Back to Bali – 31 Maret 2026 | Barcelona kembali menaruh mata pada bek tengah Inter Milan, Alessandro Bastoni, sebagai bagian penting strategi perbaikan lini belakang menjelang musim panas 2026. Namun, harga yang diminta Inter mencapai sekitar €80 juta atau setara dengan Rp1,5 triliun, menempatkan klub Catalan dalam dilema keuangan yang cukup berat.
Latar Belakang Target Utama
Setelah menilai performa defensif pada musim 2025/2026, pelatih Hansi Flick bersama jajaran manajerial Barcelona memutuskan bahwa kehadiran seorang bek berkelas dunia sangat diperlukan untuk menutup celah di sektor tengah pertahanan. Alessandro Bastoni, yang berusia 27 tahun dan menjadi tulang punggung Inter Milan sejak 2020, dianggap memiliki kombinasi teknis, taktis, serta kepemimpinan yang cocok dengan filosofi permainan Barcelona yang mengutamakan penguasaan bola.
Komunikasi awal sudah dilakukan antara agen Bastoni dengan pihak Barcelona, namun pemain tersebut menegaskan keinginannya untuk tetap berjuang bersama Inter, terutama setelah klub Italia tersebut berencana memberikan kontrak baru untuk mengamankan jasa sang bek selama beberapa tahun ke depan.
Hambatan dalam Negosiasi
- Nilai Transfer Tinggi: Inter menetapkan harga €80 juta (≈ Rp1,5 triliun), jauh di atas kapasitas pembelian Barcelona yang masih menyesuaikan diri dengan regulasi Financial Fair Play (FFP).
- Keinginan Pemain: Bastoni secara terbuka menyatakan keinginan kuat untuk bertahan di Milan, menambah tekanan pada proses tawar‑menawar.
- Strategi Inter: Klub Italia tidak menunjukkan sinyal untuk menurunkan harga atau memberikan opsi pembayaran bertahap.
Berikut perkiraan konversi nilai transfer yang dibicarakan:
| Valuta | Jumlah |
|---|---|
| Euro | €80 juta |
| Rupiah | Rp1,5 triliun |
Evan Ndicka: Pilihan Cadangan yang Realistis
Menyadari risiko kegagalan dalam merekrut Bastoni, Barcelona mengalihkan perhatiannya kepada Evan Ndicka, bek tengah asal Pantai Gading yang saat ini bermain untuk AS Roma. Ndicka, yang berusia 26 tahun, telah menunjukkan konsistensi dalam mengamankan lini belakang Roma di Serie A dan memiliki pengalaman bermain di kompetisi Eropa.
Berbeda dengan Bastoni, Ndikka diperkirakan dapat dibeli dengan biaya sekitar €45 juta (sekitar Rp850 miliar), angka yang lebih terjangkau bagi Barcelona. Selain itu, Roma tampak lebih terbuka untuk melakukan negosiasi, terutama karena klub tersebut sedang melakukan restrukturisasi skuad setelah gagal meraih gelar Serie A pada musim terakhir.
Para analis menilai bahwa Ndicka mampu menyesuaikan diri dengan taktik penguasaan bola Barcelona, meskipun belum memiliki profil internasional sebersinar Bastoni. Kemampuan Ndicka dalam duel udara, posisi, serta distribusi bola menjadi nilai plus yang relevan dengan gaya permainan Barca.
Dampak Finansial dan Strategi Jangka Panjang
Jika Barcelona memutuskan untuk mengeluarkan dana sebesar Rp1,5 triliun, klub harus menyesuaikan anggaran belanja pemain lainnya, termasuk potensi penjualan pemain yang tidak lagi menjadi bagian inti skuad. Manajemen klub diperkirakan akan meninjau kembali kebijakan gaji dan melakukan penjualan beberapa pemain dengan nilai pasar menengah untuk menyeimbangkan neraca keuangan.
Di sisi lain, memilih Ndicka dengan nilai transfer lebih rendah memberi ruang bagi Barcelona untuk tetap menginvestasikan dana pada posisi lain, seperti gelandang kreatif atau penyerang muda yang sedang naik daun. Keputusan ini juga akan memengaruhi struktur kontrak jangka panjang, mengingat FFP menuntut klub untuk tidak melampaui batas belanja bersih dalam tiga tahun ke depan.
Apapun pilihan akhir yang diambil, langkah Barcelona kali ini akan menjadi indikator jelas mengenai ambisi klub dalam mengembalikan kejayaan di La Liga dan kompetisi Eropa. Baik dengan mengeluarkan dana raksasa untuk Bastoni atau beralih ke opsi yang lebih terjangkau seperti Evan Ndicka, keputusan tersebut akan menentukan arah strategi pertahanan Barca hingga setidaknya tiga musim ke depan.













