Back to Bali – 09 April 2026 | Presiden Kuba Miguel Diaz‑Canel menegaskan pada Jumat, 9 April 2026, bahwa negara kepulauan itu akan meluncurkan kampanye gerilya bila Amerika Serikat melancarkan serangan militer. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan majalah Newsweek di Havana, menanggapi ancaman Presiden AS Donald Trump yang menyebut Kuba sebagai target selanjutnya setelah Iran.
Trump, yang baru‑baru ini mengumumkan rencana invasi ke Iran dan Venezuela, melontarkan pernyataan tegas bahwa Kuba akan menjadi “sasaran berikutnya”. Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat siap “mengendalikan Kuba dengan cara apa pun” dan menuding pulau komunis itu menimbulkan “ancaman luar biasa” terhadap keamanan nasional AS. Tuduhan tersebut mencakup dugaan hubungan Kuba dengan Rusia, China, Iran, serta kelompok bersenjata seperti Hamas dan Hizbullah, meski pihak Kuba secara tegas menolak adanya kaitan dengan organisasi teroris yang ditetapkan oleh Washington.
Situasi Ekonomi dan Kemanusiaan di Kuba
Kubu berada dalam krisis ekonomi yang semakin parah. Sejak Januari 2026, embargo minyak AS memperparah kelangkaan energi, memicu pemadaman listrik harian yang menyentuh hampir 10 juta warga. Harga pangan melonjak, persediaan obat-obatan menipis, dan protes anti‑pemerintah yang jarang muncul mulai terdengar. Tekanan ekonomi ini menambah beban pada pemerintah yang harus menanggapi ancaman militer sambil menjaga stabilitas dalam negeri.
Diaz‑Canel menegaskan bahwa meskipun Kuba lebih memilih dialog, negara itu siap “membela diri dengan kekuatan penuh dan partisipasi seluruh rakyat” jika terjadi agresi militer. Ia mengutip slogan revolusioner mendiang Fidel Castro: “Jika kami kalah dalam pertempuran, maka kematian bagi tanah air adalah kehidupan.” Dengan kata lain, Kuba akan mengandalkan taktik perang gerilya yang telah menjadi ciri khas revolusi Kuba sejak 1959.
Strategi Gerilya dan Dukungan Internasional
Perang gerilya yang diusulkan mencakup penggunaan jaringan bawah tanah, serangan kilat, serta mobilisasi massa rakyat. Model ini mengandalkan pengetahuan lokal tentang medan, kemampuan beradaptasi cepat, dan dukungan logistik yang tersembunyi. Meskipun tidak ada bukti konkret bahwa Kuba memiliki aliansi militer formal dengan negara‑negara lain, hubungan dekatnya dengan Rusia dan China dapat membuka jalur bantuan teknis atau persenjataan.
Selain itu, Kuba menyoroti solidaritas dengan Iran yang baru‑baru ini “mereda” setelah serangkaian tekanan internasional. Kelegaan di Tehran memberi ruang bagi Havana untuk fokus pada pertahanan diri, namun juga menimbulkan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat akan mengalihkan perhatian militernya ke kawasan Karibia.
Respons Gedung Putih dan Dampak Regional
Gedung Putih membenarkan pernyataan Trump dengan menegaskan bahwa kebijakan komunis Havana, serta hubungannya dengan kekuatan seperti Rusia, China, dan Iran, menimbulkan risiko strategis. Namun, para analis militer menilai bahwa intervensi langsung ke Kuba akan menimbulkan konsekuensi politik dan militer yang signifikan, termasuk potensi eskalasi di wilayah Karibia dan penambahan tekanan pada hubungan AS‑Latin Amerika.
Jika konflik pecah, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh Kuba, melainkan juga negara‑negara tetangga seperti Meksiko, Bahama, dan Puerto Rico. Jalur perdagangan di Laut Karibia, yang menjadi arteri penting bagi pengiriman barang dan energi, dapat terganggu, memicu kenaikan harga komoditas global.
Sejumlah pakar keamanan regional menilai bahwa strategi gerilya Kuba dapat memperpanjang konflik, memaksa Amerika Serikat mengalokasikan sumber daya lebih banyak untuk operasi kontra‑insurgensi. Hal ini dapat menurunkan fokus AS pada agenda lain, termasuk kebijakan Indo‑Pasifik.
Meski demikian, Kuba menegaskan komitmennya untuk menghindari perang bila memungkinkan. “Kami akan selalu berusaha menghindari perang, dan kami akan selalu mengupayakan perdamaian,” kata Diaz‑Canel. Namun, ia menambahkan, “jika agresi militer terjadi, kami akan membela diri, kami akan berperang, dan kami akan membela diri.”
Dengan ketegangan yang kian memuncak, dunia menantikan langkah selanjutnya dari kedua belah pihak. Apakah ancaman Trump akan berujung pada aksi militer nyata, ataukah diplomasi kembali menjadi jalur utama, masih menjadi pertanyaan besar. Sementara itu, rakyat Kuba terus menahan beban ekonomi yang menurun, menanti kepastian keamanan dan kestabilan masa depan.













