Back to Bali – 30 Maret 2026 | Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan keluhan terkait dinamika pasar beras Indonesia. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Amran menyoroti kontras tajam antara kegaduhan proses impor beras yang kini menjadi sorotan media, sementara upaya ekspor beras justru tampak sepi berita.
Menurut Amran, situasi ini mencerminkan tantangan struktural yang harus dihadapi pemerintah untuk menyeimbangkan ketahanan pangan domestik sekaligus memanfaatkan potensi ekspor. “Saat impor beras menjadi topik panas, berita tentang ekspor beras seakan menghilang. Padahal, kita memiliki stok yang cukup untuk mendukung keduanya,” ujarnya dengan nada tegas.
Stok Beras Nasional Mencapai Rekor Tertinggi
Data terbaru yang dirilis Kementerian Pertanian mengindikasikan bahwa stok beras nasional telah mencapai 4,3 juta ton pada akhir Maret 2026, angka tertinggi dalam sejarah pencatatan. Menteri Amran menegaskan target ambisius pemerintah untuk menambah stok menjadi 5 juta ton pada bulan April, seiring dengan penambahan kapasitas penyimpanan melalui penyewaan gudang tambahan senilai 2 juta ton.
“Kapasitas gudang kita hanya 3 juta ton. Untuk mengantisipasi peningkatan stok, kami menyewa gudang tambahan dengan kapasitas dua juta ton,” jelas Amran. Langkah ini diharapkan dapat menambah bantalan persediaan beras, sehingga fluktuasi harga di pasar domestik dapat ditekan.
Optimisme Terhadap Dampak El Nino
Dalam konteks cuaca ekstrim, Amran juga menyampaikan keyakinan bahwa fenomena El Nino yang diprediksi akan berlangsung dengan intensitas tinggi tidak akan menggoyang stabilitas harga pangan. “Kita telah menyiapkan kebijakan yang proaktif, termasuk subsidi pupuk dan dukungan kepada petani, sehingga produksi dalam negeri tetap terjaga meski menghadapi kondisi kering,” ungkapnya.
Penurunan harga pupuk sebesar 20 persen menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan produktivitas pertanian. Menurut Menteri, kebijakan ini tidak hanya menurunkan biaya produksi, tetapi juga memperkuat daya saing beras Indonesia di pasar global.
Impor vs. Ekspor: Dinamika yang Berlawanan
Impor beras Indonesia memang mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir, dipicu oleh kebutuhan untuk menutupi kekurangan produksi domestik pada musim tanam sebelumnya. Namun, Amran menekankan bahwa pemerintah tidak mengabaikan potensi ekspor. “Kita sudah menyiapkan program promosi di pasar Asia dan Timur Tengah. Tetapi tanpa dukungan media yang memadai, informasi tentang ekspor tidak tersebar luas,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Kementerian Pertanian sedang berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk memperkuat branding beras Indonesia sebagai produk berkualitas tinggi, serta memperluas jaringan distribusi ke negara-negara yang memiliki permintaan tinggi.
Strategi Pemerintah Menghadapi Inflasi Pangan
Selama periode Ramadan dan hari besar keagamaan, beras biasanya menjadi penyumbang utama inflasi. Namun, Amran menyatakan bahwa tahun ini berbeda. “Alhamdulillah, selama Ramadan, harga beras tidak menjadi penyumbang inflasi utama. Ini merupakan pencapaian signifikan,” ujar beliau.
Stabilitas harga beras diharapkan dapat berkontribusi pada penurunan tingkat inflasi secara keseluruhan, mengingat beras merupakan komoditas pokok yang mempengaruhi daya beli masyarakat luas.
Dengan stok yang cukup, kebijakan dukungan produksi, dan upaya memperluas pasar ekspor, Menteri Pertanian menilai Indonesia berada pada posisi yang lebih kuat untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus meningkatkan devisa dari sektor pertanian.
Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus memantau situasi pasar, memperbaiki infrastruktur penyimpanan, dan memperkuat kerjasama internasional demi mengoptimalkan potensi ekspor beras Indonesia.













