Back to Bali – 04 April 2026 | Jakarta – Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, mengungkapkan bahwa Andrie Yunus, aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), kini berada dalam kondisi kritis dan berisiko kehilangan penglihatan secara permanen. Rincian kejadian dan temuan investigasi independen menjadi sorotan publik menjelang akhir pekan ini.
Rincian Serangan dan Kondisi Medis
Andrie Yunus menjadi korban penyiraman cairan air keras yang disemprotkan ke wajah dan tubuhnya pada awal April 2026. Luka bakar pada bagian kanan tubuhnya mencapai lebih dari dua puluh persen, sementara mata kanan mengalami iritasi parah karena cairan kimia tersebut menembus jaringan kornea. Dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menyatakan bahwa luka pada mata terus merembes, sehingga ada potensi kebutaan total dan bahkan harus dilakukan operasi pengangkatan bola mata bila kondisi tidak membaik.
Investigasi YLBHI dan Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD)
YLBHI bersama Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) melakukan penyelidikan mandiri terhadap aksi teror tersebut. Berdasarkan bukti video, jejak digital, dan saksi mata, tim menemukan indikasi bahwa tidak hanya empat orang pelaku yang terlibat, melainkan setidaknya enam belas orang. Jejak koordinasi terorganisir terlihat dari komunikasi pra‑aksi yang mengatur titik kumpul di daerah Menteng sebelum serangan dilancarkan.
- Enam belas orang diduga terlibat langsung dalam penyiraman air keras.
- Beberapa pelaku berperan sebagai koordinator lapangan yang memberi perintah.
- Wajah‑wajah pelaku terekam oleh kamera‑kamera pengawas di sekitar lokasi.
- Jejak logistik menunjukkan adanya pendanaan eksternal untuk aksi pembunuhan.
Tuntutan kepada Penegak Hukum
Isnur menuntut aparat kepolisian dan TNI untuk menelusuri rantai komando hingga ke perwira menengah hingga tinggi. Ia menegaskan bahwa aksi yang melibatkan enam belas orang tidak mungkin terjadi tanpa arahan dari pejabat berwenang. Namun, hingga kini pihak berwenang belum mengambil langkah signifikan untuk mengungkap jaringan di balik serangan tersebut, bahkan beberapa petunjuk justru dialihkan ke TNI, yang dianggap oleh YLBHI sebagai upaya mengalihkan perhatian.
Respon Andrie Yunus dari Ruang Perawatan
Dari ruang High Care Unit (HCU) RSCM, Andrie menyampaikan pesan suara berisi terima kasih kepada publik yang terus memberikan dukungan. Ia menegaskan tekad untuk tetap kuat meski menghadapi ancaman teror dan potensi kebutaan. “Saya tidak akan menyerah,” ujar Andrie dalam rekaman yang beredar di media sosial.
Implikasi Hak Asasi Manusia dan Kebijakan Publik
Kasus ini menambah daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia terhadap aktivis di Indonesia. Jika kebutaan permanen terjadi, konsekuensi medis tidak hanya mengubah kualitas hidup Andrie, tetapi juga menjadi bukti kuat bagi lembaga internasional dalam menilai kebijakan perlindungan aktivis di tanah air.
Pengungkapan YLBHI dan TAUD menyoroti pentingnya mekanisme investigasi independen yang dapat mengisi kekosongan ketika aparat resmi dianggap lambat atau tidak bersedia menindaklanjuti. Tekanan publik dan organisasi hak asasi diharapkan dapat mendorong proses hukum yang transparan dan akuntabel.
Dengan kondisi Andrie yang masih dirawat intensif, masyarakat menanti perkembangan medis selanjutnya serta hasil penyelidikan resmi yang dapat mengungkap siapa di balik rencana teror ini. Upaya menuntut keadilan bagi korban tidak hanya menjadi agenda organisasi, melainkan menjadi cermin komitmen bangsa dalam melindungi kebebasan berpendapat dan keselamatan aktivis.













