Back to Bali – 10 April 2026 | Medvi, perusahaan rintisan dua orang yang mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk memasarkan e‑preskrip obat‑obatan GLP‑1, peptida, serta produk kesehatan lainnya, menjadi sorotan publik setelah sejumlah laporan mengungkap dugaan praktik tidak etis dan pelanggaran regulasi.
Latar Belakang dan Model Bisnis
Didirikan oleh Matthew Gallagher bersama saudara laki‑lakinya, Medvi mengoperasikan platform daring yang menawarkan resep digital untuk obat penurunan berat badan berbasis GLP‑1, hormon pertumbuhan, suplemen kebugaran, bahkan paket makanan siap saji. Seluruh proses teknis – mulai dari kode situs web, salinan iklan, hingga layanan suara – diciptakan oleh alat AI seperti ElevenLabs dan berbagai chatbot. Penyedia layanan kesehatan eksternal, OpenLoop Health dan CareValidate, menangani persetujuan medis, pengiriman farmasi, serta kepatuhan regulasi.
Pertumbuhan Pendapatan yang Menggiurkan
Menurut laporan internal yang disampaikan ke media, Medvi mencatat pendapatan sebesar US$401 juta pada tahun 2025, melayani sekitar 250 ribu pelanggan dengan margin bersih 16,2 % (sekitar US$65 juta). Perusahaan menargetkan pendapatan US$1,8 miliar pada tahun 2026, mengklaim pertumbuhan yang melampaui setengah dari pendapatan Hims, sebuah perusahaan publik di bidang kesehatan konsumen. Uniknya, Medvi tidak memiliki investor eksternal dan tidak mengandalkan pinjaman bank, menjadikannya contoh “startup tanpa modal ventura” yang mengandalkan AI untuk mengurangi biaya operasional.
Kontroversi Regulasi dan Etika
Berbagai media mengungkapkan serangkaian masalah yang mengancam kelangsungan bisnis Medvi. Pertama, chatbot yang digunakan sering menghasilkan informasi harga dan produk yang tidak akurat, bahkan mengirimkan tautan formulir intake dengan perubahan digit yang memungkinkan akses ke data pasien lain – potensi pelanggaran HIPAA yang belum dilaporkan ke otoritas.
Kedua, FDA mengirimkan surat peringatan pada Februari terkait tampilan gambar suntikan GLP‑1 berlabel Medvi serta klaim “FDA‑approved” pada produk yang sebenarnya merupakan kompaun tidak diizinkan. Sampai saat ini tidak ada catatan respons resmi dari Medvi dalam jangka waktu yang diwajibkan.
Ketiga, OpenLoop Health, mitra utama dalam layanan telemedisin, mengalami kebocoran data pada Januari yang memengaruhi 1,6 juta catatan pasien dan kini menghadapi gugatan kelas terkait tirzepatide oral yang diproduksi oleh Triad Rx dan dijual oleh Medvi.
Terakhir, praktik pemasaran afiliasi Medvi dipertanyakan karena penggunaan gambar dokter buatan AI, video testimoni deepfake, dan foto “sebelum‑setelah” yang dipalsukan. Lebih dari 5 ribu kampanye iklan terdaftar di perpustakaan Meta, dengan banyak dokter yang tidak memiliki keberadaan nyata atau terhubung ke toko di Angola.
Reaksi Pasar dan Prospek Ke Depan
Meskipun kontroversi menumpuk, nilai pasar Medvi tetap menarik bagi investor potensial. Beberapa analis memperkirakan bahwa perusahaan dapat mempertahankan laju pertumbuhan jika berhasil mengatasi masalah kepatuhan dan meningkatkan transparansi. Namun, risiko litigasi, denda regulator, serta kerusakan reputasi dapat menghambat akses modal dan memperlambat ekspansi.
Para pengamat menekankan pentingnya alokasi dana untuk tim kepatuhan hukum, audit keamanan data, serta verifikasi kredibilitas afiliasi pemasaran. Tanpa langkah korektif yang kuat, Medvi berisiko kehilangan kepercayaan konsumen dan menghadapi sanksi administratif yang signifikan.
Secara keseluruhan, Medvi menampilkan contoh inovasi AI dalam industri farmasi yang dapat menciptakan model bisnis tanpa pekerja manusia tradisional. Namun, keberhasilan jangka panjang bergantung pada kemampuan perusahaan mengintegrasikan standar etika, keamanan data, dan kepatuhan regulasi ke dalam ekosistem AI‑nya.













