Yunda, Remaja Cirebon Bertahan Sekolah dengan Rp35 Ribu Sehari Usai Orang Tua Meninggal

Back to Bali – 30 April 2026 | Yunda Pratama, seorang pelajar SMA di Cirebon, kini menjadi simbol ketabahan di tengah krisis ekonomi keluarga. Pada..

3 minutes

Read Time

Yunda, Remaja Cirebon Bertahan Sekolah dengan Rp35 Ribu Sehari Usai Orang Tua Meninggal

Back to Bali – 30 April 2026 | Yunda Pratama, seorang pelajar SMA di Cirebon, kini menjadi simbol ketabahan di tengah krisis ekonomi keluarga. Pada usia 17 tahun, ia harus menghidupi dirinya sendiri setelah sang ibu meninggal dunia karena komplikasi kesehatan yang dipicu oleh keterbatasan finansial. Dengan hanya menerima uang jatah harian sebesar Rp35.000, Yunda berjuang agar tetap dapat bersekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, dan menyiapkan makanan sederhana setiap hari.

Kepergian Sang Ibu dan Dampaknya

Pada akhir Januari 2026, Ratna Suryani, ibu Yunda yang berusia 42 tahun, meninggal mendadak akibat serangan jantung yang tidak dapat diobati karena keterbatasan biaya rumah sakit. Kematian tersebut menjerumuskan Yunda ke dalam kondisi ekonomi yang sangat rapuh. Tanpa penghasilan tetap, ia hanya mengandalkan bantuan sosial yang diberikan pemerintah daerah sebesar Rp35.000 per hari, nominal yang jauh di bawah kebutuhan dasar seorang pelajar.

Rutinitas Harian yang Menantang

Setiap pagi, Yunda berangkat ke sekolah dengan sepatu bekas yang sudah mulai rusak, mengingat tidak mampu membeli sepatu baru. Di kelas, ia tetap berusaha mengikuti pelajaran meski sering terasa lelah karena harus menyiapkan sarapan sederhana berupa nasi uduk seadanya dan menyiapkan bekal makan siang yang hanya terdiri dari sayur rebus dan sedikit tempe. Setelah jam pelajaran selesai, Yunda kembali ke rumah untuk membersihkan kamar, mencuci pakaian, dan bahkan membantu tetangga membersihkan pekarangan demi menambah sedikit uang tambahan.

Pekerjaan Sampingan dan Risiko Kesehatan

Untuk menambah penghasilan, Yunda bekerja paruh waktu sebagai penjual jajanan ringan di pasar tradisional setempat. Pekerjaan ini mengharuskannya berdiri selama delapan jam, menahan panas terik, dan sering kali harus melayani pembeli dengan cepat. Kondisi fisik yang kurang terjaga menyebabkan ia mengalami keluhan pada kaki, mirip dengan kasus Mandala Rizky di Samarinda yang meninggal karena sepatu terlalu kecil. Yunda pun sempat mengalami lecet pada kaki karena harus berjalan lama dengan sepatu yang tidak pas, namun ia menolak untuk menghentikan pekerjaan demi memastikan uang cukup untuk makan dan transportasi.

Kondisi Sekolah dan Respons Pemerintah

Di lingkungan sekolah, guru-guru menyadari situasi Yunda dan berupaya memberikan bantuan moral serta materi. Namun, keterbatasan anggaran membuat bantuan berupa seragam atau perlengkapan belajar tidak selalu dapat terpenuhi. Kepala Sekolah menegaskan pentingnya kebijakan pemerintah daerah yang lebih merata, mengingat banyak siswa lain yang menghadapi masalah serupa. Sementara itu, Dinas Pendidikan Cirebon berjanji akan meninjau kembali alokasi bantuan untuk siswa yang berada di luar kategori “siswa baru”.

Upaya Komunitas dan Harapan ke Depan

Beberapa LSM lokal mulai menggalang dana melalui program “Sekolah Tanpa Batas” untuk menutupi kekurangan anggaran harian Yunda. Donatur menyumbangkan sepatu, seragam, serta paket makanan bergizi. Meski bantuan ini bersifat sementara, Yunda tetap menekankan tekadnya untuk tidak menyerah pada pendidikan. Ia berharap suatu hari nanti dapat melanjutkan kuliah di jurusan teknik, dengan harapan dapat mengangkat kondisi ekonomi keluarganya dan menginspirasi generasi berikutnya.

Kasus Yunda menyoroti betapa rapuhnya jaringan perlindungan sosial bagi pelajar yang kehilangan sandaran utama. Tanpa intervensi yang lebih kuat, ribuan remaja di seluruh Indonesia mungkin akan terpaksa memilih antara melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan kasar demi bertahan hidup. Pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang tidak hanya menitikberatkan pada bantuan satu kali, melainkan menyediakan dukungan berkelanjutan, termasuk asuransi kesehatan, beasiswa, dan program kerja paruh waktu yang layak bagi pelajar.

Dengan tekad yang kuat dan dukungan komunitas, Yunda kini menjadi contoh nyata bahwa semangat belajar dapat tetap menyala meski dihadapkan pada keterbatasan finansial yang ekstrem. Kisahnya mengingatkan semua pihak bahwa pendidikan bukanlah hak istimewa, melainkan kebutuhan dasar yang harus dijamin bagi setiap anak bangsa.

About the Author

Zillah Willabella Avatar