ITS Rilis Benwit: Bensin Berbasis Minyak Kelapa Sawit Siap Gantikan Bensin Fosil di Tengah Krisis Minyak Global

Back to Bali – 09 April 2026 | Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengumumkan terobosan penting dalam bidang energi alternatif: pengembangan bensin berbahan dasar..

3 minutes

Read Time

ITS Rilis Benwit: Bensin Berbasis Minyak Kelapa Sawit Siap Gantikan Bensin Fosil di Tengah Krisis Minyak Global

Back to Bali – 09 April 2026 | Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengumumkan terobosan penting dalam bidang energi alternatif: pengembangan bensin berbahan dasar minyak kelapa sawit (CPO) yang dinamakan Benwit. Inovasi ini muncul sebagai jawaban strategis atas krisis minyak global yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kebutuhan mendesak Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Latar Belakang dan Motivasi Penelitian

Ketika harga minyak dunia melambung dan pasokan menjadi tidak stabil, pemerintah dan industri energi Indonesia mencari solusi domestik yang berkelanjutan. Tim peneliti dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, dipimpin oleh Hosta Ardhiananta, menyoroti dampak lingkungan negatif dari pembakaran bensin konvensional dan menekankan pentingnya sumber energi yang lebih bersih.

Penelitian Benwit dimulai pada akhir 2024 dengan tujuan menghasilkan bahan bakar yang dapat langsung dipakai pada mesin bensin tanpa memerlukan modifikasi besar pada kendaraan. Berbeda dengan biodiesel yang biasanya dipakai pada mesin diesel, Benwit dirancang khusus untuk mesin bensin, sehingga mempermudah adopsi oleh konsumen.

Teknologi Produksi Benwit

Benwit diproduksi melalui proses Catalytic Cracking dengan katalis khusus yang memecah molekul minyak kelapa sawit menjadi rantai hidrokarbon mirip bensin. Langkah‑langkah utama meliputi:

  1. Ekstraksi minyak kelapa sawit murni dari buah kelapa sawit.
  2. Pencampuran dengan katalis berbasis zeolit yang telah dimodifikasi.
  3. Pemanasan dalam reaktor pada suhu tinggi (sekitar 500°C) untuk memecah molekul menjadi hidrokarbon ringan.
  4. Pemisahan fraksi bensin melalui distilasi.

Hasil akhir adalah cairan yang memiliki angka oktan setara bensin konvensional, namun dengan kandungan sulfur jauh lebih rendah.

Keunggulan Benwit Dibandingkan Bensin Konvensional

  • Emisi CO2 lebih rendah sekitar 20 % per kilometer tempuh.
  • Rasio sulfur hampir nol, mengurangi potensi polusi udara dan kerusakan mesin.
  • Berbasis sumber daya lokal; Indonesia adalah produsen CPO terbesar dunia.
  • Biaya produksi berpotensi kompetitif karena memanfaatkan limbah sawit dan infrastruktur yang sudah ada.
  • Tanpa memerlukan modifikasi mesin besar, sehingga dapat langsung dipasarkan kepada pemilik kendaraan bensin.

Implikasi Ekonomi dan Ketersediaan Bahan Baku

Pengembangan Benwit sejalan dengan peningkatan produksi minyak kelapa sawit nasional. Menurut laporan Prime Agri (SGRO), produksi CPO diproyeksikan naik hingga 5 % pada tahun 2026, didorong oleh momentum program B50 – kebijakan pemerintah yang mewajibkan pencampuran bahan bakar biodiesel sebesar 50 % dalam bensin. Peningkatan pasokan CPO memberikan basis bahan baku yang stabil bagi skala produksi Benwit.

Jika Benwit dapat diproduksi secara massal, dampak ekonomi dapat signifikan: penurunan impor minyak bumi, penciptaan lapangan kerja di sektor pengolahan kelapa sawit, serta peningkatan nilai tambah bagi petani dan pengolah CPO. Pemerintah diperkirakan akan mendukung melalui insentif fiskal dan kemudahan perizinan, mengingat selaras dengan agenda dekarbonisasi nasional.

Tantangan dan Langkah Selanjutnya

Walaupun prospek menjanjikan, Benwit masih menghadapi beberapa tantangan. Skalabilitas proses katalitik memerlukan investasi peralatan tinggi dan kontrol kualitas yang ketat. Selain itu, regulasi standar kualitas bahan bakar harus diperbarui untuk mengakomodasi karakteristik baru ini. Tim ITS berencana melakukan uji coba skala pilot pada kuartal ketiga 2026, bekerja sama dengan perusahaan minyak nasional untuk validasi performa mesin dan keamanan operasional.

Pengujian tersebut mencakup analisis performa mesin, pengukuran emisi, serta evaluasi ekonomi jangka panjang. Jika hasilnya positif, Benwit dapat masuk ke pasar domestik pada awal 2027, dengan target ekspor ke negara‑negara Asia Tenggara yang juga tengah mencari alternatif bahan bakar ramah lingkungan.

Dengan keberhasilan Benwit, Indonesia berpotensi menjadi pelopor teknologi bensin nabati di dunia, menegaskan posisi strategisnya dalam rantai nilai energi terbarukan.

About the Author

Pontus Pontus Avatar