Back to Bali – 07 April 2026 | Senin, 6 April 2026, sekitar pukul 14.30 WIB, pabrik PT Great Wall Steel (GWS) di Jalan Brigjen Katamso, Kabupaten Sidoarjo, diguncang ledakan keras yang menewaskan satu pekerja dan melukai dua lainnya. Insiden ini memicu keprihatinan luas, mengingat lokasi pabrik berada di kawasan industri yang padat. PT GWS segera turun tangan, memberikan keterangan resmi mengenai penyebab dugaan ledakan serta upaya mitigasi yang telah dan akan dilaksanakan.
Ruang Lingkup Insiden
Ledakan terjadi di area scrap yard, tempat perusahaan menerima besi tua dari berbagai pemasok. Menurut Heri Prasetyo, General Affair PT GWS, proses pemotongan besi tua menggunakan las menjadi titik kritis yang memicu ledakan. “Kami menerima besi tua dalam jumlah besar, dan bila dimensinya tidak memungkinkan untuk dilebur, kami memotongnya. Pada saat proses pemotongan itu, terjadi ledakan,” ujar Heri saat diwawancara di lokasi.
Analisis Awal Kepolisian
Pihak kepolisian setempat melakukan penyelidikan awal dan menyatakan bahwa ledakan tidak menunjukkan karakteristik bom atau bahan peledak militer. “Jika itu bom, kerusakan pada bangunan dan peralatan di sekitar area akan jauh lebih parah. Namun, tidak ada kerusakan signifikan pada struktur atau peralatan lain,” kata petugas kepolisian yang menangani kasus ini. Meskipun demikian, otoritas masih menunggu hasil analisis laboratorium untuk memastikan penyebab pasti.
Prosedur K3 yang Diterapkan
PT GWS menegaskan bahwa seluruh prosedur Standar Operasional Prosedur (SOP) dan protokol Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) telah diterapkan di pabrik. Perusahaan menyebutkan bahwa setiap tahap pemrosesan besi tua, mulai dari penerimaan hingga pemotongan, dilakukan di area yang telah diisolasi dan dilengkapi dengan peralatan pemadam kebakaran otomatis.
- Area scrap yard dipisahkan secara fisik dari zona produksi utama.
- Penggunaan alat las dilengkapi dengan sensor suhu dan detektor gas berbahaya.
- Tim K3 melakukan inspeksi harian dan audit keselamatan secara periodik.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Akibat ledakan, satu pekerja tewas dan dua lainnya mengalami luka berat yang memerlukan perawatan intensif. Selain itu, sekitar tujuh rumah warga di sekitar pabrik mengalami kerusakan ringan, meskipun tidak mengancam keselamatan struktural. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama Dinas Tenaga Kerja segera melakukan evakuasi sementara bagi warga terdampak dan menyediakan bantuan medis serta logistik.
Secara ekonomi, PT GWS mengumumkan bahwa produksi sementara akan diturunkan selama investigasi berlangsung. Perusahaan berjanji akan mempercepat proses perbaikan dan memastikan bahwa operasi kembali normal tanpa mengorbankan standar keselamatan.
Tindakan Lanjutan dan Komitmen Perusahaan
Heri Prasetyo menegaskan bahwa PT GWS tidak akan menutup mata atas insiden ini. “Kami menunggu hasil laboratorium kepolisian untuk mengidentifikasi penyebab pasti. Sementara itu, kami akan meningkatkan pengawasan pada proses pemotongan dan meninjau kembali semua pemasok besi tua,” katanya. Perusahaan juga berkomitmen untuk meningkatkan pelatihan K3 bagi seluruh karyawan, serta melakukan audit independen oleh konsultan luar.
Insiden ini menjadi peringatan penting bagi industri baja di Indonesia, khususnya terkait penanganan material bekas (scrap) yang sering kali mengandung residu bahan berbahaya. Penegakan regulasi K3 yang ketat serta transparansi informasi menjadi faktor kunci dalam mencegah tragedi serupa di masa mendatang.
Dengan menunggu hasil penyelidikan resmi, masyarakat dan pihak terkait diharapkan dapat bersikap objektif dan mendukung upaya pemulihan yang sedang berjalan. Keselamatan pekerja dan warga sekitar tetap menjadi prioritas utama, sementara PT GWS berupaya menegakkan kembali kepercayaan publik melalui tindakan konkret dan akuntabel.













