Back to Bali – 04 April 2026 | Pada perayaan Jumat Agung tahun ini, Gereja Katedral Tanjung Selor menampilkan sebuah pementasan Jalan Salib kreatif yang mengusung tema “Lux in Nihilo”—terang dalam kegelapan. Dari sekian puluh pemeran, satu nama menonjol: Jason, yang dipercaya mengemban peran Yesus Kristus pada fase terakhir penderitaan hingga penyaliban. Penampilannya tidak hanya memikat mata jemaat, tetapi juga menyentuh hati banyak kalangan, menjadikannya sorotan utama dalam rangkaian ibadah.
Latar Belakang dan Persiapan Spiritual
Jason, seorang pria berusia 32 tahun asal Tanjung Selor, pertama kali terlibat dalam kegiatan teater liturgi sejak 2018 melalui komunitas muda Katolik setempat. Ia mengaku sempat meragukan kemampuan aktingnya, namun dorongan spiritual dan dukungan para pembimbing rohani mendorongnya untuk mencoba peran yang lebih berat. Selama tiga bulan menjelang Jumat Agung, ia menjalani serangkaian persiapan yang mencakup puasa, doa rosari, serta retret pribadi di biara terdekat. “Saya ingin menyatu dengan Yesus, bukan sekadar menghafal dialog,” ujarnya dalam sebuah wawancara singkat di ruang pastoral.
Pengalaman Emosional Selama Pementasan
Seperti yang dilaporkan oleh beberapa pemeran lain di Jakarta, peran Yesus menuntut kedalaman emosi yang luar biasa. Jason tidak terkecuali. Pada malam pertama latihan adegan penyaliban, ia sampai meneteskan air mata yang tak dapat ditahan. “Ada saatnya saya merasakan beban salib secara fisik, seakan ada luka yang menancap di punggung saya,” katanya sambil mengingat kembali momen tersebut. Reaksi emosional itu ternyata memperkuat keyakinannya, menjadikan pengalaman tersebut sebagai titik balik spiritual yang signifikan.
Selain puasa, Jason juga melakukan praktik meditasi selama 30 menit setiap hari, berfokus pada ayat-ayat Injil yang menggambarkan penderitaan Yesus. Teknik ini membantu ia menyalurkan rasa sakit batin menjadi energi yang dapat dipertunjukkan di panggung tanpa kehilangan kontrol.
Tantangan dan Refleksi Pribadi
Memerankan Yesus bukan sekadar soal akting; bagi Jason, itu adalah sebuah tanggung jawab moral. Ia mengakui pernah mengalami pergulatan batin menjelang penampilan. “Saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya layak menjadi wakil-Nya?” ujarnya dengan nada rendah. Namun, dukungan tim produksi—termasuk pastor utama Katedral, Bunda Maria Lestari—menjadi sumber kekuatan. Bunda Lestari menegaskan bahwa peran ini lebih dari sekadar seni, melainkan sarana refleksi iman bagi seluruh umat.
Selama proses persiapan, Jason juga terlibat dalam diskusi teologis bersama para imam untuk memahami konteks historis penderitaan Kristus. Diskusi tersebut memperkaya interpretasi emosionalnya, sehingga setiap gerakan di panggung menjadi simbolis, bukan sekadar gerakan tubuh.
Penampilan pada Jumat Agung
Pertunjukan dimulai tepat pada pukul 19.00 WIB, dengan cahaya redup menyoroti jalan salib yang terbuat dari kayu alami. Jason muncul mengenakan jubah putih sederhana, lalu perlahan mengubahnya menjadi jubah berwarna gelap saat memasuki adegan penyaliban. Penonton, yang terdiri dari ratusan jemaat, terpaku pada setiap tatapan mata sang pemeran. Saat adegan pengangkatan salib, Jason menapakkan langkah berat, menggambarkan beban dosa umat manusia.
Setelah menurunkan salib di depan altar, ia berlutut dan menundukkan kepala, menandai akhir penderitaan. Hening menyelimuti ruangan selama tiga menit, memberi ruang bagi jemaat untuk merenungkan makna pengorbanan tersebut. Pada akhirnya, Jason berdiri kembali, menatap ke arah jendela kaca patri yang memancarkan cahaya keemasan—simbol kebangkitan yang akan datang.
Reaksi Jemaat dan Dampak Sosial
Reaksi yang muncul beragam, mulai dari air mata yang mengalir hingga tepuk tangan penuh penghargaan. Seorang umat muda, Neri Iman, mengungkapkan, “Penampilan Jason membuat saya lebih memahami betapa dalamnya kasih Tuhan. Saya merasa dipanggil untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.” Sementara itu, beberapa tokoh gereja menilai pementasan ini sebagai terobosan dalam menggabungkan seni dan liturgi, sehingga generasi muda lebih mudah terhubung dengan cerita Kristus.
Di media sosial, video pendek momen klimaks pementasan mendapat ratusan ribu tampilan, memperluas jangkauan pesan iman di luar lingkup Katedral. Meskipun tidak ada tautan eksternal, percakapan daring memperlihatkan apresiasi luas terhadap keberanian Jason dalam menghidupkan kembali sosok Yesus.
Secara keseluruhan, perjalanan Jason dari persiapan spiritual hingga panggung menjadi contoh nyata bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara iman dan pengalaman manusia. Ia tidak hanya menyampaikan cerita penderitaan Kristus, tetapi juga mengajak setiap penonton menelusuri kedalaman hati mereka sendiri, menyiapkan diri menyambut kebangkitan pada hari Paskah.
Dengan keberhasilan pementasan ini, Gereja Katedral Tanjung Selor berencana menjadikan acara Jalan Salib kreatif sebagai tradisi tahunan, memberikan ruang bagi lebih banyak pemeran muda untuk merasakan panggilan rohani serupa. Bagi Jason, panggilan itu belum berakhir; ia menyatakan kesediaannya untuk terus melayani melalui seni, menjadikan setiap langkah hidupnya sebagai persembahan bagi Sang Juru Selamat.











