Cinta di Puncak Monas: Endari dan Aryanto, Romansa Usia Senja yang Menginspirasi

Back to Bali – 05 April 2026 | Di usia senja, pasangan Endari (69) dan Aryanto (67) menunjukkan bahwa kisah cinta tidak mengenal batas usia…

3 minutes

Read Time

Cinta di Puncak Monas: Endari dan Aryanto, Romansa Usia Senja yang Menginspirasi

Back to Bali – 05 April 2026 | Di usia senja, pasangan Endari (69) dan Aryanto (67) menunjukkan bahwa kisah cinta tidak mengenal batas usia. Setiap Sabtu siang, keduanya menapaki langkah romantis di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, menghidupkan kembali semangat muda yang pernah mereka rasakan sejak awal pernikahan pada tahun 1982.

Endari, warga Depok, Jawa Barat, mengakui bahwa meski sudah berusia hampir tujuh puluh tahun, ia masih menikmati kebersamaan dengan suaminya. "Aki-aki, nini-nini," canda Endari sambil tertawa ketika ditanyai tentang hubungan mereka. Aryanto, yang rambutnya mulai memutih, membalas dengan hangat, menegaskan bahwa pernikahan mereka telah melewati empat dekade penuh liku.

Perjalanan Ritual ke Monas

Setiap kali ingin “pacaran” di Monas, pasangan ini menempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan layanan TransJakarta. Rute yang ditempuh dimulai dari Halte UI, dilanjutkan ke Lebak Bulus, kemudian transit lagi hingga mencapai area Monas. Endari menjelaskan, "Naik D-21, terus lanjut 6-H ke Gondangdia, habis itu naik lagi yang ke Balai Kota." Bagi mereka, proses perjalanan bukan sekadar transportasi, melainkan bagian penting dari kebersamaan.

Sesampainya di Monas, mereka tidak terburu‑buru mengelilingi taman. Cukup duduk di bangku, menikmati makanan ringan, dan mengobrol ringan sambil menyaksikan aktivitas pengunjung lain. “Lapar, jadi makan dulu aja sambil duduk,” ujar Aryanto sambil mengunyah. Suasana tenang ini kontras dengan keramaian pasangan muda yang biasanya mendominasi sudut‑sudut Monas.

Kebiasaan yang Teruji Waktu

Endari dan Aryanto telah menamatkan empat puluh‑tiga tahun pernikahan, memiliki dua anak, dan tiga cucu yang semuanya tinggal di Depok. Meskipun begitu, mereka menolak menganggap usia sebagai penghalang untuk terus menjalin keintiman. Mereka rutin menghabiskan satu hari dalam seminggu untuk keluar bersama, menyiapkan rencana sederhana seperti mengunjungi Taman Barito pada kunjungan berikutnya.

Menariknya, masa muda keduanya tidak banyak dihabiskan di Monas. “Waktu masih muda jarang pacaran di Monas,” ujar Endari, menambah nuansa ironi manis bahwa apa yang tak sempat mereka lakukan dulu kini menjadi kenikmatan di usia senja.

Makna Sosial dan Budaya

Keberadaan pasangan berusia lanjut di Monas memberikan pesan penting bagi publik: cinta dapat berkembang dan berlanjut seiring bertambahnya usia. Tanpa terganggu oleh ponsel atau agenda foto, mereka menekankan nilai kebersamaan yang autentik, berupa obrolan ringan, tawa kecil, dan rasa saling menghargai yang telah teruji oleh waktu.

Di tengah arus modernisasi yang menuntut kecepatan, cerita Endari dan Aryanto menjadi contoh bahwa kualitas hubungan tidak diukur dari lamanya waktu bersama, melainkan dari kedalaman rasa yang terjaga. Kebiasaan sederhana mereka—naik bus, duduk di taman, makan bersama—menjadi simbol keberlanjutan cinta yang tetap relevan di era digital.

Dengan semangat yang masih menyala, pasangan ini terus menulis babak baru dalam hidup mereka, menunjukkan bahwa romansa tidak berakhir pada usia tertentu. Mereka membuktikan bahwa setiap langkah kecil, bahkan sekadar menunggu bus atau menyantap makanan ringan di taman, dapat menjadi fondasi kuat bagi hubungan yang abadi.

Kesimpulannya, kisah Endari dan Aryanto di Monas bukan sekadar human interest biasa, melainkan inspirasi nyata bahwa cinta sejati dapat bertahan melintasi generasi, menantang stereotip usia, dan mengajarkan kita untuk selalu meluangkan waktu bagi orang terkasih, tak peduli berapa pun usia kita.

About the Author

Zillah Willabella Avatar