Back to Bali – 08 April 2026 | Jakarta, 8 April 2026 – Aktris ternama Laura Basuki kembali menjadi sorotan publik setelah penampilannya sebagai biarawati muda dalam film “Yohanna” yang diproduksi oleh Summerland Films. Peran yang belum pernah ia coba sebelumnya ternyata membuka mata sang aktris terhadap realitas kehidupan biarawati, sekaligus menyoroti tantangan sosial di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Latar Belakang Film Yohanna
Film “Yohanna” mengisahkan perjalanan seorang biarawati muda yang ditugaskan ke sebuah desa di Sumba pasca bencana alam. Di balik keindahan alam pulau tersebut, film ini menampilkan kerasnya perjuangan anak‑anak kecil yang harus bekerja demi bertahan hidup, serta pergulatan iman yang menggelayuti komunitas lokal. Sutradara Razka Robby Ertanto menegaskan bahwa tujuan utama karya ini adalah menampilkan realita yang jarang terungkap di layar lebar, bukan sekadar menambah estetika visual.
Laura Basuki Menyelami Peran Biarawati
Laura Basuki, yang lahir pada tahun 1988, menerima tawaran peran ini karena ia belum pernah memerankan sosok biarawati sebelumnya. “Aku tertarik karena belum pernah memainkan karakter seperti ini. Selain itu, saya ingin membantu sutradara menyampaikan realitas Sumba yang sebenarnya,” ujar Laura dalam sebuah wawancara eksklusif di Jakarta Selatan pada Senin (6/4/2026). Untuk memperdalam karakter, aktris tersebut melakukan riset intensif: mengobrol langsung dengan biarawati, menonton video‑video wawancara dengan pastor, serta mempelajari dinamika kehidupan religius di lingkungan biara.
Pandangan Baru tentang Biarawati
Setelah menjalani proses tersebut, Laura mengakui bahwa ia memperoleh pemahaman baru tentang manusia di balik jubah biarawati. “Jika di pikiran banyak orang biarawati adalah sosok suci tanpa dosa, ternyata mereka juga manusia yang dapat merasakan kegoyahan batin, mempertanyakan iman, bahkan membuat keputusan yang bertentangan dengan ajaran mereka ketika berada dalam situasi terdesak,” kata Laura. Pandangan ini menantang stereotip umum dan menambah dimensi kemanusiaan pada karakter Yohanna yang digambarkan dalam film.
Reaksi Publik dan Harapan Film
Setelah diputar di sejumlah festival film internasional, “Yohanna” dijadwalkan segera tayang di bioskop Indonesia. Antisipasi penonton tinggi, terutama mengingat Laura Basuki baru saja dinobatkan sebagai Best Actress di Asian Film Festival 2025 berkat penampilannya dalam film ini. Banyak yang menilai bahwa kisah Yohanna dapat menjadi cermin bagi masyarakat luas, karena pergulatan spiritual dan sosial yang dihadapi karakter tersebut terasa sangat dekat dengan pengalaman hidup banyak orang.
Laura menambahkan, “Film ini bukan sekadar drama religius, melainkan refleksi tentang bagaimana kita semua, tak terkecuali mereka yang berada di atas panggung keagamaan, dapat mengalami keraguan, kebingungan, dan pada akhirnya menemukan kekuatan melalui keimanan yang lebih manusiawi.” Ia berharap penonton dapat menangkap pesan tersebut dan mengapresiasi upaya film dalam menampilkan realitas Sumba serta memperlihatkan bahwa biarawati, seperti manusia lainnya, memiliki kompleksitas emosional.
Dengan keberanian mengambil peran yang menantang dan melakukan riset mendalam, Laura Basuki tidak hanya menambah nilai artistik pada film “Yohanna”, tetapi juga membuka ruang diskusi publik mengenai sisi kemanusiaan dalam kehidupan religius. Film ini diproyeksikan menjadi salah satu karya sinematik Indonesia yang paling menginspirasi tahun ini.











