipimpin oleh pemain bintang seperti Vinicius Junior, Luka Modrić, dan Karim Benzema.
Pengamat sepak bola menilai bahwa perubahan taktik, khususnya dalam mengatur lini pertahanan pada fase akhir, menjadi hal yang mutlak. Beberapa analis menyarankan penggunaan pemain dengan pengalaman menghadapi tekanan tinggi, serta penyesuaian strategi pressing yang lebih terkontrol.
Dengan hanya satu pekan tersisa sebelum fase akhir musim, Real Madrid harus menemukan cara menghentikan kebiasaan kebobolan setelah menit 90 agar tetap kompetitif. Jika tidak, musim ini dapat berakhir dengan catatan kosong bagi pelatih muda yang masih mencari identitas taktisnya.
Secara keseluruhan, Real Madrid berada pada persimpangan penting. Keberhasilan atau kegagalan dalam mengatasi kebobolan di menit akhir akan menentukan tidak hanya nasib mereka di LaLiga, tetapi juga citra Arbeloa sebagai pelatih yang mampu menuntun klub raksasa ini kembali ke puncak.













