Back to Bali – 30 Maret 2026 | Gorontalo, 30 Maret 2026 – Dunia keagamaan dan masyarakat Pohuwato dikejutkan dengan berita duka. Ustaz Fahri Djafar, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) wilayah Pohuwato, meninggal dunia pada dini hari tadi setelah mengalami komplikasi kesehatan yang mendadak.
Latar Belakang Singkat
Ustaz Fahri Djafar, lahir di Kabupaten Pohuwato pada tahun 1965, dikenal sebagai sosok ulama yang gigih dalam menggerakkan komunitas Muslim di Provinsi Gorontalo. Sejak muda, ia menekuni pendidikan agama di pesantren ternama dan melanjutkan studi di Fakultas Syariah Universitas Negeri Gorontalo, di mana ia meraih gelar sarjana dan kemudian magister.
Karier di Kementerian Agama
Sebelum menjabat sebagai Ketua MUI Pohuwato, Ustaz Fahri mengabdi selama 13 tahun sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pohuwato. Selama masa kepemimpinannya, ia berhasil meningkatkan kualitas layanan administrasi keagamaan, memperluas jaringan kantor kecamatan, serta menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat miskin melalui program zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Beberapa pencapaian penting antara lain:
- Peningkatan 45% jumlah pendaftaran pernikahan resmi dalam tiga tahun terakhir.
- Penyediaan pelatihan tahunan bagi para kiai dan imam di seluruh kecamatan.
- Implementasi sistem digitalisasi arsip keagamaan yang memudahkan akses data bagi warga.
Peran sebagai Ketua MUI Pohuwato
Pada tahun 2023, Ustaz Fahri terpilih menjadi Ketua MUI wilayah Pohuwato. Kepemimpinannya ditandai dengan pendekatan inklusif, mengedepankan dialog antarumat beragama, serta menggalang program edukasi keagamaan yang menekankan nilai toleransi. Di bawah kepemimpinannya, MUI Pohuwato meluncurkan beberapa inisiatif strategis, antara lain:
- Program “Masjid Bersih, Lingkungan Sehat” yang melibatkan komunitas lokal dalam perawatan masjid.
- Seminar tahunan “Islam dan Pembangunan” yang mengundang akademisi dan praktisi kebijakan publik.
- Penguatan jaringan dakwah digital melalui portal resmi MUI Pohuwato.
Usaha-usaha tersebut mendapat apresiasi luas dari tokoh agama, pemerintah daerah, dan masyarakat umum.
Reaksi dan Rasa Kehilangan
Berita kematian Ustaz Fahri cepat menyebar melalui media sosial, radio, dan televisi lokal. Banyak tokoh agama, pejabat daerah, serta warga yang menyampaikan belasungkawa. Gubernur Gorontalo, Dr. Ahmad Zainal, menurunkan pernyataan resmi yang menyebutkan, “Kehilangan Ustaz Fahri adalah kehilangan besar bagi seluruh umat Islam di Gorontalo. Dedikasinya dalam memajukan keagamaan dan sosial tidak akan pernah terlupakan.”
Para pimpinan MUI di tingkat provinsi dan nasional juga menyampaikan penghormatan. Ketua MUI Indonesia, KH. Ma’ruf Amin, mengungkapkan, “Ustaz Fahri adalah contoh nyata kepemimpinan yang berlandaskan pada keikhlasan dan keilmuan. Semoga amalnya diterima dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.”
Warisan dan Dampak Jangka Panjang
Walaupun kepergiannya terasa mendadak, warisan Ustaz Fahri Djafar sudah tertanam kuat dalam struktur keagamaan dan sosial di Pohuwato. Program-program yang ia inisiasi terus berlanjut, dan banyak generasi muda yang terinspirasi oleh semangat dakwahnya. Di samping itu, jaringan kerjasama antara Kemenag, MUI, dan lembaga swadaya masyarakat yang dibangun selama masa jabatannya diperkirakan akan menjadi fondasi bagi kebijakan keagamaan yang lebih responsif di masa depan.
Upacara pemakaman dijadwalkan akan dilaksanakan pada sore hari di Pemakaman Umum Pangkalan Buni, Gorontalo, dengan prosesi doa bersama yang melibatkan para tokoh agama dan pejabat daerah. Keluarga almarhum meminta agar masyarakat mendoakan agar arwahnya ditempatkan di sisi Allah SWT dan tidak menuntut bantuan materi.
Berita duka ini sekaligus menjadi panggilan bagi seluruh elemen masyarakat untuk meneruskan nilai-nilai kebersamaan, keadilan, dan kepedulian yang selama ini dijunjung tinggi oleh Ustaz Fahri Djafar. Semoga perjuangannya tetap menjadi inspirasi dalam membangun komunitas yang lebih harmonis dan berakhlak mulia.













