Back to Bali – 07 April 2026 | Jakarta, 6 April 2026 – Aktor Mawar Eva de Jongh menampilkan performa paling menyentuh dalam kariernya lewat peran Dira di film drama keluarga “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?”. Film yang diadaptasi dari novel best‑seller karya Khoirul Trian ini disutradarai oleh Kuntz Agus, menyoroti dinamika hubungan saudara dan ayah yang hadir secara fisik namun absen secara emosional.
Sinopsis dan Tema Sentral
“Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?” mengisahkan dua bersaudara, Dira (diperankan Mawar Eva) dan Darin, yang tumbuh di bawah bayang‑bayang seorang papa yang selalu ada secara materi, namun jarang memberi perhatian emosional. Konflik batin Dira menjadi benang merah film; ia menutup diri, memendam luka lama, dan berjuang mencari arah hidup di tengah ketidakpastian keluarga.
Proses Pendalaman Karakter Dira
Mawar Eva menjelaskan bahwa memerankan Dira bukan sekadar menghafal dialog, melainkan menyelami kehidupan seorang perempuan yang terbiasa menahan perasaan. “Mbak Dira memang pendiam, ia menyimpan beban yang tak selalu tampak. Saya harus menemukan cara mengekspresikan kesedihan itu tanpa berlebihan,” ungkap Mawar dalam press screening di Epicentrum XXI, Jakarta.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Mawar mengandalkan dukungan intens dari rekan‑rekannya. Sebelum adegan‑adegan berat, para pemain melakukan ritual saling berpegangan tangan, sebuah simbol kepercayaan dan kebersamaan yang memperkuat energi positif di lokasi syuting. “Kami selalu menyamakan visi, jadi ketika adegan intens muncul, kami tahu satu sama lain akan memberi dukungan,” tambahnya.
Chemistry Antara Dira dan Bumi
Baskara Mahendra, yang memerankan Bumi, menambahkan dimensi lain pada film dengan menampilkan cinta tanpa syarat kepada Dira. “Karakter Bumi secara alami ingin memberikan segalanya untuk Dira karena beban yang ia rasakan sangat berat. Saya tidak perlu memaksa diri, karena rasa empati itu sudah mengalir,” kata Baskara.
Chemistry antara Mawar dan Baskara menjadi salah satu faktor utama yang membuat penonton merasakan kehangatan dan kegetiran hubungan saudara dalam film. Adegan-adegan yang menekan dada, terutama ketika Dira konfrontasi dengan ayahnya, berhasil mengekspresikan kepedihan yang mendalam tanpa berlebihan.
Pengaruh Sutradara dan Tim Produksi
Kuntz Agus, sang sutradara, menekankan pentingnya keautentikan dalam menggambarkan luka batin Dira. Ia menginstruksikan para pemain untuk berinteraksi secara natural, meminimalisir penggunaan teknik berlebih yang dapat mengurangi kejujuran emosi. “Kami ingin penonton merasakan bahwa keluarga memang bisa retak, namun masih ada harapan lewat kehadiran orang‑orang yang peduli,” ujar Kuntz dalam konferensi pers.
Respon Penonton dan Kritik Awal
Penonton yang menyaksikan press screening memberikan respons positif, khususnya memuji kedalaman akting Mawar Eva. Banyak yang menyebut penampilannya sebagai “membawa air mata” dan “menyentuh hati”. Kritikus film mengapresiasi bagaimana film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memaksa penonton untuk merenungkan arti kehadiran emosional dalam keluarga.
Secara keseluruhan, “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?” berhasil menyajikan narasi yang kuat, didukung oleh performa akting yang kredibel dan sinematografi yang menonjolkan nuansa intim. Film ini tidak hanya menambah katalog drama keluarga Indonesia, tetapi juga menjadi cermin bagi banyak orang yang mengalami dinamika serupa dalam kehidupan pribadi mereka.
Dengan menampilkan luka‑luka yang tersembunyi serta harapan akan penyembuhan, Mawar Eva de Jongh membuktikan bahwa ia mampu menyimpan banyak luka sekaligus menyalurkannya menjadi karya seni yang menginspirasi. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop nasional mulai akhir April 2026, dan diprediksi akan menjadi salah satu film drama paling berkesan tahun ini.













