Back to Bali – 08 April 2026 | Abdul Rochim, pria berusia 70 tahun asal Garut, Jawa Barat, mengukir kisah mengharukan di Kabupaten Kudus pada Senin (7/4/2026). Dengan lima unit jemuran baju di pundaknya, ia menempuh sekitar 17 kilometer berjalan kaki dari Desa Puyoh, Kecamatan Dawe, ke Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, sambil menawarkan dagangannya ke tiap rumah yang dilalui.
Perjalanan Panjang yang Dimulai dengan Modal Kecil
Rochim tiba di Kudus hanya sehari sebelumnya bersama seorang rekan. Ia membawa bekal uang tunai sebesar Rp150.000, yang diperkirakan cukup untuk makan, biaya kos, dan transportasi selama sebulan. Namun, pada akhir hari pertama, sisa uangnya tinggal Rp30.000, menandakan tantangan ekonomi yang dihadapinya.
Target Penjualan yang Menantang
Sebagai pedagang jemuran, Rochim menargetkan penjualan 100 unit dalam waktu satu bulan. Pada hari itu, ia memulai dengan lima unit, masing‑masing dijual seharga Rp300.000 (dapat ditawar). “Saya belum ada yang membeli, tapi satu pembeli saja sudah sangat membantu,” ujarnya sambil meneguk air mineral di tepi jalan.
Meski belum ada transaksi, Rochim tidak menyerah. Ia terus mengulang rute, kembali ke Jati Wetan setelah mengunjungi rumah‑rumah di Puyoh, dan tetap menawarkan barangnya hingga sore hari.
Rintangan Fisik dan Emosional
Usia tidak lagi muda, beban lima jemuran di pundak menambah kelelahan. “Kaki saya lemas, badan terasa berat,” kata Rochim dengan suara serak. Namun, tekadnya tetap kuat. “Jika ada yang membeli, beban saya akan berkurang. Saya tidak putus asa, rezeki akan datang,” tegasnya.
Latar Belakang Ekonomi Keluarga
Di kampung halaman, istri dan anak bungsunya bekerja sebagai petani. Rochim memilih merantau untuk menambah penghasilan keluarga dan menabung demi pernikahan anaknya. Sejak tahun 2000, ia telah mengunjungi berbagai daerah, termasuk Demak, Pekalongan, Jember, Madura, dan Bali, demi menjual jemuran.
Keputusan berjualan di Kudus datang atas tawaran seorang rekan yang mengetahui kebutuhan ekonomi Rochim. Ia berharap pendapatan tambahan dapat meringankan beban hidup keluarganya di kampung.
Respon Masyarakat dan Harapan Kedepan
Selama berkeliling, banyak warga yang menolak membeli dengan alasan belum membutuhkan. “Mboten,” jawab mereka dalam bahasa Jawa. Namun, Rochim tetap bersikap sopan dan melanjutkan penawaran tanpa memaksa.
Di akhir hari, meski belum ada penjualan, Rochim mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan berjualan di kota baru. “Saya percaya Allah akan memberikan rezeki pada waktunya. Saya akan terus berjalan dan menawarkan hingga ada yang membeli,” tuturnya.
Kisah Abdul Rochim menggambarkan kegigihan para perantau yang berjuang melawan keterbatasan ekonomi, menempuh jarak jauh, dan menanggung beban fisik demi kesejahteraan keluarga. Semangatnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan bahwa kerja keras dan ketekunan tetap menjadi kunci dalam menghadapi tantangan hidup.













