Back to Bali – 28 Maret 2026 | Jakarta – Menteri Koordinator Urusan Pemerintahan Daerah (MUPPD) Jawa Timur, Emil Dardak, memberikan pernyataan tegas mengenai potensi dampak perang antara Iran dan Amerika Serikat terhadap perekonomian provinsi Jawa Timur. Dalam sebuah wawancara eksklusif yang dilakukan di kantor Gubernur, Dardak menyoroti bagaimana ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat menular ke sektor energi, perdagangan, dan investasi di Pulau Jawa.
Menurut Dardak, konflik yang melibatkan dua negara penghasil minyak utama tersebut dapat memicu kenaikan harga minyak dunia secara signifikan. “Jika harga Brent melampaui US$100 per barel, biaya transportasi laut dan darat akan naik tajam, menambah beban pada industri manufaktur dan agribisnis di Jawa Timur,” ujarnya.
Pengaruh Langsung pada Harga Bahan Bakar dan Logistik
Indonesia sebagai importir bersih minyak mentah tentu akan merasakan dampak pertama pada harga bahan bakar. Dardak menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM akan menurunkan daya beli konsumen, sekaligus meningkatkan biaya operasional perusahaan transportasi. “Kenaikan harga diesel hingga 20% dapat memicu inflasi pada barang kebutuhan pokok, terutama di wilayah pedesaan yang sangat bergantung pada transportasi truk,” jelasnya.
Implikasi pada Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan
Jawa Timur dikenal sebagai lumbung pertanian nasional, dengan komoditas utama seperti padi, jagung, dan kedelai. Dardak menekankan bahwa naiknya biaya pupuk dan bahan bakar akan menekan margin petani dan produsen pengolahan. “Jika harga pupuk nitrogen naik 30%, petani kecil akan kesulitan mempertahankan produksi, yang pada gilirannya dapat menurunkan pasokan beras di pasar domestik,” tambahnya.
Risiko Penurunan Investasi Asing
Investor asing, terutama yang berasal dari negara-negara Barat, cenderung mengurangi eksposur pada pasar yang dianggap rentan terhadap gejolak geopolitik. Dardak mengingatkan bahwa Jawa Timur saat ini tengah mengembangkan zona ekonomi khusus (KEK) di Surabaya, Gresik, dan Pasuruan. “Jika sentimen risiko global meningkat, aliran FDI ke KEK dapat melambat, menghambat proyek infrastruktur penting seperti pelabuhan dan jalur kereta cepat,” katanya.
Untuk memitigasi dampak tersebut, pemerintah provinsi telah menyiapkan langkah-langkah strategis, antara lain:
- Meningkatkan cadangan strategis minyak dalam negeri.
- Mempercepat diversifikasi energi dengan mengoptimalkan pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi.
- Mendorong penggunaan energi terbarukan di sektor transportasi publik.
- Memberikan subsidi sementara bagi petani dan pelaku industri pengolahan yang terdampak kenaikan biaya produksi.
- Menjalin dialog intensif dengan investor untuk menegosiasikan skema insentif yang lebih fleksibel.
Data Proyeksi Ekonomi Jawa Timur 2024-2025
| Tahun | Pertumbuhan PDB (%) | Inflasi (%) | Investasi FDI (USD Miliar) |
|---|---|---|---|
| 2024 | 5,2 | 3,8 | 2,4 |
| 2025 (Proyeksi Tanpa Konflik) | 5,8 | 3,5 | 2,9 |
| 2025 (Proyeksi Dengan Konflik) | 4,7 | 4,6 | 2,0 |
Data di atas menunjukkan bahwa konflik Iran-AS berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur hingga 1,1 poin persentase pada tahun 2025, sekaligus menambah tekanan inflasi lebih dari satu poin persentase.
Emil Dardak menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya kesiapan bersama antara pemerintah provinsi, sektor swasta, dan masyarakat. “Kita tidak dapat menutup mata terhadap dinamika global. Namun, dengan kebijakan yang tepat dan sinergi lintas sektoral, Jawa Timur tetap dapat menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi kesejahteraan warga,” tuturnya.
Dengan situasi yang masih berkembang, Dardak berjanji akan terus memantau perkembangan konflik dan menyesuaikan kebijakan daerah secara dinamis demi menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.













